Tampilkan postingan dengan label Titiek Prabowo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Titiek Prabowo. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Desember 2017

Manuver Cendana Kuasai Partai Beringin

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto menyatakan akan maju menjadi salah satu calon Ketua Umum Partai Golkar. Persiapan pun dilakukan putri kedua mendiang Presiden RI ke-2 Soeharto itu.
Di kediaman sang Ayah, Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat, Titiek mengundang sejumlah sesepuh Partai Golkar. Titiek mengaku sengaja mengundang para sesepuh Partai Golkar untuk meminta saran dan masukan. Hal ini guna menyusun strategi politik untuk maju dalam pemilihan ketua umum.

Beberapa tokoh senior yang hadir di antaranya mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung, mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, Emil Salim, dan Haryono Suyono. Dalam pertemuan itu Titiek didampingi oleh Siti Hardijanti Rukmana atau Tutut Soeharto.
Titiek pun mengaku tujuannya mengundang para senior Golkar untuk memberi masukan kepadanya yang berniat maju sebagai calon ketua umum.
"Kami mohon saran-saran dari para sesepuh-sesepuh ini, apa langkah-langkah terbaik yang harus kami lakukan. Kami tidak bisa berjalan sendiri, karena itu kami mohon kepada yang sudah ahli-ahlinya di sini," kata Titiek, Sabtu, 10 Desember 2017.
Dalam kesempatan itu, kepada para senior, Titiek menyampaikan niatnya maju sebagai calon Ketua umum. Mantan istri Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto itu mengaku ingin membangun kembali kepercayaan dan kecintaan rakyat kepada Partai Golkar.
Bila terpilih nanti, Titiek Soeharto akan mengembalikan marwah Partai Golkar.
"Kami akan membangun kembali kecintaan rakyat kepada Golkar. Bagaimana Golkar ini akan membangun, meneruskan cita-cita dari pendiri Partai Golkar ini. Bagaimana menyejahterakan rakyat, yang kelihatannya agak tersendat-sendat pada saat ini," terang Titiek.
Klaim Inginkan Cendana
Dia juga mengaku keinginannya tersebut berangkat dari kondisi Partai golkar saat ini yang menurutnya kehilangan kepercayaan dari masyarakat. Terlebih, kasus korupsi yang membelit sejumlah kadernya, khususnya Setya Novanto yang menjabat Ketua Umum.
"Sekarang kami merasa sangat prihatin, kok Golkarnya sudah kayak gini," kata Titiek.
Menurut Titiek, perlu langkah serius untuk mengeluarkan Partai Golkar dari masalah tersebut.
Dia yakin, bila diberi kesempatan memimpin Golkar akan mampu membawa kejayaan partai beringin itu seperti di era Orde Baru, ketika ayahnya, Soeharto menjabat presiden selama 32 tahun.
"Kemudian ke depan kalau kami sampai dipercaya tentunya, kita harus menggerakan lagi roda daripada Golkar ini. Senang atau tidak senang, bahwa rakyat di bawah itu masih menginginkan Golkar kembali ke akarnya," ucap Titiek.
Titiek pun menerangkan, bahwa yang dimaksud dengan akarnya adalah kembali ke Cendana, keluarga Pak Harto.
"Kembali ke akarnya berarti kembali ke Cendana, katakanlah Pak Harto," tandas Titiek.

Golkar Partai Kader

Klaim Titiek Soeharto yang menyebut rakyat menginginkan Golkar kembali dikuasai keluarga Cendana diprotes oleh sejumlah kader Golkar lainnya. Ketua DPP Partai Golkar Andi Sinulingga mengaku tidak setuju dengan klaim Titiek.
"Semangat Indonesia merdeka itu adalah menyejahterakan rakyat, mencerdaskan kehidupan bangsa, maju ke depan, bukan kembali ke masa lalu," ujar Andi Sinulingga saat dihubungi Liputan6.com, Minggu (10/12/2017).
Menurut Andi, rakyat menginginkan Golkar ke depan menjadi partai yang antikorupsi dan terus memperjuangkan kebutuhan rakyat.
"Rakyat ingin Golkar berubah dari perilaku politik yang koruptif menjadi benar-benar mewakili dan memperjuangkan kepentingan rakyat banyak, adaptif dengan perkembangan zaman," kata Andi.
Menurut dia, calon pemimpin Golkar harusnya bisa berpikir visioner dan tidak hanya membanggakan sejarah yang terjadi di masa lalu.
"Calon pemimpin bangsa itu harus adalah seseorang who knows the way, goes the way, and shows the way. Bukan berhenti pada romantisme masa lalu," kata Andi.
Sementara itu, petinggi Golkar lainnya Happy Bone Zulkarnain, mengingatkan Golkar telah menjelma menjadi partai modern. Suksesi kepemimpinan di Golkar bersifat demokratis.
"Karena partai modern tentu tidak mengenal dinasti. Kita tidak mengenal istilah Golkar milik keluarga siapa," tutur Happy Bone saat berbincang dengan Liputan6.com.
Bone tidak mempersoalkan rencana Titiek Soeharto. Hanya saja, ia menegaskan Golkar adalah milik kader, bukan milik keluarga Cendana.
"Dan kemudian ingin menjadi ketua umum ya harus dengan proses demokrasi. Proses itu bisa muncul di Munaslub," jelas dia.
Happy Bone menilai Titiek masih berada dalam semangat kebatinan masa lalu. Sementara, saat ini, Golkar sudah berubah mengikuti perkembangan zaman.
"Ya menurut pandangan saya tidak ada masalah (maju calon ketum). Tetapi tidak mungkin kemudian dikatakan bahwa dikembalikan ke Cendana. Itu kan sebenarnya saya mengatakan itu setback (kembali ke masa lalu)," Happy Bone menandaskan.

Titiek Didukung Senior Golkar?

Pernyataan Titiek yang ingin mengenbalikan kekuasaan Golkar seperti era Orde Baru ini juga menarik perhatian Airlangga Hartarto yang juga telahnmenyatakan diri akan maju sebagai Ketua Umum Partai Golkar.
Menurut Airlangga, harus dibedakan antara Golkar saat Orde Baru (era Presiden Soeharto) dengan Golkar baru yang telah berubah setelah reformasi.
"Golkar sudah menjadi Partai Golkar pas reformasi. Ini tentu Partai Golkar mengutamakan hal yang terkait sesudah reformasi dan Partai Golkar menjadi partai rujukan menjalanan demokrasi tersebut. Oleh karena itu semua bisa maju," jelas dia.
Dia pun menyatakan siap berhadapan dengan Titiek Soeharto. Petinggi partai pastinya menekankan terpenuhinya PLDT atau Prestasi, Loyalitas, Dedikasi, dan Tidak Tercela.
"Tidak ada yang bisa satu orang kader dihalangi sejauh itu memenuhi persyaratan PLDT," Airlangga.
Munculnya nama Titiek Soeharto dalam bursa calon ketua umum Golkar dinilai Senior Golkar sebagai hal yang wajar oleh sejumlah tokoh senior yang datang memenuhi undangan ke Cendana.
Mantan Ketua Umum Golkar Akbar Tanjung yang turut hadir mengatakan kedatangan para senior menemui Titiek hanya untuk meminta masukan.
"Tentu pada waktunya nanti, kalau dianggap penting, tentu kami akan ketemu lagi," ungkap Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Akbar Tanjung usai pertemuan di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 9 Desember 2017.
Menurut Akbar, hingga kini para sesepuh masih menunggu keputusan DPP Partai Golkar terkait dengan acara Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) yang salah satu agendanya memilih Ketua Umum.
Akbar tak menampik, pertemuan dengan keluarga Cendana bisa saja kembali dilakukan. Sambil menunggu perkembangan dan situasi politik menjelang Munaslub.
"Pertemuan ini bisa saja dilanjutkan di hari-hari mendatang sesuai dgn perkembangan-perkembangan yang terjadi d lingkungan Golkar," tandas Akbar.

Minggu, 03 Desember 2017

Titiek Soeharto Siap Jadi Ketum Golkar

Titiek Soeharto Siap Jadi Ketum Golkar Titiek Soeharto. (Foto: Grandyos Zafna)
Bogor - Wakil Ketua Dewan Pakar Golkar Siti Hediati Hariyadi mendorong agar Setya Novanto segera diganti dari jabatan ketua umum. Wanita yang akrab disapa Titiek Soeharto ini menyatakan kesiapannya untuk jadi salah satu calon ketua umum.

"Ya, kita di mana-mana anak tentara harus siap," kata Titiek usai menghadiri pertemuan FKPPI dengan Presiden Jokowi di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/11/2017).Menurut Titiek, kepemimpinan di Golkar harus segera diganti menyusul kasus yang menjerat Novanto. Dia yang juga anggota DPR ini juga mengusulkan agar Novanto diganti dari jabatan Ketua DPR.

"Secepatnya, ini kan sekarang harus secepatnya, diperlukan juga untuk pendaftaran KPU dan sebagainya itu. Harus definitif punya ketua umum," ujar Titiek.

Titiek ingin Golkar segera menggelar Munaslub. Menurutnya tak perlu ada Plt Ketua Umum yang bertugas terlalu lama.Dalam pertemuan dengan Presiden Jokowi tadi, Titiek mengaku tak diberi pesan khusus. Meski secara umum kondisi Partai Golkar juga dibahas."Nggak, kita bicara general aja mengenai wawasan kebangsaan," kata Titiek.Tiba-tiba Ketum FKPPI Ponco Sutowo yang berada di sebelahnya sempat menyeletuk. Menurut Ponco, Titiek layak jadi Ketum Golkar."Angkat dia sebagai ketum," kata Ponco.
(bag/dkp)

Jumat, 03 Maret 2017

pertemuan Anies-Uno- Titiek Prabowo

Abi Sarwanto Jumat, 24/02/2017 14:45 WIB
Anies Ungkap Obrolan Malam Bareng Probowo-Titiek Soeharto Anies Baswedan membeberkan isi pertemuan dengan Prabowo dan Titiek Soeharto semalam. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Wakil Ketua Dewan Pakar Siti Heriyadi (Titiek Soeharto) bertemu pasangan calon Anies Baswedan-Sandiaga Uno, semalam (22/2).

Anies menjelaskan, pertemuan itu merupakan silaturahmi yang telah direncanakan sejak lama. Anies tak menepis dalam silaturahmi itu juga membicarakan tentang putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017.

"Tentu lah, masa enggak ngobrolin pilkada. Tapi itu bukan agenda utama, kalau saya bilang tidak ngobrolin sama sekali, bohong lah," ujar Anies di Jakarta Utara, Jumat (24/2).

Meski tidak menjadi agenda utama, pembahasan pilkada antara Anies-Sandi dengan Titiek, juga membahas strategi di putaran kedua.

"Pasti tanya bagaimana strateginya, bagaimana ke depannya. Tapi itu bukan tema utama. Kami ngobrol kira-kira dua jam lebih, dan banyak hal diobrolin," ujarnya.

Meski demikian, Anies membantah pertemuan makan malam itu merupakan bagian dari dukungan Titiek, baik secara pribadi maupun dari Partai Golkar.

Menurut Anies, pembicaraan dukungan tidak etis dilakukan saat makan malam. Hanya saja, dia mengklaim bahwa Titiek mendukungnya di putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017.

