Tampilkan postingan dengan label Pilgub Jabar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pilgub Jabar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Februari 2018

PDI-P dan Gerindra Keteteran di Pilkada Jabar..."

Estu Suryowati
Kompas.com - 05/02/2018, 20:28 WIB
Bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat TB Hasanuddin (kiri) dan Anton Charliyan (kanan) mengepalkan tangan saat pengumuman cagub-cawagub PDIP di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (7/1). PDIP resmi mengumumkan para cagub dan cawagub enam provinsi yakni provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur pada Pilkada 2018. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww/18.
Bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat TB Hasanuddin (kiri) dan Anton Charliyan (kanan) mengepalkan tangan saat pengumuman cagub-cawagub PDIP di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (7/1). PDIP resmi mengumumkan para cagub dan cawagub enam provinsi yakni provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur pada Pilkada 2018. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww/18.(SIGID KURNIAWAN)
JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Philips J Vermonte melihat, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDI-P) dan Partai Gerindra cukup keteteran di Pilkada Jawa Barat (Jabar).
Pasalnya, berdasarkan survei Cyrus Network terbaru, suara calon pemilih mengelompok pada pasangan Ridwan Kamil-Uu R Ulum (45,9 persen) dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (40,9 persen).
"Sementara calon yang diusung PDI-P kecil sekali (perolehan suaranya), demikian juga calon yang diusung Gerindra," kata Philips dalam paparan survei opini publik Cyrus Network, Jakarta, Senin (5/2/2018).
Pasangan calon yang diusung PDI-P, yaitu TB Hasanuddin-Anton Charliyan, dan Gerindra, yakni Sudrajat-Ahmad Syaikhu, memiliki tingkat keterpilihan yang sangat rendah, masing-masing 2,5 persen dan 5 persen.


"Ini menurut saya ironi besar dua calon yang diusung dua parpol terbesar di Jabar," kata Philips.
Dia menambahkan, hasil survei tersebut setidaknya menunjukkan bahwa kedua parpol terlambat dalam mengusung pasangan calon atau kalah cepat dibandingkan partai-partai lainnya.
"Jadi, PDI-P dan Gerindra menurut saya mulai pilkada Jabar ini agak keteteran dari parpol lain. Akibatnya, PR berat sekali untuk calon yang diusung PDI-P dan Gerindra," kata Philips.
Selain itu, hasil tabulasi silang antara elektabilitas dan pilihan partai politik menunjukkan bahwa soliditas pemilih PDI-P dan pemilih Gerindra sangat rendah dibanding partai-partai pengusung Ridwan Kamil-Ulum.


"Pemilih PDI-P dan Gerindra malah memilih paslon lain yang tidak diusung PDI-P dan Gerindra," kata Philips.
"Ini menurut saya PR besar  karena partainya kelihatan tidak siap menyiapkan calonnya untuk pilkada Jabar yang demikian penting," lanjut Philips.
Meski demikian, dia melihat masih ada waktu lima bulan lagi untuk mengerek tingkat keterpilihan. Apalagi, tingkat kemantapan responden dalam survei opini publik ini baru 30,3 persen.
"69,7 persen bilang pilihannya masih bisa berubah. Masih goyah. Dan pemilih Jabar adalah pemilih yang paling mudah pindah ke lain hati," katanya.
Dia menyebutkan, pemilihan legislatif 1999 Jabar dimenangkan oleh PDI-P, tapi pada 2004 dimenangkan oleh Golkar. Pada 2009, Jabar dimenangkan oleh Demokrat, dan pada 2014 dimenangkan oleh Gerindra.
Sudrajat-Syaikhu maju dengan dukungan tiga partai politik, yaitu, Gerindra, PKS dan PAN.(Kompas TV)

PenulisEstu Suryowati
EditorSabrina Asril

Sabtu, 25 November 2017

Pilgub Jabar 2018: Prabowo Dukung Burhanuddin Abdullah

Pilgub Jabar 2018: Prabowo Dukung Burhanuddin Abdullah
Prabowo Subianto. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso.
"Pak Prabowo mengusulkan Pak Burhanuddin Abdullah," kata Mulyadi
Prabowo ingin Gerindra mengusung kadernya sendiri di Pilgub Jabar 2018.
Reporter: M. Ahsan Ridhoi, 24 November, 2017 
tirto.id - Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto mengusulkan nama mantan Direktur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah sebagai salah satu calon untuk diusung Gerindra menjadi Cagub Jabar 2018.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Gerindra Jabar Mulyadi untuk menanggapi kabar dukungan PAN, Demokrat dan PKS pada Deddy Mizwar (Demiz) dan Ahmad Syaikhu sebagai pasangan Cagub dan Cawagub Jabar 2018.

"Pak Prabowo mengusulkan Pak Burhanuddin Abdullah. Lalu hasil rapat ketua-ketua cabang minggu lalu juga mengusulkan nama saya, Mayjend (Purn) Sudrajat, dan Agung Suryamal," kata Mulyadi saat dihubungi Tirto, Jumat, (24/11/2017).

Munculnya empat nama tersebut, kata dia, sesuai dengan parameter yang diinginkan oleh Prabowo untuk diusung menjadi Cagub Jabar 2018, yakni harus kader Gerindra sendiri.

"Nanti Pak Prabowo yang akan menentukan siapa yang diusung. Kami hanya mengusulkan. Belum tentu usulan Pak Prabowo sendiri," kata Mulyadi.

Untuk itu, ia menyatakan bahwa Gerindra tak mempermasalahkan dukungan tiga partai tersebut pada Deddy Mizwar. Sebab, Gerindra Jabar telah menarik dukungan pada Deddy Mizwar sejak awal lantaran belum memenuhi parameter yang diminta Prabowo.

"Tapi kami hargai dan apresiasi dukungan PAN, Demokrat, dan PKS," kata Mulyadi.

Mulyadi pun menyatakan tidak khawatir jika Gerindra tidak mendapat partai lain untuk berkoalisi. Sebab, menurutnya, dukungan hanya resmi ketika sudah ada rekomendasi dari DPP partai.

"Kan dukungan ke Demiz belum ada surat rekomendasi resmi. Anggap saja itu manuver Demiz untuk menarik simpati Demokrat, PAN, dan PKS. Toh semuanya masih menunggu Gerindra," kata Mulyadi.

Ia juga menyatakan, bukan tidak mungkin Gerindra dan PKS akan kembali berkoalisi untuk mengusung pasangan baru selain Deddy Mizwar.

"Bisa jadi nanti kami dan PKS tetap berkoalisi. Di Pilkada DKI kan kami daftar juga H-1 dan menang," kata Mulyadi.

Sementara itu, Ketua DPP Bidang Humas PKS Mardani Ali Sera menyatakan Gerindra akan ikut bersama PKS, PAN, dan Demokrat mendukung Deddy Mizwar-Ahmad Syaikhu di Pilgub Jabar 2018.

"Insya Allah empat partai akan bersama. Gerindra dari awal mendukung," kata Mardani kepada Tirto, Jumat (24/11). Ia pun mengklaim telah berkomunikasi dengan DPP Gerindra terkait dukungan kepada Deddy Mizwar dan Ahmad Syaikhu.
"Dari dulu komunikasi. Bahwa dinamika itu wajar. Insya Allah tetap solid," kata Mardani.
Sebagai catatan, saat ini Burhanuddin Abdullah menjadi ketua Dewan Pakar DPP Gerindra sejak tahun 2011. Burhanuddin sendiri pernah tersangkut kasus korupsi penggunaan dana YPPI sebesar Rp100 Miliar.(tirto.id - san/ale)

Jumat, 27 Oktober 2017

Jelang Pilgub Jabar 2018, Inilah Komposisi Terbaru Koalisi Parpol dan Calon Gubernur

