Minggu, 12 November 2017

Mengapa Ekonomi Indonesia Bisa Bertahan di saat Ekonomi Dunia Anjlok?

Andri Donnal Putera
Kompas.com - 09/11/2017, 13:30 WIB
Ekonom senior Institute fot Development of Economics and Finance, Faisal Basri, saat mengisi acara MNC Sekuritas di Ambhara Hotel, Jakarta Selatan, Kamis (9/11/2017).
Ekonom senior Institute fot Development of Economics and Finance, Faisal Basri, saat mengisi acara MNC Sekuritas di Ambhara Hotel, Jakarta Selatan, Kamis (9/11/2017). (KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA )
JAKARTA, KOMPAS.com - Menguatnya kondisi perekonomian di Indonesia secara umum belakangan ini dilihat tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi ekonomi dunia yang sedang dilanda sejumlah masalah.
Bahkan, ada pandangan bahwa ekonomi Indonesia hebat karena tidak menerima dampak dari kondisi ekonomi global.
Namun, apakah hal itu benar? Menurut ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Faisal Basri, ekonomi Indonesia belum bisa dibilang hebat.
"Kenapa ekonomi dunia anjlok, Indonesia tidak anjlok? Karena sektor keuangan kita masih cetek, bukan karena kita hebat," kata Faisal usai menghadiri acara MNC Sekuritas di Ambhara Hotel, Jakarta Selatan, Kamis (9/11/2017).
(Baca: Faisal Basri: Tolong Pemerintah Jangan Grasak Grusuk Bikin Kebijakan)
Faisal menjelaskan, memang ada penurunan sedikit yang merupakan pengaruh dari kondisi ekonomi dunia, namun tidak terlalu signifikan. Sementara, jika nantinya ekonomi dunia membaik, Indonesia juga belum tentu bisa merasakan keuntungannya secara langsung.
Menurut Faisal, hal itu dikarenakan 70 persen ekspor dari Indonesia merupakan ekspor komoditi. Sedangkan, jika ekspornya adalah manufaktur, baru bisa merasakan langsung manfaatnya karena produk manufaktur lebih cepat laku dalam perdagangan dunia.
"Jadi, untuk lebih kompatibel, naikkan industri manufakturnya, dorong ekspor industri manufakturnya, perkuat industri manufakturnya," tutur Faisal.
Dia turut menambahkan bahwa pemerintah Indonesia perlu membenahi sektor keuangan dengan fokus pada financial deepening dan memperkuat sektor-sektor industri.
Hal ini sejalan dengan produk manufaktur yang dianggap lebih laku dalam perdagangan dunia dan merupakan hasil dari sektor industri.
"Tidak ada negara yang bisa kompatibel dengan dunia, menikmati keuntungan dari perdagangan dunia, kalau manufakturnya lemah. Kalau manufaktur kuat, keuntungannya ada dua, gains from trade dan additional gains from trade. Ada keuntungan ekstra karena ada perdagangan intraindustri," ujar Faisal.
Di paruh pertama tahun ini, pertumbuhan ekonomi hanya melaju 5,01%(Kompas TV)

–– ADVERTISEMENT ––
PenulisAndri Donnal Putera
EditorAprillia Ika

Tidak ada komentar: