Tampilkan postingan dengan label Endoskopi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Endoskopi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 September 2017

“Endoskopi” Saraf Terjepit (HNP)


Oleh: dr. Ayu Wulandari
KASUS nyeri tulang punggung (low back pain/LBP) tidak hanya diderita kaum lanjut usia, namun banyak diderita oleh pekerja kantor dan pekerja berat. Hal ini terjadi karena ketidaktahuan masyarakat mengenai pola hidup dan posisi tubuh yang salah seperti posisi yang salah saat mengangkat beban berat atau posisi menggunakan komputer yang tidak ergonomis.
Banyak orang menganggap fisioterapi merupakan jalan terbaik untuk mengatasi nyeri tersebut. Tanpa mereka pahami bahwa fisioterapi hanya untuk mengurangi rasa nyeri tetapi tidak mengatasi penyebab nyeri punggung. Salah satu penyebab nyeri tulang punggung adanya penjepitan saraf tulang belakang yang lebih dikenal oleh masyarakat saraf terjepit.
Untuk mengatasi hal tersebut dibutuhkan penanganan serius. Saat ini sudah ada penanganan saraf terjepit punggung atau HNP Lumbal melalui tindakan Percutaneus Endoscopic Lumbar Discectomy (PELD). Tindakan ini hanya membutuhkan waktu lebih kurang1 jam dalam pengerjaannya dan perawatan pasien yang singkat atau pada beberapa pasien dapat langsung pulang pada hari yang sama.
PELD merupakan tindakan pengambilan HNP yang akan membebaskan penekanan terhadap saraf pasien. Melalui suatu teknologi terbaru yaitu Endoscopy. Tindakan endoscopy ini akan menggunakan teropong dengan diameter 5-7mm.
Pada siapa PELD dilakukan?
Seseorang yang menderita nyeri punggung dalam waktu yang lama sehingga mengalami disabilitas (keterbatasan gerak) sebaiknya dilakukan tindakan PELD. Tindakan ini sering dilakukan untuk mengatasi penyakit HNP yang menekan saraf tulang belakang sehingga menimbulkan rasa nyeri punggung yang tak kunjung sembuh dengan obat-obatan atau fisioterapi.
Bagaimana Prosedur PELD dilakukan?
Prosedur yang pertama dilakukan yaitu pembiusan yang dilakukan secara lokal atau regional (setengah badan seperti operasi melahirkan). Lalu pasien akan diposisikan dalam posisi prone/telungkup.
Prosedur selanjutnya yaitu menentukan titik tindakan (panah merah) yang akan dilakukan tindakan PELD dengan dibantu dengan alat radiologi intraoperatif (c-arm). Lalu dikonfirmasi dengan zat kontras.
Setelah titik level ditentukan maka alat endoskopi dimasukkan (kotak kuning), dengan melihat ke layar monitor dilakukan tindakan discectomy yaitu pengangkatan sebagian diskus/tulang rawan yang menyebabkan penekanan ke saraf tulang belakang.
Pada akhir tindakan luka tindakan akan dijahit sebanyak 1 jahitan. Ukuran luka sebesar 5 - 7 mm.
Keuntungan PELD:
- Tindakan dilakukan dengan pembiusan lokal/regional
- Tidak ada otot, ligament, atau jaringan sekitarnya yang dirusak dan perdarahan minimal.
- Perawatan di rumah sakit singkat atau dapat langsung pulang setelah tindakan (one day care).
Dengan adanya teknik PELD di Indonesia diharapkan angka kelumpuhan akibat saraf terjepit akan berkurang dan kualitas hidup masyarakat Indonesia akan meningkat.
(Penulis merupakan Chief Medical Service di Neurosurgery Spine and Pain Clinic RS Adenin Adenan)

Endoskopi dan Minimnya Tenaga Ahli di Indonesia

Ilustrasi Endoskopi -
Bisnis.com, JAKARTA ­-Penyakit saluran cerna kini menjadi salah satu penyakit yang diderita banyak orang. Mereka umumnya menderita penyakit maag, batu kandung empedu, penyakit pankreas dan saluran empedu, penyakit saluran cerna baik atas maupun bawah, penyakit usus halus, dan lain-lain. Meningkatnya kasus-kasus tersebut disebabkan oleh pola makan yang salah dan rokok.
Untuk mendiagnosanya, selain melalui tanya-jawab dengan pasien dan pemeriksaan darah, dokter biasanya dibantu dengan peralatan endoskopi. Endoskopi merupakan salah satu peralatan kedokteran untuk memindai atau meneropong kelainan atau penyakit pada organ-organ pencernaan. Peralatan ini dilengkapi dengan kamera mikro yang dihubungkan dengan komputer.
Masalahnya, jumlah tenaga dokter yang dapat mengerjakan endoskopi relatif masih terbatas. Di Indonesia, diperkirakan sekitar 600 dokter saja. Namun dari jumlah tersebut, kurang dari 50 dokter spesialis penyakit dalam yang memiliki kemampuan mumpuni menggunakan peralatan tersebut yang lebih modern. Itu pun sebagian besar terpusat di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Medan, Makasar, Manado, dan Surabaya.
Kemampuan para dokter endoskopi di Indonesia sebenarnya sudah cukup mahir dan mampu bersaing dengan dokter-dokter dari negara-negara lain. Sebab, mereka telah menempuh pendidikan di sejumlah perguruan tinggi di luar negeri. Namun, dengan kemajuan peralatan endoskopi belakangan ini, para dokter endoskopi Indonesia perlu terus mengasah pengetahuannya, sehingga menjadi lebih mahir.
Atas dasar itulah Perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia (PEGI) akan menggelar workshop endoskopi. Workshop atau course ini merupakan bagian dari kalender acara outreach the Asia Pacific Society for Digestive Endoscopy (APSDE) tahunan yang kali ini diadakan di Jakarta, Indonesia. Sebanyak 40 dokter endoskopi diundang untuk memperdalam ilmunya.

Menurut Dr dr Ari Fahrial Syam SpPD KGEH, Ketua Umum PEGI, course yang berlangsung selama 5 hari (11-15 September 2017), juga akan menghadirkan beberapa ahli endoskopi dari luar negeri, antara lain Prof Seigo Kitano, MD, President APSDE, dan Prof Hisao Tajiri, MD, President Japanese Gastroenterological Endoscopy Society. Keduanya dari Jepang.
Selain itu juga ada dua ahli endoskopi dari Jepang yang memberikan kuliah tamu, yaitu Prof. Kazuhisa Okamoto, MD, Prof Mitsuhiro Kidadari dari Fakultas Kedokteran Universitas Kitasato, dan Prof. Eiji Umegaki, MD, dari Departemen Gastroenterologi, Kobe University School of Medicine. Di situ, Okamoto dan Umegaki akan tampil dalam sesi hands-on di hari pertama.
Tim ahli dari Jepang itu akan mengajari para dokter spesialis penyakit dalam dalam sesi hands on dengan cara yang benar. Diharapkan dengan pelatihan selama 5 hari (11-15 September 2017) para dokter spesialis penyakit dalam yang terlibat dalam sesi pelatihan ini mampu melakukan tindakan endoskopi tingkat lanjut (advanced endoscopy).
Dokter Ari mengatakan untuk kawasan Asia, Vietnam dan Indonesia mendapatkan kesempatan pelatihan langsung (hands on) dari para ahli endoskopi saluran cerna dari Jepang. “Untuk pelatihan di Jakarta dipimpin oleh tim dari Kobe University School of Medicine,” ujarnya kepada wartawan dalam jumpa pers yang digelar di Ruang Kuliah Penyakit Dalam, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Tentu saja course itu diselenggarakan dengan memberikan manfaat kepada peserta. “Course tersebut diselenggarakan dengan tujuan agar para peserta dapat meningkatkan kemampuan dalam menggunakan endoskopi, sehingga dapat menegakkan diagnosa secara lebih akurat,” ujarnya.

Dengan demikian pula ini akan membawa implikasi terhadap pasien. Ini karena dokter yang ikut di acara itu berasal dari berbagai daerah. Dokter akan menerapkan ilmu yang baru didapatnya itu dalam memeriksa pasien di berbagai daerah. “Sehingga terjadi pemerataan pelayanan kesehatan. Pasien tak perlu ke Jakarta untuk memeriksakan penyakit sistem pencernaannya,” imbuh Dokter Ari Fahrial Syam.
Pendidikan semacam itu sebenarnya bukan kali ini saja dilakukan oleh PEGI kepada para anggotanya. PEGI dalam beberapa kesempatan mengirimkan sejumlah dokter spesialis penyakit dalam yang ahli dalam endoskopi. Dokter Ari bilang sebanyak dua dokter dikirim ke beberapa negara secara reguler, seperti Jepang, Korea Selatan, India, dan Vietnam.
India dipilih karena memiliki kasus gangguan pencernaan yang banyak, sedangkan Vietnam dipilih sebagai tempat pelatihan. Sedangkan Korea Selatan dan Jepang dijadikan rujukan karena memiliki ilmu dan teknologi endoskopi yang lebih maju. “Ahli-ahlinya juga cukup banyak,” ujar Dokter Ari.
Sebenarnya, peralatan teknologi endoskopi yang terdapat di Indonesia sudah maju. Beberapa rumah sakit sudah memiliki ERCP (endoscopic retrograde cholangiopancreatography), endoskopi ultrasound, entroskopi untuk melihat usus halus, dan intra ductal ultrasound untuk memindai batu empedu. Ada juga manometri untuk meneropong tekanan dalam lambung dan kerongkongan yang biasa terjadi pada penderita penyakit maag dan GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).
Tetapi tidak semua rumah sakit yang memiliki fasilitas tersebut. Ambil contoh peralatan untuk ERCP dimiliki Rumah Sakit (RS) Umum Pusat Cipto Mangunkusumo (Jakarta) dan RS Kariadi (Semarang), dan rumah sakit swasta di Bandung dan Surabaya. “Ada dokter endoskopi di suatu rumah sakit tetapi rumah sakit itu tidak memiliki peralatan endoskopi yang canggih,” tutur Ari. Begitu pun sebaliknya.Maka, ia menganggap course yang diselenggarakan PEGI-APSDE bermanfaat bagi peserta.
Sementara itu Prof Hisao Tajiri (President Japanese Gastroenterological Endoscopy Society/JGES) menanggapi dengan mengatakan bahwa pelatihan endoskopi saluran cerna tingkat lanjut yang diberikan tim ahli dari Jepang iniini merupakan bentuk dukungan bagi PEGI. “Pelatihan hands on ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dokter spesialis penyakit dalam terkait advanced endoscopy di regional, termasuk Indonesia,” ujarnya.
Di Jepang jumlah dokter ahli endoskopi memadai jika dibandingkan dengan jumlah penduduk di sana. Menurut Tajiri, di negeri Sakura itu terdapat sekitar 30.000 ahli endoskopi. Adapun jumlah penduduk Jepang sekitar 127 juta jiwa (data tahun 2016). Bandingkan dengan Indonesia yang berpenduduk 280 juta tapi hanya memiliki 600 dokter endoskopi.
Pembicara lain dalam temu media itu adalah Prof Seigo Kitano (President Asia Pacific Society of Digestive Endoscopy/APSDE). Ia mengatakan bahwa pada saat ini terdapat 20 negara yang menjadi anggota APSDE. “Indonesia merupakan salah satu negara yang penting dan menjadi prioritas pelatihan endoskopi saluran cerna tingkat lanjut karena jumlah populasi yang besar namun dokter yang menguasai advanced endoscopy masih terbilang sedikit,” katanya.
Selain membahas soal soal pelatihan, para pembicara juga berbicara soal kejadian kanker. Dokter Ari menyinggung, di Indonesia angka kejadian kanker saluran cerna (misal kanker pankreas dan kanker kolorektal) terus meningkat jumlahnya. Peningkatan kasus kejadian kanker itu, antara lain, disebabkan oleh gaya hidup masyarakat, misalnya suka mengonsumsi makanan berlemak, kurang makan sayur/serat, kurang gerak, juga obesitas.

Kasus lain yang juga banyak terdapat di masyarakat adalah meningkatnya kejadian batu di saluran empedu. “Nah, dengan pelatihan endoskopi saluran cerna tingkat lanjut, maka dokter di Indonesia memiliki kemampuan untuk mengeluarkan batu dari saluran empedu atau mengambil sampel jaringan di pankreas,” ujarnya.
Di Indonesia, angka kejadian kanker kolorektal terbilang tinggi. Ini berbeda dengan kasus kanker di Jepang. Di Jepang, kata Prof Hisao Tajiri, MD, President Japanese Gastroenterological Endoscopy Society yang ikut dalam jumpa pers itu, kasus yang paling banyak adalah kanker lambung. Selain karena pola makan yang salah, juga disebabkan oleh bakteri Helicobacter pylori (H. Pylori).
Hal yang perlu mendapat sorotan adalah, kuman Helicobacter pylori di Jepang banyak diidap oleh orang Jepang. “Kuman ini dapat menyebabkan kanker saluran cerna (gastric cancer) jika tak diobati dengan tuntas,” katanya. Tajiri menekankan kuman H pylori merupakan faktor risiko kanker saluran cerna di Jepang. Kanker usus besar di Jepang termasuk tinggi, antara lain karena adanya perubahan pola makan.
H. Pylori kini juga menjadi perhatian peneliti Indonesia. Dokter Ari yang memimpin studi tersebut juga menemukan ada beberapa faktor yang menyebabkan kuman ini bisa tumbuh di daerah lain, tapi tidak di tempat lain. Selama 3 tahun, Perhimpunan Gastroenterologi Indonesia, khususnya kelompok studi H. Pylori Indonesia, melakukan studi di 20 RS di Indonesia.
Dari hasil penelitian terhadap 1.100 pasien, Dokter Ari bersama Prof Yoshio Yamaoka dari Universitas Iota, Jepang. Menemukan prevalensi H pylori di Indonesia sebesar 22,1%. Satu dari 5 pasien dispepsia (sakit maag) berpotensi mengalami infeksi bakteri tadi. “Suku bangsa dan sumber air menjadi salah satu faktor risiko infeksi kuman itu,” katanya.
Tag : asam lambung

SAKIT MAAG MEMAKSAKU UNTUK MELAKUKAN ENDOSKOPI


Apakah aku punya pengalaman sakit  yang membuat kondisi tubuh drop?. Jawabannya ya, aku  pernah merasakannya, saat itu aku sangat sedih bahkan hampir saja resign dari pekerjaan  karena ada perasaan bersalah hampir 3 bulan bolak balik cuti, seminggu masuk kerja besok libur bahkan berminggu-minggu izin cuti karena sakit yang nggak kunjung sembuh. Juga  sempat terbayang akan dicerai suami karena takut gak bisa mengurusi suami hahahha, jadi tuh selama sakit bawaan parno pikiran macam-macam kemana-mana. Bagaimana tidak aku jatuh sakit  ketika baru menikah beberapa bulan dalam hitungan delapan bulan tiga kali sakit , dan saat aku sakit suami yang gantiin nyuci piring dan nyuci baju ku. Ya aku pikir mana ada laki-laki yang betah dengan perempuan penyakitan seperti aku.
Emang sakit apa sih??
Aku waktu itu tahunya aku terserang maag,  sebenarnya penyakit ini sudah lama menetap  dan sering  bolak balik kambuh. Biasanya jika maag kambuh aku cukup makan obat maag yang dijual bebas   dan minum perasan kunyit, perasaan  tidak enak seperti  perih, mual, bahkan muntah akan hilang dalam hitungan hari. Tapi kali ini lebih sebatas itu, dalam beberapa bulan maag selalu kambuh. Baru dua minggu kerja  besok sakit lagi dan badan udah berasa macam-macam. 

Ah.. cuma maag kok manja segitu banget!
Jangan ini dibilang “cuma” karena yang aku rasakan itu beda, bukan sekedar perih dan mual. Mungkin disini perlu aku rinci, agar teman-teman yang juga tahu paling tidak menambah pengetahuan tentang sakit lambung, barangkali ada saudara atau teman yang memiliki gejala yang sama. 
Adapun gejala yang aku rasakan adalah  lemas, kaki dan tubuh terasa lemas untuk melangkahkan kaki saja terasa berat.Kepala sempoyongan dan vertigo. Saat maag kambuh aku sempoyongan bahkan vertigo ketika menunduk , sujud,dan  berbaring akan  terasa sensasi berputar hingga terasa ingin muntah.Sesak Nafas, tarikan nafasku  pendek – pendek dan terasa sesak belakangan aku tau itu akibat naiknya asam lambung dan menekan paru-paru. Badanku berasa gemetaran, tremor, jadi kalau duduk kaki dan tangan terasa gemetaran, keringat dingin pun mengalir .Selera makan tidak ada. Susah tidur baik malam ataupun siang, jadi  saat itu aku kurang istirahat .  Jantung berasa berdebar seperti terserang penyakit jantung, padahal tidak.
Intinya gak nyaman banget, bahkan aku pernah berpindah-pindah tempat tidur cuma ingin mencari  rasa nyaman. Pernah disebuah klinik tiba-tiba nafas ku sesak serasa tak bisa bernafas badan terasa kesemutan semua, perawat bilang jantung dan detak nadi normal. Gara-gara sakit ini aku pernah menggilir setengah lusin dokter dan klinik di daerah aku, jadi tiga hari gak sembuh aku pindah lagi ke dokter lain . Terus seorang dokter bilang bahwa itu nggak bagus, justru itu merugikan karena tubuh seperti  bahan percobaan untuk obat-obatan dan tentunya tak sehat untuk lambung bahkan memperparah.
Hasil Endoskopi terlihat lambung ku dipenuhi buih asam lambung
Karena penasaran dan ingin memperoleh kejelasan  sebenarnya aku ini mengidap penyakit apa?. Akhirnya aku dan keluarga memutuskan berobat ke RS. Santa Maria di Pekanbaru menemui seorang dokter pspesialis penyakit dalam untuk memastikan bagaimana keadaan lambung sebenarnya.  Akhirnya diambil tindakan endoskopi, dan endoskopi sendiri waktu itu dilakukan di RS Awal Bross karena saat itu di Santa Maria sedang penuh. 
Endoskopi adalah tindakan  untuk memeriksa saluran pencernaan pasien untuk memastikan keadaan lambung atau usus,  menggunakan endoskop yaitu semacam tabung lentur fleksibel  dengan kamera bercahaya diujungnya untuk memotret lambung,  cahaya / sinar untuk menerangi  suasana lambung atau usus yang gelap . Jika boleh aku terangkan, jadi alat endoskop itu seperti kabel  berbentuk tabung  besarnya kalau tidak salah sebesar jari kelingking, nah itu dimasukkan kedalam lambung melalui mulut. Sebelumnya aku diminta membuka mulut  kemudian bagian kerongkongan disemprot dengan cairan semacam bius, dan membuat bagian kerongkong kebas dan tidak berasa apa-apa setelah itu barulah kemudian tabung endoskop dimasukkan ke mulut, diulur masuk hingga lambung dan usus  bagian atas (jika endoskop pencernaan bagian bawah biasanya melalui anus). Rasanya jangan ditanya, mual pasti karena walaupun di bikin kebas tetap aja berasa seperti menelan ular dan meliuk-liuk diperut (kebayangkan enegnya bagaimana?).
Dari hasil Endoskopi diketahui jika aku terkena radang lambung dan asam lambung yang tinggi bahasa kedokterannya Dispepsia dan sama sekali tidak ada tukak lambung. Selain itu diketahui bentuk lambungku  yang tidak normal yang memperlambat makanan masuk ke usus , sehingga memicu lambung untk mengeluarkan asam terus menerus. Daging lambung juga diambil sedikit saat endoskopi untuk di teliti di laboratorim apakah ada bakteri, dan syukurnya tidak ada bakteri. Sakit maag katanya  juga disebabkan oleh  bakteri helicobacter (H.Pylori). Bakteri ini  dapat mengiritasi lambung  dan menyebabkan luka, karena itulah daging atau kulit lambungku di teliti. Jika terdapat bakteri tentu ada penambahan obat untuk mematikan bakteri, jadi katanya percuma kalau bakterinya gak dibunuh. Tapi untunglah dilambungku saat itu tak ada bakterinya, dan semoga sekarang dan selamanya tak ada makhluk itu diperut.
*(ilustrasi)sumber foto wwwdotgastroenterologifkuidotcom*
Aku bersyukur dengan penjelasan ini, paling tidak tak ada pikiran buruk  tentang penyakit yang aku idap. Aku hanya dianjurkan untuk makan obat teratur, jangan stress karena dapat memicu asam lambung, hidup dibawa happy saja, makan teratur , antara jam makan dibiasakan ngemil seperti biskuit atau crackers untuk menetralisir asam lambung yang berlebihan , makan sedikit-sedikit tapi sering  (small frequent feeding). Dan aku mencoba menerapkan semuanya dan berangsur-angsur pulih, selain itu aku disarankan mengonsumsi lidah buaya karena sangat bermanfaat untuk lambung, dan mengonsumsi vitamin, karena tubuhku saat itu lemah banget males makan sehingga kekurangan vitamin, makanya terasa lemas dan tidak bersemangat.
Apakah sekarang sudah sembuh?
Jika telah  terserang  suatu penyakit biasanya untuk sembuh total itu sangat sulit,  tapi kita dianjurkan untuk  menghindari pencetus timbulnya penyakit itu untuk  mencegah agar penyakit  tidak kambuh parah.  Untuk kasus penyakit  yang aku alami aku dianjurkan tidak boleh telat makan, jangan makan-makan yang banyak mengandung asam atau minuman yang mengandung gas, tidak terlalu sering mengkonsumsi mi instan, bakso, mi ayam  karena bumbunya banyak mengandung MSG,kopi sangat tidak dianjurkan. Tidak boleh terlalu lelah, apalagi sampai bagadang karena kelelahan dan stress memicu produksi asam lambung secara berlebihan.
--
Agar selalu sehat kita memang dianjurkan untuk menjaga pola makan secara baik, kadang karena terlalu sibuk dan keasyikan kerja jadi suka lupa makan atau makan terburu-buru seadanya asal kenyang. Padahal tubuh butuh istirahat, pikiran butuh ketenangan, dan organ-organ tubuh perlu asupan  vitamin dan mineral untuk pemeliharaan kesehatan dan memberikan daya tahan tubuh yang optimal dari serangan penyakit, bakteri bahkan virus.
Biasanya sebelum terserang penyakit sebagian orang akan menyepelekan ini semua, suka makan yang instan-instan, begadang, kurang istirahat, baru sadar jika tubuh sudah memberikan respon yang tidak baik, memberikan sinyal bahwa tubuh tidak sehat dan butuh pengobatan dengan biaya yang tak sedikit
Penyakit bermula dari kebiasaan yang buruk. Seperti yang aku alami  karena rutinitas yang sibuk dan terkadang sok sibuk, membuatku malas makan ujung-ujungnya kondisi tubuh melemah jadi gak semangat malah jadi gak nafsu makan beneran karena terserang maag.  Keadaan itu sedikit membuat ku trauma, jadi walaupun lagi sibuk aku sempatkan  makan dengan tenang dan istirahat. Jika malas makan, atau makan cuma sedikit biasanya aku meminum vitamin setelah makan ( jika dirasa kurang vit dan kurang makan sayur), walaupun dari nasi dan lauk-pauk yang kita makan sudah ada tapi vitaminnya kurang mencukupi . Vitamin dan mineral sangat diperlukan tubuh untuk memproduksi sel darah merah, yang juga membawa oksigen keseluruh tubuh, sehingga membuat tubuh lebih segar dan bersemangat, jadi gak ada lagi alasan males-malesan atau  rasa tak semangat karena tubuh kurang vit.
Untuk Vitamin kita semua udah paham dan tahu banyak, mulai vitamin A, B,C,D  dan segala efek yang ditimbulkan jika kekurangan  dan  sumber untuk memeperolehnya. Sedangkan untuk mineral kebanyakan kita belum begitu faham, taunya ya cuma air mineral :D, kandungan air mineral itu apa?? kita gak pernah tahu (korban iklan..hehehehe).Nah ternyata perasaan tidak enak pada perasaan (baper :D),stress, depresi itu dipengaruhi kecukupan mineral. Harus banyak makan nih hahahaha, biar gak kambuh lagi, kadang maag emang suka kambuh kalau lagi stress :)

Beberapa waktu lalu teman ada teman yang inbox di FB nanya, kalau aku pernah ga BAB yang warnanya berubah jadi coklat? aku jawab sih gak ada, kalo kaya gitu sih dicurigai ada pendarahan di lambung atau di usus. Dan ada juga teman yang HB nya sempat turun dan mesti tranfusi darah karena ada pendarahan dilambung katanya sempat muntah ada darahnya dan BAB juga ada darah. Tapi untuk pastinya menurutku lebih baik di endoskopi ya, biar jelas apakah ada luka atau ada bakteri didalamnya trus tindakan dan obat yang diberikan juga tepat.

Teman-teman  pernah punya pengalaman sakit maag dan diendoskopi gak ya..??? bagi2 ceritanya ya.., mohon doa juga buat aku biar sehat terus..dan gak mau di endoskopi lagi he2, teman-teman sehat semua juga ya..aamiin..., Ya.. namanya ibu rumah tangga yang juga  menyisihkan waktu untuk kerja diluar emang harus sehat , sehat juga bikin kita happy , keluarga happy, dan semangat buat tetap cantik berapapun usia kita dalam menjajaki hidup.

Jumat, 15 September 2017

Apa itu Endoskopi: Gambaran Umum, Keuntungan, dan Hasil yang Diharapkan

Pengertian dan Gambaran UmumHasil gambar untuk teknologi endoskopiEndoskopi adalah tindakan non bedah yang digunakan untuk memeriksa saluran pencernaan dari pasien dan, dalam beberapa kasus, disertai pengobatan, jika sudah memungkinkan. Tindakan ini menggunakan endoskop, tabung lentur (fleksibel) dengan kamera yang melekat pada salah satu ujungnya. Kamera tersebut mengambil gambar bagian dalam dari saluran pencernaan, memungkinkan dokter yang memeriksa untuk melihat gambar tersebut melalui layar televisi yang terhubung dengan endoskop.

Jenis-jenis Endoskopi

Terdapat banyak cara melakukan endoskopi. Beberapa diantaranya adalah:
  • Endoskopi atas – endoskopi atas dilakukan dengan cara memasukkan endoskop melalui mulut, tenggorokan, dan turun ke kerongkongan. Cara ini digunakan ketika dokter perlu memeriksa kerongkongan, lambung, dan usus kecil, khususnya di bagian atas.
  • Sigmoidoskopi atau kolonoskopi – adalah dua tindakan serupa yang memasukkan endoskop melalui rektum menuju usus besar atau kolon. Cara ini dilakukan ketika diperkirakan terjadi permasalahan dengan usus besar.
  • Endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP) – Cara ini adalah jenis endoskopi khusus yang memeriksa kandung empedu dan pankreas. Cara ini juga digunakan untuk memeriksa bagian tubuh yang berada di sekitar tempat yang sama. ERCP juga terkadang digunakan untuk menghancurkan batu empedu yang terdapat di saluran empedu.
  • Endoscopic ultrasound (EUS) – Cara ini menggabungkan endoskopi dengan teknologi gelombang ultrasound untuk memperoleh informasi yang berguna terhadap keadaan dan kesehatan saluran pencernaan.
  • Biopsi (pengambilan contoh jaringan tubuh) – Dokter Anda juga mungkin menggunakan endoskop selama tindakan endoskopi untuk memperoleh contoh jaringan dari saluran pencernaan. Alat khusus akan digunakan untuk mengangkat jaringan dari daerah yang terinfeksi. Contoh jaringan ini kemudian akan dianalisis untuk menentukan apakah terdapat penyakit tertentu.
  • Perawatan – selama tindakan endoskopi, jika dokter Anda menemukan beberapa masalah, tindakan ini pula dapat dimanfaatkan untuk melakukan perawatan. Sebagai contoh, jika tindakan ini menunjukkan adanya pendarahan di saluran pencernaan, dokter Anda dapat memasukkan alat lain melalui endoskop untuk menghentikan pendarahan tersebut. Begitu juga jika ditemukan polip dan pertumbuhan lain, endoskop dapat digunakan untuk membersihkannya.

