Tampilkan postingan dengan label Kemoterapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemoterapi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Oktober 2017

5 Cara Efektif Mengurangi Efek Samping Kemoterapi yang Bisa Dilakukan di Rumah


August 22, 2017 Comments (0) Views: 1715 Terapi KankerDitinjau oleh:dr. Rony Wijaya
Medical Marketing – PT. Indocare Citrapasific
Tidak hanya bagi penderita kanker, kata kemoterapi sudah terkenal luas di masyarakat sebagai terapi yang identik dengan sebuah penyakit yang bernama kanker. Sudah menjadi rahasia umum pula bahwa kemoterapi dikenal sebagai salah satu pengobatan yang banyak menimbulkan efek samping bagi penggunanya.
Efek samping yang ditimbulkan kemoterapi tidak main-main, terkadang efeknya mampu menyebabkan gangguan mental, fisik, dan penampilan yang dapat menurunkan kualitas hidup pasiennya. Padahal kualitas hidup pasien memiliki peran yang penting untuk menjaga ketahanan hidup pasien terhadap penyakit kanker yang diidapnya. Lalu apakah efek samping kemoterapi ini ada solusinya?
Semua masalah tentu ada solusinya, pada kasus kemoterapi, solusi untuk menekan efek samping yang ditimbulkannya adalah dengan memperkuat imunitas tubuh. Memang diketahui pada beberapa kasus, kemoterapi bisa melemahkan imunitas tubuh akibat ikut terpaparnya sel sehat di dalam tubuh oleh zat toksik dari kemoterapi. Namun hal ini tidak berlaku jika tubuh memiliki sistem imun yang tinggi, sistem imun yang tinggi diduga justru memiliki efek yang sinergis dengan kemoterapi.
Pada dasarnya dalam kasus kanker, kemoterapi dan sistem imun memiliki tugas yang sama yakni menekan perkembangan sel kanker dalam tubuh. Kesamaan ini yang mampu mengurangi efek samping pada tubuh. Bila sel kanker dalam tubuh hanya diserang dengan kemoterapi maka kadar kemoterapi yang digunakan cukup tinggi. Tingginya kadar toksik dalam kemoterapi tersebut dapat meningkatkan dampak kerusakan pada sel yang sehat. Namun bila perlawanan terhadap sel kanker juga dibarengi dengan terapi imun, maka kadar toksik dalam kemoterapi dapat juga dikurangi sehingga efek sampingnya pun dapat ditekan[1].

Solusi Meningkatkan Sistem Imun

Sistem imun manusia tidak serta merta bertahan dalam kondisi optimal selalu, terkadang imunitas dapat turun dan naik. Yang perlu kita lakukan adalah untuk menjaganya dalam kondisi terbaik. Berikut beberapa alternatif cara yang dapat dilakukan.
1. Tingkatkan Kualitas Tidur
Tidur merupakan aktivitas yang sangat penting untuk menunjang sistem imun, namun jangan salah, bukan berarti disini Anda diminta tidur dalam jangka waktu yang lama. Masalah tidur bukan lamanya namun kualitasnya, yakni seberapa nyenyaknya, karena dalam beberapa kasus tidur dalam waktu lama justru menjadi penyebab sakit kepala.

2. Aktif Bergerak
Bergerak dan berkeringat adalah terapi yang baik untuk meningkatkan imunitas. Pada dasarnya aktivitas bergerak (minimal 30 menit sehari) yang menghasilkan keringat mampu membantu tubuh melakukan pengeluaran racun dan membantu tubuh meningkatkan imunitas yang mampu melawan penyakit.
3. Perhatikan Asupan Makanan
Apa yang Anda makan akan mencerminkan dirimu, kalimat itu penting untuk diingat. Seseorang yang menginginkan imunitas tubuh yang baik sudah selayaknya menjaga makanannya. Mulailah untuk mengonsumsi lebih banyak buah dan sayur terutama yang kaya akan vitamin C, vitamin E, beta-carotene, dan zinc yang memiliki peran penting dalam meningkatkan imunitas dan berperan sebagai antioksidan.
4. Atasi Stres
Stres bisa dibilang menjadi sumber segala penyakit, hal ini disebabkan orang yang mengalami stres lebih berisiko melakukan hal-hal yang dapat berdampak negatif bagi kesehatan tubuhnya seperti merokok, mengonsumsi miras, makan tak terkontrol, dan lain sebagainya yang jelas-jelas dapat merusak sistem imun. Cobalah untuk mengatasi stres dengan lebih banyak berinteraksi dengan orang lain dan berbagi tawa, karena diketahui tawa mampu meningkatkan produksi sel darah putih yang baik untuk sistem imun. 5. Konsumsi Herbal Penunjang Imunitas
Penggunaan herbal memang marak di Indonesia, namun apakah herbal tersebut sudah teruji? Jamur Maitake merupakan salah satu herbal yang telah diteliti dan mendapatkan pengakuan secara international sebagai herbal yang mampu meningkatkan imunitas tubuh. Hal ini disebabkan oleh kandungan D-fraction yang ada di dalamnya. Kandungan D-fraction merupakan senyawa polisakarida aktif yang dikenal mampu meningkatkan imunitas tubuh.
Selain itu, berdasarkan beberapa jurnal penelitian ditemukan bahwa kandungan D-Fraction dalam jamur maitake (senyawa aktif 1,6 Beta-Glucan) juga mampu menekan efek samping kemoterapi seperti kerontokan rambut, rasa mual, pusing, nyeri, dan berbagai efek samping lain dari kemoterapi. Dengan begitu kualitas hidup pasien kanker dapat terjaga dengan lebih baik.
Refrensi Jurnal:
Konno, S. (2009). Synergistic potentiation of D-fraction with vitamin C as possible alternativ
approach for cancer therapy. International Journal of Medicine , 97.

Kemoterapi Akan Membuat Tubuh Tidak Nyaman, Lawan Dengan Cara Ini!

Ditinjau oleh:dr. Rony Wijaya
Medical Marketing – PT. Indocare Citrapasific
Perjuangan melawan kanker memang dikenal sebagai perjuangan yang berat, namun dengan keikhlasan, ketenangan, dan optimisme pasti semua beban itu dapat terobati satu per satu. Salah satu hal yang sering kali menguras tenaga dan optimisme para pejuang kanker adalah pengobatan kemoterapi.
Kemoterapi merupakan sebuah tindakan pengobatan kanker dengan menggunakan senyawa toksik yang di masukkan kedalam tubuh baik melalui suntikan atau pun oral. Senyawa toksik dalam kemoterapi memiliki sifat membunuh sel yang berkembang. Itulah sebabnya kemoterapi tidak memiliki kemampuan untuk membedakan sel kanker dan sel sehat. Dengan kematian sel sehat maka pasien akan mengalami beberapa efek samping seperti kerontokan rambut, rasa nyeri, mual, muntah, perubahan pada kulit hingga kehilangan nafsu makan.
Tips menekan efek samping kemoterapi sangat beragam, bisa juga disesuaikan dengan gejala yang dirasakan pasien. Berikut beberapa diantaranya:
1. Rasa Lelah Berlebih
Ketika tubuh merasa lelah dan letih setelah kemoterapi ada baiknya Anda mulai untuk mengelola pola dan kualitas tidur Anda. Akan lebih baik jika Anda masih bisa untuk sedikit berjalan santai karena itu bagus untuk memacu energi tubuh, atau jika memang Anda hanya memiliki tenaga yang sangat sedikit usahakan untuk bed-rest atau melakukan hal-hal yang Anda anggap penting saja.
2. Mual dan Muntah
Rasa mual sering melanda para pasien kanker, solusinya konsumsilah minuman yang dapat memberikan rasa rileks misalnya teh jahe. Disarankan juga untuk mengonsumsi makanan sedikit-sedikit namun sering serta mengurangi konsumsi makanan yang manis, makanan yang digoreng dan berlemak karena dapat memicu mual.
3. Perubahaan Rasa pada Lidah
Organ lidah merupakan salah satu organ yang paling terpengaruh oleh efek samping kemoterapi. Pada beberapa kasus pasien kanker dapat mengalami perubahan rasa terhadap makanannya. Salah satunya, sensasi rasa besi saat mengonsumsi makanan. Jika hal ini terjadi cobalah makan dengan alat makan plastik.
4. Kerontokan Rambut
Rambut rontok adalah efek samping yang paling umum terjadi bagi para pasien kemoterapi. Masalah ini cenderung memberikan masalah mental bagi penderitanya karena penampilannya yang berubah drastis, terutama kaum hawa. Pada masalah ini solusi yang biasa ditawarkan adalah menutupi kekurangannya yakni bisa menggunakan wig, scarf atau turban sehingga penampilannya tetap optimal. Penutup kepala bagi para pasien kemoterapi tidak hanya untuk menjaga penampilan, karena nyatanya pasien kanker juga membutuhkan pelindung terhadap bahaya sinar UV dari teriknya matahari.
5. Perubahan Abnormal pada Kulit
Kulit pasien kemoterapi akan mengalami perubahan dan cenderung sensitif, sehingga usahakan jangan menggosok atau menggaruk kulit terlalu kasar. Semisal saat mengeringkan tubuh setelah mandi, cukup dengan menepuk-nepuk saja. Anda juga perlu melindungi kulit dengan krim/sunblock ber-SPF karena sinar UV berbahaya bagi kulit pasien kanker dan menghindarkan diri dari air berkaporit.

Redakan Efek Kemoterapi dengan Topi Mutakhir


January 12, 2017  
Kerontokan rambut merupakan efek samping kemoterapi yang paling umum terjadi pada pasien kemoterapi. Hal ini dikarenakan obat kemoterapi bekerja dengan menyerang sel tubuh yang aktif membelah termasuk sel folikel rambut sehingga rambut mudah rontok . Kondisi ini tentu membuat kepercayaan diri menurun terutama bagi para kaum wanita yang menjadikan rambut sebagai “mahkota”-nya.
Tapi, kini permasalahan tersebut mulai dapat dipecahkan berkat kolaborasi pengembangan teknologi dunia medis yang berhasil menemukan sebuah terobosan yang dipercaya mampu mencegah kerontokan rambut akibat kemoterapi. Dignitana, Inc., merupakan perusahaan asal Swedia yang berhasil menemukan terobosan tersebut yang diberi nama DigniCap. DigniCap merupakan sebuah topi khusus yang diklaim dapat digunakan sebagai terapi pendamping (komplementer) untuk mengurangi efek kerontokan rambut selama proses kemoterapi.
Seperti dilansir oleh BusinessInsider, DigniCap, mampu mengurangi efek kerontokan rambut hingga 70 persen. Menurut uji yang dilakukan kepada 122 wanita yang mengidap kanker payudara stadium awal, Dignicap dapat menyelamatkan hampir setengah rambut para wanita tersebut saat melakukan proses kemoterapi.
Dalam melakukan treatment tersebut, pasien dengan kanker cukup duduk di kursi sambil menerima kemoterapi melalui infus. Lalu topi dari silikon tersebut dipasang ke kepala pasien yang dihubungkan ke unit pendingin untuk mendinginkan kulit kepala hingga mencapai suhu 3-5oC. Untuk hasil yang maksimal topi tersebut harus terus terpakai selama kemoterapi hingga 2 jam setelahnya.
Agar kerontokan rambut dapat dicegah secara optimal, pasien juga disarankan untuk mengurangi tekanan pada rambut dan kulit kepala, membatasi keramas (dua kali seminggu), menghindari pengering rambut, pengeriting rambut, atau rol. Selain itu pasien juga dianjurkan untuk mengurangi menyisir rambut atau mewarnai rambut.

Kamis, 15 Juni 2017

Perawatan Kemoterapi dan Efek Sampingnya

Kemoterapi atau biasa disebut kemo dikenal sebagai pengobatan kanker. Kemoterapi memiliki ragam manfaat dalam memerangi sel-sel kanker. Meski demikian, metode pengobatan ini juga memiliki efek samping yang tidak sedikit.
Kemoterapi mungkin diberikan selama rawat inap di rumah sakit atau klinik sebagai bagian dari pengobatan rawat jalan, meski kemoterapi juga dapat dilakukan di rumah. Namun proses pengobatan kemoterapi harus tetap diawasi oleh dokter dan perawat untuk mengamati kemungkinan efek samping atau adanya keputusan diperlukannya penggantian dengan obat-obatan.
Perawatan Kemoterapi dan Efek Sampingnya - alodokter

Memerangi Sel-sel Berbahaya

Kemoterapi merupakan salah satu jenis pengobatan yang digunakan untuk menghancurkan sel kanker yang berbahaya bagi tubuh. Cara kerjanya adalah dengan menghentikan atau memperlambat pertumbuhan sel kanker yang berkembang dan membelah diri dengan cepat. Tergantung kepada jenis kanker dan sudah sampai di stadium berapa, kemoterapi dapat bermanfaat untuk:
  • Meringankan gejala. Kemoterapi dapat memperkecil tumor yang mengakibatkan rasa sakit.
  • Mengendalikan. Kemoterapi dapat mencegah penyebaran, memperlambat pertumbuhan, sekaligus menghancurkan sel kanker yang berkembang ke bagian tubuh yang lain.
  • Menyembuhkan. Kemoterapi dapat menghancurkan semua sel kanker hingga sempurna dan ini mencegah berkembangnya kanker di dalam tubuh lagi.
Hanya saja kemoterapi juga dapat memengaruhi sel sehat yang secara normal membelah diri dengan cepat, misalnya yang berada di sekitar mulut, usus, serta rambut. Kerusakan pada sel sehat itu yang dapat mengakibatkan efek samping. Namun umumnya akan segera menghilang setelah pengobatan kemoterapi selesai.

Kapan Dilakukan Kemoterapi?

Kemoterapi terkadang dilakukan sebagai satu-satunya upaya penyembuhan kanker. Namun sering kali kemoterapi dilakukan bersama-sama dengan tindakan operasi, terapi radiasi untuk kanker, atau terapi biologis lain. Umumnya kemoterapi dilakukan pada saat:
  • Sebelum operasi atau terapi radiasi, agar ukuran tumor menjadi lebih kecil.
  • Setelah operasi atau terapi radiasi, untuk menghancurkan sel kanker yang tersisa.
  • Saat dilakukan terapi radiasi dan terapi biologis, untuk memaksimalisasi efeknya.
  • Mencegah kembalinya pertumbuhan sel kanker atau penyebaran pada bagian tubuh lain.
Cara pengobatan kemoterapi dilakukan tergantung kepada jenis kanker yang diderita, terdiri dari:
  • Topikal. Digunakan melalui krim yang dioleskan pada kulit.
  • Oral. Kemoterapi dalam bentuk pil, kapsul, atau cairan yang diminum.
  • Suntik. Diberikan melalui suntikan pada otot atau lapisan lemak misalnya di lengan atau perut.
  • Intraperitoneal (IP). Kemoterapi langsung diberikan ke dalam rongga perut yang terdapat usus, hati, dan lambung di dalamnya.
  • Intra-arteri (IA). Kemoterapi langsung dimasukkan ke dalam arteri yang menyalurkan darah ke kanker.
  • Intravenous (IV). Kemoterapi langsung dimasukkan ke pembuluh darah vena.

Kemungkinan Terjadi Efek Samping

Kemoterapi merupakan pengobatan kanker yang efektif. Terbukti telah menyelamatkan jutaan jiwa. Namun kemoterapi memiliki efek samping yang tidak kecil.Sulit untuk memprediksi seberapa berat seseorang akan mengalami efek samping dari kemoterapi sebab tiap orang memiliki reaksi yang berbeda terhadap pengobatan tersebut.
Efek samping kemoterapi muncul karena obat-obatan tersebut tidak memiliki kemampuan membedakan sel kanker yang berkembang pesat dengan sel sehat yang secara normal juga memiliki perkembangan pesat. Misalnya sel darah, sel kulit, serta sel-sel yang ada di dalam perut sehingga kemoterapi memiliki efek negatif. Berikut adalah gejala efek samping yang bisa terjadi akibat kemoterapi:
  • Rambut rontok.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Sesak napas dan detak jantung tidak biasa akibat anemia.
  • Mual dan muntah.
  • Mimisan.
  • Kulit kering dan terasa perih
  • Gampang memar.
  • Gusi berdarah.
  • Sulit tidur.
  • Gairah seksual menurun.
  • Rasa lelah dan lemah sepanjang hari.
  • Konstipasi atau diare.
Yang penting diketahui, efek samping kemoterapi tersebut akan segera hilang setelah pengobatan selesai.Selain itu, efek kemoterapi tidak akan menimbulkan akibat yang berbahaya bagi kesehatan. Meski pada beberapa kasus, efek samping kemoterapi bisa lebih serius dibandingkan yang lain. Misalnya tingkat sel darah putih yang menurun dengan cepat sehingga dapat meningkatkan risiko infeksi. Sedapat mungkin hindari diri Anda dari orang-orang yang sakit atau terkena infeksi selama kemoterapi.
Kemoterapi untuk kanker pada sel darah atau tulang sumsum merupakan yang paling berisiko terhadap infeksi karena jenis kanker tersebut telah menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah putih. Jika mengalami gejala seperti demam, diare, muntah-muntah, sulit bernapas, sakit dada atau pendarahan, segera temui dokter.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan

Sebagian besar proses pengobatan kemoterapi diberikan kepada pasien tanpa menginap di rumah sakit. Meski tiap orang memiliki reaksi berbeda setelah kemoterapi, namun sebagian besar merasakan letih dan lelah. Hindari menyetir kendaraan sendiri atau aktivitas yang memerlukan energi atau konsentrasi tinggi setelah sesi kemoterapi. Ajaklah anggota keluarga atau kawan untuk menemani Anda pulang setelah kemoterapi.Banyak orang yang masih mampu bekerja selama menjalani kemoterapi, tergantung dengan jenis pekerjaan dan ketahanan tubuh masing-masing. Namun jika memungkinkan, Anda dapat bekerja dari rumah atau paruh waktu. Bicarakan kemungkinan tersebut di tempat kerja Anda atau mengambil cuti.
Terutama bagi Anda dengan anak kecil di rumah, persiapkan dan rencanakan bantuan di rumah sebelum menjalani kemoterapi.
Selama pengobatan kemoterapi, Anda harus senantiasa berkonsultasi dengan dokter ketika ingin mengonsumsi obat-obat lain, termasuk obat alergi, herba, pereda nyeri, dan lainnya. Hindari konsumsi minuman keras setidaknya selama masa kemoterapi.
Mengobati penyakit berbahaya seperti kanker tidaklah mudah, termasuk saat  menjalani sesi kemoterapi. Sedapat mungkin ikuti perintah dokter dan hindari hal-hal yang dapat berisiko mengganggu proses pengobatan berjalan optimal.