TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
- Para buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh Sejahtera Indonesia
(SBSI) 1992 menegaskan kepada Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, tidak
usah berlagak mendukung buruh karena hendak maju sebagai capres dari
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Sunarti, Ketua Umum
SBSI 1992, menegaskan pihaknya menilai prestasi Jokowi adalah nol besar
dalam menyelesaikan persoalan buruh di Jakarta. Meski upah layak hidup
dinaikkan dari Rp 1,5 juta menjadi Rp 2,2 juta, ternyata hal itu tidak
dilaksanakan oleh perusahaan tempat buruh bekerja.
"Percuma Jokowi
(jadi Presiden). Dulu dari Rp 1,5 juta menjadi Rp 2,2 juta, dia
(Jokowi) menyepakatinya, ternyata aturan tersebut tidak diikuti oleh
perusahaan. Kemudian dilakukan penangguhan. Hingga saat ini mana?" kata
Sunarti di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Kamis (1/5/2014).
Ia
menilai kebijakan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta tidak ada bedanya
dengan para penentu kebijakan pendahulunya yang hanya mengumbar janji
kemudian melupakannya begitu saja.
"Bagi saya dia sama juga. Apa
sih bedanya? Jangan merasa hebat, dalam pelaksanaannya nihil. Jangan
sok-sokan mendukung buruh," tuturnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar