Erwin Dariyanto - detikNews
Foto: Mei R Amelia/detikcom
Jakarta - Kontroversi soal akhir karier militer Prabowo
Subianto muncul lagi. Semua bermula dari pernyataan peneliti Saiful
Mujani Research dan Consulting (SMRC) Sirojudin Abbas yang menyebut
Prabowo Subianto yang kini jadi Ketua Umum Gerindra itu dipecat dari
karir militernya.
Pernyataan Sirojudin itu langsung dibantah oleh
Wakil Ketua Umum Gerindra Sufmi Dasco Ahmad. Bagaimana sebenarnya akhir
karier militer Prabowo?
Bacharudin Jusuf Habibie yang menjabat
Presiden saat Prabowo mengakhiri dinas kemiliteran pernah membeberkan
kisah tersebut. Habibie lah yang mencopot Prabowo Subianto kala itu dari
jabatan Panglima Kostrad.
Cerita itu ditulis Habibie dalam Buku berjudul, Detik-detik yang Menentukan. Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi (2006).
Di
halaman 111 buku tersebut terdapat cerita dialog Presiden BJ Habibie
dengan Prabowo saat dilakukan pergantian Panglima Kostrad pada 23 Mei
1998. Prabowo menghadap BJ Habibie di Istana Merdeka untuk
mempertanyakan pencopotan dirinya dari jabatan Pangkostrad.
Percakapan
antara Habibie dengan Prabowo itu dilakukan dalam bahasa Inggris
seperti kebiasaan mereka ketika bertemu. "Ini suatu pengghinaan bagi
keluarga saya dan keluarga mertua saya Presiden Soeharto, Anda telah
memecat saya sebagai Pangkostrad," kata Prabowo seperti dituturkan
Habibie dalam buku, Detik-detik yang Menentukan. Jalan Panjang Indonesia
Menuju Demokrasi (2006) yang dikutip detikcom, Senin (31/7/20117).
"Anda tidak dipecat, tetapi jabatan Anda diganti," jawab Habibie.
"Mengapa?" tanya Prabowo.
Habibie
menjawab bahwa itu dilakukan karena dia mendapat laporan dari Panglima
ABRI tentang adanya gerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta, Kuningan dan
Istana Merdeka.
"Saya bermaksud untuk mengamankan Presiden," kata Prabowo.
"Itu
adalah tugas Pasukan Pengamanan Presiden yang bertanggung jawab
langsung pada Pangab dan bukan tugas Anda," jawab Habibie kepada
Prabowo.
"Presiden apa Anda? Anda naif!" jawab Prabowo dengan nada marah.
"Masa bodoh, saya Presiden dan harus membereskan keadaan bangsa dan negara yang sangat memprihatinkan," jawab Habibie.
Percakapan
Habibie dengan Prabowo terus berlangsung memanas. Sampai akhirnya salah
satu staf khusus Presiden Sintong Pandjaitan meminta, Prabowo
meninggalkan ruangan karena Presiden Habibie akan menerima tamu
berikutnya.
Syahdan, setelah dicopot dari jabatan Panglima
Kostrad, Prabowo dikirim ke Bandung menjadi Komandan Sesko ABRI. Tak
lama kemudian Dewan Kehormatan Perwira dibentuk.
Dewan Kehormatan
Perwira dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Pangab Nomor
Sekp/533/P/VII/1998 tanggal 14 Juli 1998. Sebelum mengambil keputusan
ini, Dewan Kehormatan Perwira telah bersidang pada tanggal 10, 12, dan
18 Agustus 1998 dengan terperiksa Letnan Jenderal TNI Prabowo Subianto
sebagai Danjen Kopassus.
Dewan Kehormatan Perwira pada akhirnya
mengeluarkan surat keputusan Nomor KEP/03/VIII/1998/DKP. Surat tersebut
dibuat dan ditandatangani pada 21 Agustus 1998 oleh Ketua Dewan
Kehormatan Perwira Jenderal TNI Subagyo Hadi Siswoyo, Sekretaris Letjen
TNI Djamari Chaniago, Wakil Ketua Letjen TNI Fahrul Razi, anggota Letjen
Susilo Bambang Yudhoyono, dan anggota Letjen Yusuf Kartanegara. Isinya
adalah sederet pelanggaran Prabowo dan menutup dengan rekomendasi
pemecatan dari TNI.
Waketum Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menegaskan
bahwa Prabowo tidak pernah dipecat dari dinas kemiliteran. "Kok
dipecat? Prabowo nggak pernah dipecat. Dia diberhentikan dengan hormat
dari dinas militer," kata Waketum Gerindra Sufmi Dasco Ahmad saat
dihubungi detikcom, Senin (31/7/2017).
(erd/van)