Rabu, 12 September 2018

15 Gubernur Ini Tegaskan Dukung Jokowi-Ma'ruf di Pilpres 2019


Hasil gambar untuk jokowi pilpres 2019Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah gubernur kepala daerah menyatakan dukungannya terhadap pasangan Joko Widodo atau Jokowi-Ma'ruf Amin di Pilpres 2019. Selain karena berasal dari parpol pengusung Jokowi-Ma'ruf, dukungan itu juga dilandasi penilaian subjektif sang gubernur.
Uniknya, dukungan itu juga ada yang berasal dari kepala daerah usungan parpol koalisi pasangan Prabowo-Sandiaga Uno. Misalnya, dukungan dari Gubernur Lukas Enembe dan Khofifah Indar Parawansa yang dalam pilkada diusung Partai Demokrat. Sementara, Demokrat sendiri sudah memilih untuk mendukung pasangan Prabowo-Sandiaga Uno.

Di luar itu, ada pula sejumlah gubernur yang berpotensi mendukung Jokowi-Ma'ruf namun belum secara lisan menyatakan dukungan. Umumnya mereka adalah pasangan gubernur yang diusung parpol koalisi pendukung Jokowi-Ma'ruf dalam pilkada sebelumnya.
Berikut 15 gubernur yang sudah menyatakan dukungan untuk pasangan Jokowi-Ma'ruf dan gubernur lainnya yang kemungkinan besar juga akan mengambil sikap yang sama:

1. Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru
Ratusan relawan Sumatera Selatan resmi mendeklarasikan dukungan untuk Jokowi-Ma'Ruf Amin di Pilpres 2019. Salah satu dukungan diberikan pasangan gubernur terpilih Herman Deru-Mawardi Yahya.
"Hari ini kami mendeklarasikan dukungan kepada Bapak Joko Widodo dan Ma'ruf Amin di Pilpres 2019 yang akan datang. Kami siap untuk memenangkan mereka di sini," terang Gubernur Sumsel terpilih Herman Deru di Posko Sumsel Bersatu Palembang, Minggu 9 September 2018.
Dukungan 2 periode terhadap Jokowi ini disebut Herman Deru terus mengalir usai dirinya terpilih sebagai Gubernur. Bahkan semakin solid saat Jokowi memilih wakil Ma'ruf Amin.
"Ini sebenarnya ribuan relawan yang juga memenangkan HD-MY di Pilgub Sumsel. Sedangkan saya sendiri mendukung hari ini bukan karena terpilih sebagai gubernur saja, tapi dari tahun 2014 lalu saya telah mendukung Pak Jokowi," kata Herman Deru.

2. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil memastikan dukungannya untuk pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin pada Pilpres 2019. Keputusan itu tak lepas dari dukungan partai pendukung Jokowi yang berkontribusi memenangkannya dalam Pilkada Jabar 2018.
"Saya kira saya mah sudah clear dari sejak kampanye juga enggak ada perubahan. Jadi tidak perlu dipolemikkan lagi, tinggal tunggu momentumnya saja nanti di waktu yang tepat. Iya insyaallah (mendukung Jokowi)," ucap Emil di Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalemkaum, Minggu 12 September 2018.
Namun, Emil mengaku belum mendapat arahan untuk terlibat dalam tim sukses.
"Saya belum ada yang menghubungi secara teknis, jadi nanti saya jawab pada saatnya tiba," ucap Emil.

3. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo merupakan kader PDIP, gerbong utama koalisi partai penyokong Jokowi-Ma'ruf. Ganjar mengaku akan mengambil cuti agar bisa berkampanye pada Pilpres 2019.
"Saya ini PDIP, partainya sama Pak Jokowi, jadi harus dukung. Enggak usah diminta, harus inisiatif. Aku akan cuti kalau kampanye," ujar Ganjar, Rabu 5 September 2018.

4. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa
Gubernur terpilih Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan dukungannya kepada Presiden Joko Widodo dalam Pemilu Presiden (Pilpres) 2019. Pada Pilpres 2019, Jokowi berpasangan dengan Ma'ruf Amin yang merupakan Ketua MUI dan Rais Syuriah PBNU.
"Saya dari awal menyampaikan saya berseiring dengan Pak Jokowi," kata Khofifah di Malang, Jawa Timur, Senin 13 September 2018.
Namun, untuk menyamakan visi, Khofifah menegaskan kalau dia masih butuh komunikasi secara intens dengan semua elemen pendukungnya di Pilgub Jawa Timur agar bisa memberikan dukungan kepada Jokowi.
"Nah, relasi-relasi, aliansi-aliansi, afiliasi-afiliasi, tentu kita akan membangun komunikasi kembali. Interaksitas dan interaksi komunikasi itu akan ter-update ke teman-teman, insyaallah dalam waktu dekat," kata Khofifah. 

5. Gubernur Bali Wayan Koster
Gubernur Bali Wayan Koster mengimbau masyarakat agar tidak terpengaruh isu ganti presiden dalam Pemilu Presiden 2019. Pasalnya, hanya Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang dalam waktu lima tahun mampu menuntaskan sejumlah proyek raksasa bidang infrastruktur yang sempat mangkrak.
"Jangan terpengaruh isu ganti presiden, nggih! Pak Jokowi itu presiden yang hebat. Hanya cukup lima tahun, Beliau bisa menuntaskan proyek-proyek besar bidang infrastruktur yang tidak bisa diselesaikan presiden lainnya (sebelumnya)," ujar Koster di Denpasar pada Senin 18 Juni 2018.
Koster kemudian menuturkan, dia pada tahun 2014 ditunjuk sebagai Ketua Tim Pemenangan Joko Widodo-Jusuf Kalla untuk Provinsi Bali.
"Tiyang (saya) tahun 2019 (Pilpres 2019) akan lagi jadi Ketua Tim Pemenangan Pak Jokowi (untuk Bali). Sarengin nggih (mari bersama-sama dukung ya), mudah-mudah bisa menang 80 persen," kata Koster.

6. Gubernur NTB Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi
Gubernur NTB Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi membuktikan dukungannya kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi dengan mundur dari Partai Demokrat.
Surat pengunduran dirinya ini langsung disampaikan TGB melalui surat kepada Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
"Apresiasi yang saya sampaikan kepada Beliau itu pada kunjungan keempat tahun lalu. Saya menyampaikan harapan dan apresiasi bahwa apa yang bapak laksanakan ini perlu dituntaskan, tidak hanya untuk NTB, tapi juga Indonesia," ujar TGB saat berkunjung ke kantor Liputan6.com, Gondangdia, Jakarta Pusat, Selasa 24 Juli 2018.
Menurut TGB, ada dua alasan utama dia mendukung Jokowi menjadi presiden untuk dua periode.
"Bapak Joko Widodo ini relevan untuk kebutuhan Indonesia. Berorientasi pada hasil dan berusaha membuat terobosan-terobosan," jelas TGB.
Alasan kedua, yakni untuk keberlanjutan kepemimpinan. "Karena pembangunan itu sangat massif. Saya semakin kuat menyampaikan apresiasi dan saya juga mengharapkan seluruh yang dilaksanakan itu tuntas," ujar TGB.
"Dalam pandangan saya memang tidak cukup hanya saya 1 term," TGB menegaskan.

7. Gubernur NTT Viktor Laiskodat
Gubernur NTT Viktor Laiskodat mengatakan, dirinya mendukung Jokowi-Ma'ruf di Pilpres 2019. Meski begitu, dia menuturkan tak akan turun ikut kampanye, karena yakin jagoannya akan meraih kemenangan di NTT.
"Kalau NTT, tanpa Gubernur NTT Sudah menang. Rakyat NTT cinta Jokowi. Jadi kita enggak usah kerja. Jokowi sudah kuat sekali," ucap Victor di kantor DPP NasDem, Jakarta, Rabu 5 September 2018.
Dia pun menyebut Tim Pemenangan tak perlu lagi fokus di NTT. Cukup berusaha di Jawa saja.
"Jadi kita enggak usah kerja di NTT, kerjanya di Jawa saja," ungkap politisi NasDem ini.
Menurut dia, faktor yang merasa yakin juga, karena selama menjadi Presiden, Jokowi acap kali mengunjungi provinsi tersebut dan memberikan perhatian lebih untuk rakyat.
"Presiden sudah 8 kali selama kepemimpinannya datang, belum pernah ada yang begitu beri perhatian kepada rakyat," tegas Viktor. 

8. Gubernur Papua Lukas Enembe
Gubernur Papua Lukas Enembe mengatakan, sepanjang sejarah Presiden RI, baru Jokowi yang lebih memahami masyarakat Papua.
"Jokowi lebih memahami Papua daripada presiden-presiden sebelumnya. Semua permasalahan di Papua dia memahami," ujar Lukas, Rabu 5 September 2018.
Dia optimistis dukungannya akan merembet hingga ke akar rumput. Lukas yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Papua itu mengaku siap diberi sanksi oleh partainya karena berbeda sikap di Pilpres 2019.
"Sanksi silakan saja. Harga mati, bungkus, tiga juta suara kita kasih semua ke Jokowi," tegas Lukas.

9. Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi
Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi menyatakan kesediaannya mendukung pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin di wilayahnya masing-masing. Dia menegaskan kesiapannya untuk memenangkan Jokowi-Ma'ruf di wilayahnya pada Pilpres 2019.
"Siap, siap, siap," kata Ali saat ditemui di DPP Nasdem, Jakarta, Rabu (5/9/2018).
Meski begitu, Ali masih menunggu arahan terlebih dulu dari Ketua Umum Nasdem Surya Paloh untuk bergerak memenangkan Jokowi-Ma'ruf di wilayahnya. "Ya kita semua tergantung petunjuk Ketum. Ketum partai Nasdem itu yang akan kita jalankan," ujarnya.

10. Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah
Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah mengatakan akan mendukung calon presiden Joko Widodo atau Jokowi di pemilihan presiden 2019. Menurut Nurdin, masa kepemimpinan Jokowi perlu dilanjutkan.
"Tentu waktu tidak cukup lima tahun, kami bisa rasakan bagaimana seorang leader yang memiliki kepedulian terhadap daerah," kata Nurdin usai dilantik sebagai gubernur di Istana Negara, Jakarta, Rabu 5 September 2018.
Nurdin mengungkapkan, dirinya sudah cukup lama mengenal sosok Jokowi sejak dirinya menjabat sebagai Bupati Bantaeng. Sehingga, ia merasa sudah menjadi satu tim bersama Jokowi.
"Beliau wali kota, saya Bupati Bantaeng. Beliau masuk gubernur, saya masih Bupati Bantaeng. Kemudian beliau jadi presiden, saya masih Bupati Bantaeng. Saya tahu langkah-langkah beliau, kami sudah satu tim," ujarnya.
Menurut Nurdin, kemajuan Indonesia memang masih dalam proses. Namun, ia meyakini akan ada masanya Indonesia menjadi negara kuat. Karena itu, ia menilai Jokowi tidak cukup jika hanya menjabat selama lima tahun.
"Kami berikan kesempatan lima tahun lagi supaya sempurna kerjaannya," kata dia. 

11. Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey
Petinggi DPD PDI Perjuangan Sulawesi Utara, Sandra Rondonuwu mengatakan, pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin sangat cocok dengan ciri masyarakat Sulawesi Utara yang dikenal nasionalis dan religius.
Karena itu, menurut politisi yang akrab disapa Saron ini, jajaran partai melalui Ketua DPD PDIP Sulut yang juga Gubernur Sulut, Olly Dondokambey sudah menginstruksikan untuk mengamankan pasangan kebangsaan ini.
"Ketua Olly sudah menginstruksikan kepada kami kader partai agar mengamankan dan berkordinasi dengan teman-teman partai pengusung dan pendukung untuk memenangkan pasangan Jokowi-Amin di Sulut," ujar Saron, Sabtu 11 Agustus 2018.
Karena itu, dalam waktu dekat pihaknya akan menggelar rapat kordinasi dengan semua partai pendukung untuk melakukan pembagian kerja pemenangan Jokowi-Ma'ruf.
Di singgung seberapa besar persentase kemenangan yang ditargetkan, Saron tidak mau sesumbar, tapi berdasarkan hasil Pilpres 2014, maka pihaknya optimistis kali ini akan lebih besar atau bisa mencapi hingga 70%.

12. Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji
Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji bersedia mendukung pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin di wilayahnya masing-masing. Sutarmidji mengatakan bahwa dirinya telah siap untuk memenangkan Jokowi di Provinsi Sulawesi Tenggara pada Pilpres 2019.
"Oh Siap, siap," kata Sutarmidji saat ditemui di DPP Nasdem, Jakarta, Rabu (5/9/2018).
Dia mengatakan bakal berkoordinasi terlebih dulu dengan Tim Kampanye Nasional (TKN) terkait bentuk dukungan yang bisa diberikan oleh kepala daerah guna membantu pemenangan bagi Jokowi-Ma'ruf.
Hal itu bertujuan agar dirinya tak melanggar aturan yang diatur KPU dan Bawaslu terkait kampanye bagi para kepala daerah di Pilpres mendatang.
"Jadi memang belum ada gambaran. Nanti kita akan koordinasi dengan tim pemenangan ya," kata dia.

13. Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak
Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak mendeklarasikan diri sebagai Ketua Tim Pemenangan Pasangan Calon Presiden RI Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Awang menargetkan 70 persen masyarakat Kaltim mendukung Jokowi dengan persentase minimal 63 persen suara.
"63 persen itu angka minimal. Maksimalnya mendekati 100 (persen). Kenapa tidak, saya yakin saya akan memenangkan Jokowi," tutur Awang, Kamis 6 September 2018.
Awang menjelaskan pilihannya mendukung Jokowi. Ia menilai Jokowi orang yang rendah hati dan sukses membangun Indonesia. Infrastruktur terbangun dan ekonomi meningkat.
Ia mengaku sangat merasakan peningkatan pembangunan di Kaltim di masa pemerintahan Jokowi. Tidak hanya di perkotaan, tapi hingga ke pedalaman, pedesaan, dan daerah-daerah terpencil.
"Tiga T, terpencil dan terluar semua dibangun. Jokowi itu sukses membangun Indonesia. Saya berharap besar pada Jokowi," beber Awang.
Untuk itu, dia membangun kekuatan untuk Jokowi. Mulai dari semua pimpinan partai pengusung di wilayah Kaltim, hingga organisasi-organisasi dan relawan untuk Jokowi.
"Hampir semua kepala daerah merapat ke Jokowi, yang di Kaltim juga. Tapi mereka tidak sebagai kepala daerah, tapi sebagai anggota parpol dan relawan Jokowi," pungkas Awang.

14. Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran
Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran mendukung kepemimpinan Presiden Joko Widodo atau Jokowi dua periode. Ia mendukung Jokowi di periode kedua nanti.
Ungkapan Sugianto disampaikan saat menjamu Jaksa Agung M Prasetyo di Istana Isen Mulang Palangka Raya, Sabtu 4 Agustus 2018 dalam sebuah acara ramah tamah dan jamuan santap malam.
"Saya mendukung Pak Jokowi dua periode. Bukan karena satu partai atau apa, tetapi lebih kepada pembangunan semasa kepemimpinan Beliau ini kelihatan dan dirasakan," kata Sugianto.

15. Wakil Gubernur Terpilih Maluku Utara Rivai Umar
Wakil Gubernur terpilih dalam Pilkada Maluku Utara 2018, Rivai Umar, menyatakan dukungannya untuk Presiden RI Joko Widodo pada Pemilu Presiden 2019.
"Kami mendukung Pak Jokowi. Siapa pun wakilnya kami tetap dukung," ujar Rivai di Jakarta, Kamis 19 Juli 2018.
Rivai mengaku, dukungan yang ia berikan tersebut bukan tanpa alasan. Salah satunya karena program Jokowi, terutama dalam bidang infrastruktur. Misalnya program Tol Laut yang dianggap dapat menghubungkan pulau-pulau di Maluku Utara.
"Bisa membantu melancarkan proses distribusi barang dan jasa," kata dia.
Karena itu, sebagai wakil kepala daerah terpilih ia berkomitmen memberikan dukungannya untuk Jokowi pada pilpres mendatang.
"Kami berupaya memenangkan Pak Jokowi pada 2019. Karena periode lalu tidak menang di Maluku Utara," kata dia.
Rivai Umar merupakan Wakil Gubernur Maluku Utara terpilih Ahmad Hidayat Mus. Pasangan ini memenangkan Pilkada 2018 dan telah ditetapkan oleh KPU Maluku Utara sebagai pemenang. Partai Golkar dan PPP menjadi partai politik pengusung pasangan calon tersebut di Pilkada lalu.
Namun, pada Maret 2018, Ahmad Hidayat Mus ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kapasitasnya sebagai Bupati Kepulauan Sula periode 2005-2010.

Selasa, 14 Agustus 2018

Runtutan cerita isu mahar Rp 500 miliar dan bantahan Sandiaga Uno

Selasa, 14 Agustus 2018 06:32 Reporter : Desi Aditia Ningrum
prabowo dan sandi di rspad. ©2018 Merdeka.com/hari ariyanti
Merdeka.com - Menjelang deklarasi cawapres Prabowo Subianto pekan lalu, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Andi Arief mengeluarkan pernyataan menghebohkan dunia politik. Di mana Andi menuding dipilihnya Sandiaga Uno sebagai pendamping Prabowo lantaran adanya mahar politik sebesar Rp 1 triliun.

Mahar politik diberikan Sandi kepada partai koalisi Prabowo yaitu PAN dan PKS. Menurut Andi, masing-masing partai mendapat mahar sebesar Rp 500 miliar. Mahar ini sebagai pengganti calon-calon yang diajukan oleh kedua partai tersebut. Berikut runtutan ceritanya:

PAN dan PKS ancam pidanakan Andi Arief

Merdeka.com - PAN tak terima dituding menerima mahar politik sebesar Rp 500 miliar dari Sandiaga Uno sebagai pemulus menjadi cawapres Prabowo Subianto. Oleh karena itu partai tersebut mengancam mempidanakan Wasekjen Demokrat Andi Arief mengklarifikasi.
"Mumpung masih ada waktu klarifikasi. Itu pernyataan tak mendasar, kalau tidak akan kita tuntut secara hukum," kata Wasekjen PAN Yandri Susanto.
Hal yang sama juga akan dilakukan oleh PKS kepada Andi Arief jika tak segera minta maaf dan mencabut tudingannya. "Iya kalau tidak ada permintaan maaf dan klarifikasi, ini secara pribadi kan?" kata Kholid di Restoran Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (11/8).

Sandiaga Uno bantah soal mahar politik

Merdeka.com - Bakal Calon Wakil Presiden RI pasangan Prabowo Subianto, Sandiaga Salahuddin Uno menegaskan, tidak benar adanya pemberian mahar Rp 500 miliar ke Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk posisinya jadi cawapres. Saat ini semuanya harus sesuai undang-undang sehingga Sandi menegaskan soal mahar tersebut hanya tudingan Wasekjen Demokrat, Andi Arief.
"Kita bisa pastikan itu tidak benar. Sekarang itu, kita harus pastikan tidak boleh ada lagi 'hengki pengki' dalam politik. Masyarakat marah kalau ada 'hengki pengki', masyarakat merasa dibohongi, tidak bisa lagi," kata Sandiaga usai mengikuti lari di acara Ancol Triathlon di Ancol, Jakarta Utara, Minggu (12/8).

Fadli Zon bantah beri info mahar

Merdeka.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon membantah memberikan informasi kepada Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief terkait dugaan mahar Rp 500 miliar yang disiapkan Sandiaga Uno untuk PKS dan PAN. Dia mengaku tak pernah bertemu dengan Andi Arief.
"Tidak ada itu. Salah itu. Saya tidak pernah ketemu Andi Arief, dan itu tak ada. Tidak benar," ujar Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Selatan, Senin (13/8).

Adu kuat barisan jenderal pendukung Prabowo dan Jokowi


Selasa, 14 Agustus 2018 06:45 Reporter : Syifa Hanifah
Jokowi-Prabowo. ©2014 merdeka.com/imam buhori
Merdeka.com - Genderang Pilpres 2019 sudah ditabuh. Dua kubu Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga sudah menyiapkan strategi untuk pemenangan. Dukungan dari berbagai kalangan juga mengalir. Termasuk dari para purnawirawan jenderal TNI.

Purnawirawan jenderal ini terbelah. Ada yang mendukung Jokowi dan Prabowo. Secara perorangan ada yang sudah bergabung di masing-masing calon, ada yang berkelompok mendeklarasikan diri.

Senin, 13 Agustus 2018

Joko Widodo dan Ma’ruf Amin juga melaksanakan pemeriksaan Medical ceck up

Jokowi-Ma'ruf Amin vs Prabowo-Sandi, Ini Sikap Ustadz Abdul Somad dan Felix Siauw

Jokowi-Ma'ruf Amin vs Prabowo-Sandi, Ini Sikap Ustadz Abdul Somad dan Felix Siauw
INSTAGRAM
Ustadz Abdul Somad dan Felix Siauw bersama artis Indonesia usai kajian keagamaan di Tangerang, Minggu 3/6/2018). 
“Mudah-mudahan cepat selesai, sekitar pukul 17.00-18.00 sudah rampung, saya ini mantan jenderal yang takut suntik, takut dokter, lebih baik saya terjun (payung),” imbuhnya sambil diikuti tawa awak media yang mewawancarainya.
Sementara Sandiaga tampak optimis menghadapi MCU ini.
“Alhamdulillah pemeriksaannya profesional, fasilitasnya kelas dunia, semoga lancar semua,” pungkasnya.
Sebelumnya, bakal paslon lain, Joko Widodo dan Ma’ruf Amin juga melaksanakan pemeriksaan MCU pada Minggu (12/8/2018) kemarin.