Jelang Pilgub Jabar 2018, Inilah Komposisi Terbaru Koalisi Parpol dan Calon Gubernur
Kolase Tribun Jabar
Ridwan Kamil, Deddy Mizwar, dan Dedi Mulyadi 
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Koalisi partai politik di Pilkada Jawa Barat berlangsung dinamis.
Dalam dua hari terakhir terjadi banyak perkembangan mengenai koalisi dan pengusungan calon untuk Pilgub Jawa Barat.
Tribun Jabar membuat ringkasan mengenai koalisi partai apa saja yang sudah memiliki keputusan yang pasti dan siapa tokohnya.
1. Ridwan Kamil - Koalisi PKB-PPP-Nasdem (21 Kursi)
Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, menjadi orang pertama yang mendapatkan tiket untuk maju di Pilgub Jabar setelah PPP ikut mengusung dirinya.
Sebelumnya PKB dan Partai Nasdem sudah terlebih dahulu mengusung sang Wali Kota Bandung.

Sekarang tugas Emil, sapaan Ridwan Kamil, adalah mencari siapa pasangan untuk Pilgub Jabar nanti.
Nama yang paling santer disebutkan adalah Bupati Tasikmalaya, Uu Ruzhanul Ulum, dari PPP.
Namun PKB dan Nasdem belum tentu menyetujuinya.
2. Deddy Mizwar - PKS-PAN (16 kursi)
Setelah terjadi keributan karena pencabutan dukungan dari Partai Gerindra untuk pengusungannya, Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar, bisa menarik napas lega karena PAN akhirnya bergabung untuk mengusung dirinya.
Walaupun sebenarnya PKS pun belum benar-benar pasti mengusung dirinya, karena partai tersebut lebih gencar mensosialisasikan Ahmad Syaikhu.
Namun, PKS mengatakan bahwa akan konsisten dengan kesepakatan awal untuk mengusung Deddy Mizwar-Ahmad Syaikhu.
3. Dedi Mulyadi yang makin tak tentu
Posisi Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, belumlah pasti.
Di antara tiga kandidat besar, Dedi Mulyadi berada di posisi paling tidak menguntungkan.
Karena partainya, Partai Golkar, masih enggan mengeluarkan surat rekomendasi untuk dirinya ketika kandidat lain sudah mendapatkan dukungan dari partai.

Meskipun seperti itu, Dedi Mulyadi bukan berarti tanpa rencana cadangan.
Banyak isu yang mengatakan jika Partai Golkar tidak mengeluarkan surat untuk Dedi Mulyadi, maka sang Bupati Purwakarta akan meloncat ke PDIP.
4. Poros Baru yang mulai tercerai berai
Pada beberapa minggu lalu, PAN, PPP, Partai Demokrat dan Partai Gerindra setuju untuk membentuk poros baru di Pilgub Jabar 2018.
Namun dengan PPP dan PAN yang menyebrang mengusung kandidat lain, maka poros baru sudah dipastikan tercerai berai, hanya menyisakan Partai Demokrat dan Partai Gerindra. (Ferry Fadhlurrahman)

Sabtu, 02 September 2017

PDIP Akui Kian Jauh dengan Ridwan Kamil di Pilgub Jabar 2018

PDIP Akui Kian Jauh dengan Ridwan Kamil di Pilgub Jabar 2018 PDIP mengakui ada perbedaan prinsip dengan Ridwan Kamil menyikapi Pilgub Jawa Barat 2018. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Andreas Hoelgebaum Pereira mengatakan ada perbedaan prinsip antara partainya dengan Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil dalam menghadapi pemilihan gubernur Jawa Barat 2018 mendatang.

Andreas mengatakan selama ini partainya memang menjalin komunikasi secara intensif dengan Ridwan. Akan tetapi di tengah jalan, Ridwan memutuskan untuk tidak bergabung dengan partai politik.

"Nah, ini secara prinsip tidak masuk di dalam karakter dan cara berpikir PDI Perjuangan," kata Andreas di kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Kamis (31/8).
Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto mengatakan hal serupa. Ridwan Kamil, kata Hasto, telah menentukan jalan yang berseberangan dengan partainya jelang pemilihan gubernur Jawa Barat 2018 yang akan datang.

Meski begitu, Hasto mengatakan pihaknya masih menjalin komunikasi yang baik dengan Ridwan.

"Kami juga menghormati ketika Pak Ridwan Kamil telah menentukan jalan. Kita hormati dong," kata Hasto.
Hasto mengaku tidak memaksa Ridwan mengikuti apa yang menjadi keinginan partainya. Dikatakannya, suatu kerja sama merupakan buah kesepakatan antara dua pihak, bukan hasil pemaksaan satu pihak saja.

Ia juga menekankan bahwa segala kemungkinan masih akan terjadi. Begitu pula sikap PDI Perjuangan terhadap Ridwan. Keputusan final partai masih menunggu rekomendasi dari Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

"Selama rekomendasi yang ditandatangani ibu Ketua Umum belum keluar maka proses dialog (dengan Ridwan) akan terus dilakukan," kata Hasto.
Hasto lalu mengamini bahwa partainya sedang menjajaki koalisi dengan partai Golkar jelang pemilihan gubernur Jawa Barat.

Akan tetapi, dia tidak ingin memastikan bahwa partainya mendukung bakal calon gubernur yang diusung Golkar, yaitu Bupati Purwakarta Dedy Mulyadi.
(wis)

Rabu, 23 Agustus 2017

Restu Prabowo 100%, PKS Pede Menang Pikada Jabar

  • Restu Prabowo 100%, PKS Pede Menang Pikada Jabar
    Photo :
    • VIVA.co.id/Mohammad Yudha Prasetya
    Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Presiden PKS, Sohibul Iman.
VIVA.co.id – Partai Keadilan Sejahtera menargetkan 60 persen kemenangan dalam Pilkada serentak 2018. PKS mengklaim dapat memenangkan 16 Kabupaten/Kota pada Pemilihan Gubernur Jawa Barat.
Presiden Partai PKS, Sohibul Iman menjelaskan, target itu realistis karena berkaca pada suksesi di 2015, PKS memenangkan 52 persen dan pada 2017 memenangkan 56 persen."Target kami untuk Pilgub bisa menang, Pilwalkot dan Pemilihan Bupati  bisa memenangkan 60 persen dari yang diusung dan didukung," ujar Sohibul di kantor DPW PKS Jawa Barat, Bandung, Minggu 20 Agustus 2017.
Sohibul menjelaskan, dalam rakor ini masih kasar karena akan ada pertemuan lanjutan untuk memenangkan dua figur yang diusung yaitu Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar sebagai calon gubernur dan Wakil Wali Kota Depok Ahmad Syaiku sebagai calon Wakil Gubernur di Pilgub 2018.
"Kami berharap 2018 meningkat. Jadi, kalau Jabar ada 16 Pilkada serentak, paling tidak 10-nya dimenangkan kami, dan 11 dengan Pilgub Jabar," terangnya.
Pihaknya optimis dua figur tersebut khususnya Deddy Mizwar yang didukung Partai Gerindra, sudah mendapat restu dari Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto.
"Demiz dan Akhmad Syaikhu setelah pertemuan dengan Pak Prabowo sudah 100 persen di dukung. Koalisi antara PKS dengan Gerindra, tapi tak menutup kemungkinan partai lain ada yang ikut mendukung," ujarnya.
Sohibul menambahkan, soal koalisi, PKS saat ini mengoptimalkan komunikasi politik dengan Partai Amanat Nasional (PAN) dan Demokrat agar semakin solid.
"Dengan Pak Zul (Ketum PAN), ada kesepahaman di antara kita, Insya Allah mendukung Demiz dan Syaiku untuk Pilgub," katanya. 

Senin, 21 Agustus 2017

Deddy Mizwar dan Ahmad Syaikhu. Pilgub Jabar 2018

PKS: Pilkada Jabar Lebih Strategis dari DKI

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera mengatakan, koalisi antara PKS dan Partai Gerindra di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat 2018 akan menjadi indikator kesuksesan untuk pemilihan presiden (pilpres) 2019.
"Jabar lebih strategis dari DKI. Kita belum jelas dengan siapa, tapi yang jelas di Jabar peluang di 2019 besar," ucap Mardani di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (19/8/2017).

Dia mengatakan, hingga saat ini PKS sudah nyaman dengan Partai Gerindra, sehingga kemungkinan akan tetap berkoalisi hingga pilpres 2019. Mardani menyatakan untuk Pilgub Jabar 2018 akan tetap mengusung pasangan Deddy Mizwar dan Ahmad Syaikhu.
"Sementara ini kita masih berpikir yang terjadi sekarang tetap Deddy Mizwar dan Ahmad Syaikhu," ujar dia.
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman juga telah menegaskan, partainya 95 persen mendukung pasangan Deddy Mizwar- Ahmad Syaikhu, untuk bertarung di Pilkada Jawa Barat 2018.
Menurut dia, ini merupakan hasil pembicaraannya dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto Sabtu 5 Agustus 2017.
"Sudah 95 persen ke pasangan Demiz (Deddy Mizwar) dan Syaikhu. Itu hasil pembicaraan internal PKS dan hasil komunikasi PKS dengan Pak Prabowo," kata Sohibul kepada Liputan6.com, Rabu 9 Agustus 2017.

Rabu, 16 Agustus 2017

Mantan Gubernur BI Ungkap Pembicaraan Prabowo di Hambalang

Rabu, 16 Aug 2017 06:47 | editor : Imam Solehudin
JawaPos.com - Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI), Burhanudin Abdullah siap terjun ke politik. Burhanudin mengaku tengah mempersiapkan diri maju di Pemilihan GUbernur Jawa Barat lewat parta Gerindra.
Hal itu diungkapkannya setelah menangkap sinyal dari Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto yang menginginkan calon Gubernur
dari kader internal, adalah merupakan putera daerah.
"Saya menangkap sinyal Prabowo subianto yang sangat memperhatikan aspirasi daerah, dan menjadi sangat logis bahwa masyarakat sunda
mempunyai kerinduan apabila pemimpinnya dari putera daerah, yang nantinya akan mengerti pada kearifan dan budaya orang-orang sunda,"
ungkap Burhanudin kepada RMOLJabar (Jawa Pos Grup), Selasa (15/8).
Mantan Menteri Perekonomian pada jaman Gusdur ini juga menceritakan, pada sabtu sore di bulan Juli, Prabowo menanyakan kepada dirinya
apakah sempat berfikir untuk menjadi Gubernur Jabar
"Pak Prabowo telepon saya. Saya bilang pernah 15 tahun yang lalu waktu itu berhenti jadi menteri nya gusdur saya nganggur dan diajak
teman untuk memikirkan itu, tapi kemudian awal 2003 saya mendapat berita dari Mensesneg dan saya dicalonkan jadi gubernur BI, karena
saya memang hidup dan dibesarkan itu di BI," ungkap Burhanudin.
Setelah itu, lanjut dia, Burhanudin merenungkan dan mempertimbangkan apa yang menjadi permintaan Prabowo.
"Apa yang menjadi keputusan dewan pembina saya akan ikut, apakah dicalonkan atau diajak untuk kontestasi atau tidak nantinya, saya
akan tetap siap apabila diminta untuk menjadi Cagub Jabar," terangnya.
Sehingga kata dia, menjadi sangat jelas bahwa dirinya dan Mulyadi yang akan mewakili dari Partai Gerindra dalam pemilihan Gubenur Jawa
Barat.
"Rabu kemarin kami mengobrol bertiga di Hambalang menjadi jelas. Saya dan Mulyadi yang coba dilontarkan ke publik untuk dipilih siapa
yang paling cocok (dicalonkan). Bahkan Prabowo mengatakan bahwa saya yang sudah mandiri dan berpengalaman dan senior (diminta) untuk
turun gunung," tandasnya.