Kapan Endoskopi digunakan?

Endoskopi utamanya digunakan dalam mendiagnosis dan merawat gangguan pencernaan. Penyakit yang memengaruhi saluran pencernaan biasanya memengaruhi beberapa organ lainnya, dimulai dari mulut sampai ke anus.
Endoskopi biasanya digunakan untuk memeriksa penyakit-penyakit pencernaan, antara lain:
  • Radang usus buntu
  • Obstruksi usus (penyumbatan usus)
  • Peradangan saluran pencernaan
  • Batu empedu
  • Radang lambung
  • Radang lambung dan usus kecil
  • Wasir
  • Intoleransi laktosa
  • Ulkus peptikum (luka pada lambung atau usus 12 jari)
  • Kolitis ulserativa (peradangan pada usus besar)
  • Anemia
  • Pyrosis (sensasi terbakar pada ulu hati/dada)
  • Mulas
  • Penyakit celiac (Intoleransi pada gluten)
  • Kanker saluran pencernaan, seperti kanker usus besar, kanker kandung empedu, dan kanker lambung

Endoskopi digunakan untuk melihat gejala-gejala atau adanya:
  • Pendarahan saluran pencernaan bagian atas
  • Peradangan dalam saluran pencernaan/usus
  • Polip atau pertumbuhan abnormal lain dalam usus besar

Selain kegunaannya dalam pengobatan saluran pencernaan bagian atas, endoskopi juga digunakan sebagai peralatan tambahan untuk mendiagnosis atau memperkuat diagnosis yang berkaitan dengan beberapa masalah kesehatan di sistem tubuh lainnya. Berikut ini adalah beberapa contoh dari fungsi lain endoskopi:
  • Rhinoskopi – pemeriksaan pada hidung
  • Bronkoskopi – pemeriksaan pada saluran pernapasan bagian bawah
  • Otoskopi – pemeriksaan pada telinga
  • Ginoskopi – pemeriksaan pada sistem reproduksi wanita, termasuk pada mulut rahim, kandungan, dan tuba falopii
  • Selama kehamilan – untuk memeriksa ketuban atau janin
  • Bedah tulang (ortopedi) – melibatkan pelepasan endoskopi pada terowongan karpal di pergelangan tangan dan rekonstruksi sendi lutut.

Gejala utama

Para dokter biasanya menyarankan endoskopi ketika pasien mengalami gejala-gejala berikut ini:
  • Nyeri perut
  • Kesulitan menelan
  • Perubahan dalam buang air besar
  • Konstipasi/sembelit berkepanjangan/kronis
  • Diare kronis
  • Gas
  • Kembung
  • Mual
  • Muntah
  • Buang-buang air besar

Endosokopi adalah tindakan diagnosis dan perawatan yang aman serta umum digunakan. Endoskopi memiliki tingkat keberhasilan tinggi serta sedikit risiko dan kemungkinan komplikasi, termasuk:
  • Perforasi (pelubangan) dinding usus
  • Infeksi
  • Pendarahan
  • Efek negatif yang diakibatkan oleh obat penenang.

Dokter Anda akan mendiskusikan tindakan tersebut secara rinci sehingga Anda dapat mengetahui dan merasa tenang untuk menjalani endoskopi.

Siapa yang Anda Temui

Jika Anda mengalami beberapa gejala sehubungan dengan perut, daerah perut, dan buang air besar, Anda dapat menemui dokter keluarga atau spesialis bagian dalam untuk pemeriksaan. Jika penyebab lain tidak memungkinkan, dokter Anda akan menyarankan endoskopi atau sigmoidoskopi, jika memang dibutuhkan.
Jika Anda membutuhkan ERCP atau EUS, atau jika dokter keluarga Anda mencurigai adanya permasalahan yang lebih serius atau kronis, mereka mungkin akan merujuk Anda kepada spesialis pencernaan atau ahli bedah saluran pencernaan bagian atas. Mereka adalah dokter kesehatan yang memiliki spesialisasi dalam mendiagnosis dan merawat penyakit-penyakit yang berhubungan dengan saluran pencernaan bagian atas atau penyakit-penyakit yang berhubungan dengan sistem pencernaan. Dokter spesialis pencernaan dituntut untuk mengikuti pelatihan khusus tentang endoskopi karena alat ini sangat penting untuk digunakan dalam spesialisasi mereka.

Persiapan dan Penyembuhan

Jika Anda dijadwalkan untuk melakukan endoskopi, Anda harus melakukan beberapa persiapan, sebagai berikut:
  • Menjaga pola makan – Anda tidak diperkenankan untuk makan selama 6-8 jam sebelum tindakan dilakukan. Hal ini dikarenakan untuk mendukung pemeriksaan usus besar, seluruh kotoran harus dibersihkan beberapa jam sebelum tindakan dilakukan. Untuk itu, Anda akan diberikan obat pencahar pada hari sebelum Anda dijadwalkan untuk endoskopi.
  • Penenang – Anda akan diberikan obat penenang agar Anda tetap merasa nyaman selama tindakan. Obat ini akan membuat Anda tenang dan tertidur. Obat penenang ini akan membuat Anda berada dalam kondisi ini selama satu jam, selama tindakan dilakukan. Setelah terbangun, Anda akan mengingat sedikit atau bahkan tidak sama sekali bahwa Anda telah melakukan endoskopi.
  • Pembiusan umum – Endoskopi biasanya dilakukan dengan pembiusan. Beberapa contoh kasus tersebut adalah ketika pasien masih sangat belia dan ketika rencana tindakan melibatkan tindakan yang lebih rumit.

Setelah endoskopi, pengaruh dari obat bius atau obat penenang akan menghilang secara bertahap. Anda akan diminta untuk tetap tinggal di rumah sakit untuk tinjauan dan pemantauan lebih lanjut. Rasa tidak nyaman yang tertinggal seperti kembung atau sakit ringan pada tenggorokan akan hilang dengan sendirinya pada beberapa hari pertama setelah tindakan dilakukan. Dalam beberapa jam, Anda akan diperbolehkan untuk makan dan minum, dan dapat keluar dari rumah sakit namun tetap beristirahat. Bagaimana pun juga, Anda tidak akan diperkenankan untuk mengemudi pada hari yang sama karena Anda masih berada di bawah pengaruh obat bius atau obat penenang. Siapa yang akan mengemudikan Anda kembali ke rumah harus direncanakan sebelum tindakan dilaksanakan.


Referensi:
  • Gastrointestinal Endoscopy: http://www.giejournal.org
  • World Journal of Gastrointestinal Endoscopy
  • Surgical Endoscopy, Official Journal of the Society of American Gastrointestinal and Endoscopic Surgeons (SAGES) and European Association for Endoscopic Surgery (EAES)
  • Endoscopy, Journees Francophones d’Hepato-Gastroenterologie et d’Oncologie Digestive (JFHOD)

Kamis, 14 September 2017

Transfer Teknologi Endoskopi Antara Jepang dan Indonesia

Transfer Teknologi Endoskopi Antara Jepang dan Indonesia
Istimewa
Dari kiri Prof Hisao Tajiri (President Japanese Gastroenterological Endoscopy Society/JGES), Prof Seigo Kitano (President Asia Pacific Society of Digestive Endoscopy/APSDE), Dr.dr. Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP (Ketua Umum PB PEGI) dan Prof Eiji Umegaki, MD dari Department of Gastroenterology, Kobe University School of Medicine. 
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyakit saluran cerna kini menjadi salah satu penyakit yang diderita banyak orang. Mereka umumnya menderita penyakit maag, batu kandung empedu, penyakit pankreas dan saluran empedu, penyakit saluran cerna baik atas maupun bawah, penyakit usus halus, dan lain-lain.
Meningkatnya kasus-kasus tersebut disebabkan oleh pola makan yang salah dan rokok.
Untuk mendiagnosanya, selain melalui tanya-jawab dengan pasien dan pemeriksaan darah, dokter biasanya dibantu dengan peralatan endoskopi.
Endoskopi merupakan salah satu peralatan kedokteran untuk memindai atau meneropong kelainan atau penyakit pada organ-organ pencernaan.
Peralatan ini dilengkapi dengan kamera mikro yang dihubungkan dengan komputer.
Masalahnya, jumlah tenaga dokter yang dapat mengerjakan endoskopi relatif masih terbatas. Di Indonesia, diperkirakan sekitar 600 dokter saja.
Baca: Dampak Saluran Pencernaan Rusak, Tessy Masih Kerap Rasakan Sakit
Namun dari jumlah tersebut, kurang dari 50 dokter spesialis penyakit dalam yang memiliki kemampuan mumpuni menggunakan peralatan tersebut yang lebih modern.
Itu pun sebagian besar terpusat di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Medan, Makasar, Manado, dan Surabaya.
Kemampuan para dokter endoskopi di Indonesia sebenarnya sudah cukup mahir dan mampu bersaing dengan dokter-dokter dari negara-negara lain.