Bakal Capres dan Cawapres Pilpres 2019, Joko Widodo dan Ma'ruf Amin saat akan melakukan tes kesehatan di RSPAD Jakarta Pusat, Minggu (12/8/2018).
Bakal Capres dan Cawapres Pilpres 2019, Joko Widodo dan Ma'ruf Amin saat akan melakukan tes kesehatan di RSPAD Jakarta Pusat, Minggu (12/8/2018). (Tribunnews/Jeprima )
Jokowi-Ma'ruf menjalani medical cek up sejak pukul 08.00 WIB dan baru meninggal RSPAD sekitar pukul 20.30 WIB.
Sebelum meninggalkan lokasi, Jokowi mengatakan kondisi mereka dalam keadaan baik.
"Alhamdulillahhirabbilalamin. Saya dengan KH Maruf Amin telah menyelesaikan kondisi kesehatan kami. Mudahan sehat semua. Beliau kalo dilihat masih segar bugar dan saya juga masih segar bugar," ujar Jokowi, di RSPAD, Jakarta Timur, Minggu (12/8/2018).
Jokowi mengungkapkan bahwa dirinya merampungkan proses medical check up lebih cepat ketimbang pasangannya.
Hal itu lantaran ia memiliki pengalaman menjalani tes serupa saat akan menjabat sebagai walikota Solo, gubernur DKI Jakarta, dan presiden.
"Saya diperiksa lebih cepat, karena diperiksanya duluan,makanya lebih cepat saya. Karena saya juga sudah biasa melakukan pemeriksaan seperti ini. Sudah lima kali. Jadi tanpa dibriefing lagi oleh tim dokter sudah hafal," ujar Jokowi.


Artikel ini telah tayang di tribun-timur.com dengan judul Jokowi-Ma'ruf Amin vs Prabowo-Sandi, Ini Sikap Ustadz Abdul Somad dan Felix Siauw, http://makassar.tribunnews.com/2018/08/13/jokowi-maruf-amin-vs-prabowo-sandi-ini-sikap-ustadz-abdul-somad-dan-felix-siauw?page=3.

Editor: Mansur AM

Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno menjalani proses medical check-up

Jokowi-Ma'ruf Amin vs Prabowo-Sandi, Ini Sikap Ustadz Abdul Somad dan Felix Siauw

Jokowi-Ma'ruf Amin vs Prabowo-Sandi, Ini Sikap Ustadz Abdul Somad dan Felix Siauw
INSTAGRAM
Ustadz Abdul Somad dan Felix Siauw bersama artis Indonesia usai kajian keagamaan di Tangerang, Minggu 3/6/2018). 
"Bagi saya tidak ada yang lebih penting dari persatuan. Allah sampaikan dalam Alquran, persatuan ini tidak bisa dibeli. Seberapapun yang kita punya, Balikan yok, jadi satu lagi," tutur Felix.
Dai Kondang Hanan Attaki pun mengungkapkan hal senada. Ia mengatakan, persatuan dimulai dari hati masing-masing.
"Karena Allah banyak bicara urusan hati. Bukan berarti yang kita setujui, orang lain harus setuju. Kita harus punya rasa empati, care,  mudah-mudahan ini jadi semangat kita, mari kita berangkulan tangan," tuturnya.
Simak videonya:
2 Pasang Calon Tes Kesehatan
Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus bakal calon presiden Prabowo Subianto menyampaikan persiapannya jelang menghadapi Medical Check Up (MCU) di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Senin (13/8/2018).
Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno menjalani proses medical check-up di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat pagi ini, Senin (13/8/2018).
Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno menjalani proses medical check-up di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat pagi ini, Senin (13/8/2018). (KOMPAS.com/Ihsanuddin)
Hal itu disampaikan di sela-sela pemeriksaan yang sudah berlangsung sejak pukul 07.00 WIB.
 “Ya persiapan puasa sejak pukul 20.00 kemarin, saya kelaparan karena biasanya pukul 22.00 saya makan, tidak bisa tidur, tapi saya taat perintah dokter, saya tidak berani bantah,” jelas Prabowo yang sudah mengenakan pakaian pemeriksaan kesehatan berupa kimono dan celana panjang abu-abu.
Prabowo menjelaskan ada beberapa tahap yang harus dilaluinya dalam MCU itu.
“Ya periksa darah, USG (Ultrasonography), periksa gigi, periksa kencing, tapi saya belum periksa toraks,” ungkapnya.


Artikel ini telah tayang di tribun-timur.com dengan judul Jokowi-Ma'ruf Amin vs Prabowo-Sandi, Ini Sikap Ustadz Abdul Somad dan Felix Siauw, http://makassar.tribunnews.com/2018/08/13/jokowi-maruf-amin-vs-prabowo-sandi-ini-sikap-ustadz-abdul-somad-dan-felix-siauw?page=2.

Editor: Mansur AM

Minggu, 12 Agustus 2018

Usai Deklarasi Capres dan Cawapres, Prabowo Bareng Titiek ke Cendana, Berikut Foto-fotonya!

 
Usai Deklarasi Capres dan Cawapres, Prabowo Bareng Titiek ke Cendana, Berikut Foto-fotonya!
Kolase Twitter@TitiekSoeharto
TRIBUN-MEDAN.COMHal itu setelah mendaftar pasangan capres dan cawapres RI 2019 di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Jumat (10/8/2018). 
Ia ditemani mantan istrinya dan sejumlah tokoh keluarga almarhum HM Soeharto, Presiden RI ke-2.
Prabowo tampak ditemani Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon berfoto bersama sejumlah keluarga HM Soeharto. Di antaranya Siti Hardiyanti Indra Rukmana (Mbak Tutut), Siti Hediati Harijadi (Titik Soeharto) dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek Soeharto).
Hadir pula ekonom Fuad Bawazier dan  pengusaha Maher Algadri pada momen tersebut.
Foto pertemuan tersebut turut diposting akun twitter @TitiekSoeharto.
Belum dipastikan apakah akun tersebut asli dimiliki Titik Soeharto.
"Tadi malam setelah deklarasi capres dan cawapres... Pak PS bersilaturahmi ke Cendana," tulis akun tersebut.
Foto itu banjir komentar dari warganet.
Sebagian mendoakan Prabowo dan Titik Soeharto bisa rujuk kembali.


Artikel ini telah tayang di tribun-medan.com dengan judul Usai Deklarasi Capres dan Cawapres, Prabowo Bareng Titiek ke Cendana, Berikut Foto-fotonya!, http://medan.tribunnews.com/2018/08/11/usai-deklarasi-capres-dan-cawapres-prabowo-bareng-titiek-ke-cendana-berikut-foto-fotonya.

Editor: Abdi Tumanggor

Alasan PKS dan PAN Setuju Sandiaga Uno Jadi Cawapres Prabowo

Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno saling berpegangan tangan seusai mendaftarkan dirinya di gedung KPU, Jakarta, Jumat (10/8/2018). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A.
Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno saling berpegangan tangan seusai mendaftarkan dirinya di gedung KPU, Jakarta, Jumat (10/8/2018). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A.
Oleh: Andrian Pratama Taher - 10 Agustus 2018
Dibaca Normal 1 menit
Petinggi PAN dan PKS mengakui sempat mengusulkan kadernya menjadi cawapres Prabowo. Tapi, karena sejumlah alasan, dua partai itu akhirnya sepakat memilih Sandiaga.tirto.id - Petinggi PKS dan PAN angkat bicara tentang proses pemilihan Sandiaga Uno sebagai calon wakil presiden (cawapres) pendamping Prabowo Subianto di Pilpres 2019.

Presiden PKS Sohibul Iman mengakui partainya semula memang berharap kadernya menjadi cawapres Prabowo. Namun, menurut dia, realitas politik berkata lain.

"Kami berharap ada wakil kami di capres atau wapres, tetapi kan realitas politik seperti ini. Dari sekian partai tidak bisa tertampung semuanya [aspirasi]," kata Sohibul di kantor KPU RI, Jakarta, pada Jumat sore (10/8/2018).

PKS sempat mengajukan 9 nama kadernya sebagai kandidat cawapres Prabowo. Belakangan, Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf jadi prioritas PKS setelah Ijtima Ulama GNPF merekomendasikan namanya.

Sohibul optimistis pemilihan Sandiaga sebagai cawapres tidak akan menggerus elektabilitas Prabowo di Pilpres 2019. Menurut dia, PKS meyakini Sandiaga merupakan pasangan ideal bagi Prabowo dari segi elektabilitas. Apalagi, mesin partainya juga telah siap mendukung pasangan ini.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum PAN Hanafi Rais mengatakan pemilihan Sandiaga merupakan hasil kompromi antara partai-partai koalisi pendukung Prabowo.

"Karena kami juga memahami kalau memang tidak menjadikan pak Zulkifli Hasan ya tentu kemudian mari berkompromi [memilih] siapa, dan jatuhnya kepada mas Sandi," kata Hanafi.

PAN semula menyodorkan Zulkifli Hasan sebagai cawapres Prabowo. Usulan itu diperkuat hasil Rakernas PAN pada Kamis kemarin yang merekomendasikan dua nama cawapres, yakni Zulkifli dan Ustaz Abdul Somad yang sudah menyatakan enggan maju ke Pilpres 2019.

Beberapa jam sebelum pemilihan Sandiaga diumumkan di rumah Prabowo, petinggi PAN terlihat melunak karena sempat menyatakan agar Wakil Gubernur DKI Jakarta itu mundur dari Gerindra jika mau jadi cawapres. Sandiaga kemudian memang mundur dari Partai Gerindra.

Meskipun demikian, Hanafi mengatakan PAN meyakini keputusan pemilihan Sandiaga ialah keputusan yang tepat. Dia beralasan Sandiaga merupakan figur yang memahami persoalan ekonomi karena memiliki latar belakang pengusaha.

Hanafi menilai pengetahuan Sandiaga soal ekonomi terlihat dari program OK OCE yang jadi andalannya bersama Anies Baswedan saat masa kampanye Pilkada DKI Jakarta 2017.

"[pada] Beberapa pidatonya, saya amati mas Sandi cukup paham masalah dan juga menawarkan solusinya. Nanti kita lihat di program visi misi kita," kata Hanafi.