Minggu, 21 Mei 2017

Pilgub Jabar, PKB Pastikan Usung Helmy Faishal Zaini

Kontributor Bandung, Putra Prima Perdana, Kompas.com - 20/05/2017, 14:40 WIB
Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini saat memberikan keterangan penetapan hari raya Idul Fitri 2016, di gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (4/7/2016).(Kristian Erdianto)
BANDUNG, KOMPAS.com- Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) telah mantap mengusung Helmy Faishal Zaini untuk maju dalam Pilkada Jawa Barat 2018 baik sebagai Calon Gubernur maupun Calon Wakil Gubernur Jawa Barat.
"Nama Helmy Faishal Zaini, Sekjen PBNU itu kita sodorkan apakah nantinya dia gubernur atau wakil gubernur," kata Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar didampingi Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Wilayah PKB Jawa Barat Syaiful Huda saat ditemui seusai kegiatan Bandung Lautan Mengaji di Lapangan Tegalega, Kota Bandung, Selasa (20/5/2017).
Muhaimin atau yang akrab disapa Cak Imin mengatakan, PKB akan menawarkan Helmy kepada beberapa tokoh yang sudah bulat untuk maju pada Pilkada Jawa Barat 2018.

"Dengan Dedi Mulyadi kita sudah komunikasi dan belum putus. Dengan Ridwan Kamil juga sudah komunikasi tapi masih penjajakan terus. Juga kepada Deddy Mizwar," akunya.
Meski demikian, Cak Imin mengatakan PKB hingga saat ini belum menentukan rekan untuk berkoalisi.
"Belum, masih kita bicarakan dengan semua partai," ucapnya.
Cak Imin menjelaskan, Helmy Faishal Zaini yang pernah menjabat sebagai Menteri Pembangunan Desa Tertinggal memiliki kriteria sesuai dengan PKB untuk diusung maju dalam Pilkada Jawa Barat 2018. "Tentu punya modal pengalaman, punya komitmen dan visi untuk membangun Jawa Barat serta memajukan umat islam di Jawa Barat," tandasnya. (K121-16).

Kamis, 04 Mei 2017

Didukung di Pilkada Jabar, Apa Syarat Prabowo untuk Deddy Mizwar?

Kompas.com - 02/05/2017, 23:15 WIB
Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengunjungi rumah Ade Sudrajat, korban banjir di Bandung yang meninggal dunia di Jalan Hegarmanah Kulon Gang Ranim, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung, Selasa (25/6/2016). / Dok. Pemprov Jabar
BANDUNG, KOMPAS.com - Nama Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengemuka dalam Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) Partai Gerindra Jabar. Mereka mendukung Deddy maju di Pilkada Jabar 2018.
Setelah itu, Deddy menerima undangan dari Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto.
"Tadi pagi saya diundang oleh Pak Prabowo ke Hambalang, dan tadi pagi juga banyak ngobrol sama Pak Prabowo bukan soal Pilgub saja pastinya," ujar Deddy saat dihubungi melalui saluran telepon, Selasa (2/5/2017).

Menurut dia, dalam pertemuan tersebut Prabowo Subianto tidak meminta banyak syarat jika akan didukung pada Pilkada Jawa Barat 2018. "Enggak ada syarat apa-apa. Yang penting bisa buat kesejahteraan," ucapnya.
Berita sebelumnya, peserta Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) Partai Gerindra Jawa Barat memberikan dukungan terhadap Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar untuk berpasangan dengan Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Barat Mulyadi dalam Pilkada Jabar 2018.
"Jadi saat itu spontan peserta rapimda mengutarakan dukungan agar Pak Demiz (Deddy Mizwar) bisa berpasangan dengan Pak Mulyadi," ujar Wakil Ketua Bidang Organisasi Kader dan Keanggotaan DPD Partai Gerindra Jawa Barat Bucky Wikagoe.

Bucky menjelaskan, rapimda tersebut menghasilkan beberapa rekomendasi. Salah satunya, seluruh DPC Partai Gerindra di Jabar bulat mengusung Ketua DPD Partai Gerindra Jabar Mulyadi sebagai calon gubernur atau wakil gubernur di Pilkada 2018.
"Seluruh DPC Gerindra bulat mengusung Pak Mulyadi untuk maju di Pilgub Jawa Barat 2018 baik itu untuk jadi cagub dan cawagub," ujar dia.Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar, masih menunggu sikap partai dalam Pilkada Jawa Barat 2018.(Kompas TV)