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Addi M Idhom

Setengah Hati Dukungan Ulama 212 Untuk Prabowo-Sandi

Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno saling berpegangan tangan seusai mendaftarkan dirinya di gedung KPU, Jakarta, Jumat (10/8/2018). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno saling berpegangan tangan seusai mendaftarkan dirinya di gedung KPU, Jakarta, Jumat (10/8/2018). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Oleh: Arbi Sumandoyo - 11 Agustus 2018
Dibaca Normal 2 menit
GNPF Ulama belum bulat mendukung pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahudin Uno dalam Pilpres 2019.
tirto.id - Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama) hingga saat ini belum bulat mendukung pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno dalam Pemilihan Presiden 2019. Meski calon presiden hasil ijtima diakomodir dengan majunya Prabowo, akan tetapi dipilihnya Sandiaga Uno sebagai cawapres belum menghasilkan titik temu hingga deklarasi pasangan koalisi tiga partai itu resmi diumumkan.

Kabar belum bulatnya dukungan kepada pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno sejatinya mulai mencuat ketika Dewan Penasihat Persaudaraan Alumni (PA) 212 Eggi Sudjana memberi pernyataan kepada wartawan terkait dukungan GNPF kepada pasangan yang diusung koalisi PAN, PKS dan Gerindra.

Menurut Eggy, hingga malam sebelum Prabowo mendeklarasikan diri bersama Sandiaga Uno, GNPF masih mendesak agar hasil Ijtima Ulama diakomodir.

“Sampai tadi malam belum selesai,” ujar Eggy, Jumat (10/8/2018) dini hari.

Keterangan Eggy dikuatkan dengan kehadiran Ketua GNPF Ulama Muhammad Yusuf Martak di kediaman Prabowo Subianto di Jalan Kartanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis malam (9/8). Ia datang buat meminta penjelasan Prabowo terkait rekomendasi Ijtima Ulama.

Sebelum memasuki kediaman Prabowo, Yusuf mengaku pihaknya tetap meminta Prabowo menggunakan rekomendasi Ijtima Ulama dalam menentukan calon wakilnya. Belakangan rekomendasi itu tak digubris Prabowo meski nama baru seperti Ustaz Arifin Ilham dan Kiai Abdulah Gymnastiar muncul menjelang deklarasi.

“GNPF Ulama telah menawarkan alternatif cawapres ulama yang telah direstui Imam Besar Habib Rizieq Shihab dan para tokoh sentral Ijtima Ulama, yaitu Ustaz Arifin Ilham dan AA Gym,” ujar Yusuf Martak.

Ketika pasangan Prabowo-Sandiaga resmi diumumkan, GNPF belum juga mengambil sikap resmi apakah akan mendukung atau meninggalkan Prabowo. Meski begitu, Eggy mengakui dipilihnya nama Sandiaga Uno sebagai calon pendamping Prabowo Subianto sudah dikomunikasikan antara Amien Rais dengan Rizieq Shihab.

“[Akan tetapi] Responsnya yang saya enggak tahu, mungkin di antara Pak Amin sudah (komunikasi). Kalau enggak ada, mungkin Pak Amien juga enggak berani lah. Pak Amien kan takjim (hormat) sama Habib Rizieq,” ujar Eggy.

Hanafi Rais, Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional juga mengakui belum ada keputusan dukungan yang bulan dari GNPF Ulama. Namun kata dia, sejauh ini partai koalisi mendukung Prabowo telah mengakomodir calon presiden hasil Ijtima Ulama. “Toh mandat yang diberikan Ijtima Ulama kepada kami kan juga diikhtiarkan semaksimal mungkin,” ujar Hanafi.

Ia pun menegaskan, keputusan Prabowo merangkul Sandiaga sebagai wakilnya telah dikomunikasikan kepada Rizieq Shihab. “Semua proses politik di koalisi itu disampaikan kepada Habib Rizieq. Jadi semua dikomunikasikan terus,” kata Hanafi.

Infografik Kiai Dan Ulama nyemplung Politik

Ngotot Hasil Ijtima Ulama

Ketika Prabowo-Sandi mendaftarkan diri sebagai capres dan cawapres ke KPU, ulama GNPF juga tak terlihat hadir menemani pasangan ini.

Salim Segaf Aljufri, Ketua Dewan Syuro PKS yang juga menjadi salah satu nama didapuk dalam Ijtima Ulama buat menjadi pendamping Prabowo mengatakan, GNPF katanya bakal menggelar rapat pandangan politik baru buat menyikapi situasi yang berkembang saat ini.

“Kemungkinan akan dibuat Ijtima baru dengan rekomendasi baru. Ini felling saya,” ujar Salim usai mengantar Prabowo-Sandi mendaftar di KPU, kemarin.

Ia pun menegaskan PKS belum bersikap mengenai rencana GNPF yang bakal menggelar Ijtima jilid II merespon situasi politik Pilpres 2019. “PKS pada dasarnya adalah yang dipikirkan kepentingan bersama. Apa yang bagus bagi bangsa ini,” kata Salim.

Secara terpisah, Rizieq Shihab selaku Ketua Dewan Pembina GNPF Ulama mengatakan bakal ada ijtima ulama jilid II untuk menentukan dukungan dalam pemilihan presiden 2019. “Tetap Istiqomah dalam satu komando ulama,” ujar Rizieq dalam keterangan tertulisnya seperti diterima Tirto.

Melalui akun Twitter-nya, Rizieq juga mengatakan hal senada bakal menggelar Ijtima Ulama jilid II untuk menentukan sikap politik dalam mendukung dua pasang calon yang kini sudah resmi mendaftar di Komisi Pemilihan Umum.

“Percaya dan yakin lah, selama kita ikhlas dan tulus serta kompak dan bersatu, juga semangat dan kerja keras, niscaya, kemenangan akan kita raih,” pesan Rizieq.

Reporter: Arbi Sumandoyo
Penulis: Arbi Sumandoyo
Editor: Mufti Sholih

Survei Pollmark: Elektabilitas Jokowi Ungguli Prabowo

Dwi Andayani - detikNews
Survei Pollmark: Elektabilitas Jokowi Ungguli Prabowo Foto: Jokowi (Andhika Prasetya/detikcom)
Jakarta - PolMark Indonesia mengadakan survei elektabilitas bakal kandidat calon presiden 2019. Berdasarkan hasil survei elektabilitas Jokowi masih mengungguli Prabowo.

"Laporan ini merupakan hasil olahan data dari 71 survei polmark research center - polmark Indonesia di tingkat Provinsi, kabupaten dan kota dalam waktu 15 Januari 2016 sampai 11 Juni 2018," ujar CEO Polmark Eep Saefullah Fatah.

Hal tersebut disampaikannya saat melakukan rilis survei di Sofyan Hotel, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (9/8/2018). Survei ini diambil dari jumlah responden tingkat provinsi 1.200 orang dengan margin of error 2.9 persen, sedangkan pada tingkat kabupaten kota sebanyak 880 orang (margin of error 3.4 persen) dan 440 orang (margin of error 4.8 persen).

Eep mengatakan survei ini diambil di 2 wilayah pemilihan. Wilayah tersebut yaitu Jawa dan Sumatera.

"Lebih dari 60 persen pemilih ada di Jawa dan di atas 20 persen di Sumatera dan sisanya terdapat di wilayah lainnya itulah mengapa wilayah ini penting," kata Eep.

Berdasarkan hasil survei elektabilitas Jokowi tertinggi di provinsi Jawa terdapat pada Provinsi Jawa tengah dengan persentase 60.9 persen. Sedangkan elektabilitas terendah Jokowi terdapat pada Provinsi Banten dengan persentase 16.7 persen.

Ditingkat kabupaten/kota elektabilitas tertinggi Jokowi terdapat di Bojonegoro 54.9 persen, sedangkan terendahnya terdapat di Kota Tasikmalaya 11.8 persen.
Sedangkan untuk elektabilitas Prabowo pada Provinsi Jawa, tertinggi terdapat di Jawa Barat 32.9 persen, dan terendah terdapat di Jawa Tengah 6.6 persen. Pada tingkat Kabupaten/kota tertinggi Prabowo terdapat di Kota Tasikmalaya sebesar 48.4 persen dan terendah terdapat di kota Tegal 8.0 persen.

Pada Wilayah Sumatera elektabilitas Jokowi tertinggi terdapat pada Provinisi Sumatera Utara 49.9 persen dan pada tingkat kabupaten/kota terdapat pada Kabupaten Pringsewu sebesar 57.7 persen. Elektabilitas Prabowo di wilayah Sumatera tertinggi terdapat pada provinsi Riau dengan persentase 33.6 persen, Kabupaten/kota terdapat di Kota Lubuklinggau 42.9 persen.
(dwia/rvk)

Hasil Survei Sementara, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno Unggul dari Jokowi-Ma'ruf Amin

Hasil Survei Sementara, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno Unggul dari Jokowi-Ma'ruf Amin
KOMPAS.COM
Prabowo Subianto saat deklarasi. 
WARTA KOTA, PALMERAH--Dua pasang capres-cawapres 2019 telah mendeklarasikan maju di Pilpres 2019.
Dalam akun Twitter Indonesia Lawyers Club, diadakan survei yang baru berlangsug sejak pukul 10.00 WIB, Jumat (10/8/2018).
Survei tersebut mengajak pengguna Twitter untuk memilih siapa pasangan capres-cawapres 2019 yang akan dipilih mereka.

Terdapat tiga pilihan dalam survei tersebut yaitu Jokowi-Ma'ruf Amin, Prabowo-Sandiaga Uno, dan yang terakhir adalah tidak memilih atau golput.
"Saat ini siapa yang Anda pilih?" tulis dalam unggahan survei tersebut.
Hingga pukul 10.45 WIB, sudah ada 64.000 lebih pengguna Twitter yang mengisi survey tersebut.
Posisi teratas saat ini diduduki oleh Prabowo-Sandiaga Uno dengan perolehan 64 persen.

Sedangkan Jokowi-Ma'ruf Amin hanya mendapatkan suara 24 persen, dan sisanya sebanyak 12 persen memilih untuk golput.
Hasil survei ini mengundang komentar dari warganet pengguna Twitter.

"Iya emang gak suka mendahului takdir, nyatanya tetep milih yang modal gede. Hanya euforia semata," tulis akun Twitter @Ardi72638103
"Selamatkan NKRI #2019GANTIPRESIDEN Prabowo-Sandiaga Uno," tulis akun Twitter @Nyeurisirah.


Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Hasil Survei Sementara, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno Unggul dari Jokowi-Ma'ruf Amin, http://wartakota.tribunnews.com/2018/08/10/hasil-survei-sementara-prabowo-subianto-sandiaga-uno-unggul-dari-jokowi-maruf-amin.
Penulis: Yosia Margaretta
Editor: Aloysius Sunu D