"Enggak pas juga ya kalau makan malam membicarakan dukungan. Enggak lah, kami ngobrol santai dan kami bersyukur bahwa saya tahu Mbak Titiek mengambil sikap mendukung kami dan kami apresiasi sekali," ujar Anies.
Dihubungi terpisah, Ketua Tim Pemenangan Anies-Sandi, Mardani Ali Sera, membenarkan bahwa Titiek Soeharto telah mendukung pasangan calon nomor tiga tersebut.

"Yang pertama mengucap syukur Alhamdulillah karena Mbak Titiek mendukung Anies-Sandi. Itu tanda-tanda kami berharapnya demikian," kata Mardani.

Meski mendapat dukungan dari tokoh senior, Mardani mengatakan secara partai, Golkar masih di dalam koalisi pengusung Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat.

Dia pun yakin Golkar tidak akan mempermasalahkan dukungan tersebut. "Menurut saya salah satu partai yang matang dalam mengelola perbedaan seperti ini. Jadi Insya Allah tidak ada masalah," kata Mardani. (gil)

Dukung Anies-Sandi, Begini Kata Titiek Soeharto Soal Ancaman Golkar

Dukung Anies-Sandi, Begini Kata Titiek Soeharto Soal Ancaman Golkar
Repro/Kompas TV
Politisi Golkar yang juga mantan istri Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, Titiek Soeharto (tengah) berpose salam 3 jari bersama pasangan Cagub-Cawagub DKI Jakarta nomor urut 3, Anies Baswedan (kiri) dan Sandiaga Uno saat Anies-Sandiaga menghadiri makan malam dengan keluarga Prabowo Subianto di Jakarta, Rabu (22/2/2017). 
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Politikus Golkar Siti Hediati Hariadi atau Titiek Soeharto merasa tidak berbuat salah terkait sikap politiknya di Pilkada DKI Jakarta. Titiek menyatakan dukungannya kepada pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno di putaran kedua Pilkada DKI.
Padahal Golkar telah mendukung pasangan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok-Djarot Syaiful Hidayat.
"Saya rasa tidak ada yang salah apalagi melanggar, saya pribadi mendukung pasangan yang menurut agama saya baik," kata Titiek di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (2/3/2017).
Titiek mengatakan dirinya tidak mengajak kader Golkar lainnya untuk mendukung Anies-Sandi. Dalam menyatakan dukungannya, Titiek mengaku tidak menggunakan atribut partai.
Wakil Ketua Dewan Pakar Golkar itupun menyinggung Agung Laksono yang berbeda pilihan dengan Partai Golkar saat pemilihan presiden 2014.
"Karena itu hati beliau disana nggak apa-apalah. Kok sekarang saya dipermasalahakan," kata Titiek.
Titiek pun tak khawatir dengan pemanggilan dirinya oleh Partai Golkar terkait sikap politik di Pilkada DKI Jakarta.
"Panggil aja, saya juga gak ada maksud apa-apa, saya sebagai pribadi menurut yang terbaik pilihan saya dan secara saya sebagai orang Islam saya pilih apa saya meyakini ini betul," kata Titiek.

Titiek Soeharto dan Mitos Politik Klan Cendana di Pilkada DKI

Wishnugroho Akbar Rabu, 01/03/2017 06:30 WIB
Titiek Soeharto dan Mitos Politik Klan Cendana di Pilkada DKI Politisi Partai Golkar Siti Hediati Haryadi yang juga merupakan anak keempat Presiden ke-2 RI Soeharto. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rumah Partai Golkar sedikit terguncang di pengujung Februari. Pemicunya adalah manuver dari salah satu kader partai, Siti Hediati Hariyadi yang secara sepihak merapat ke pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Langkah yang ditempuh Titiek, sapaan Siti Hediati, jelas berseberangan dengan garis partai yang sejak awal tegas mendukung pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat.

Sejumlah elite partai bereaksi atas manuver Titiek. Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Agung Laksono, salah satunya, langsung melontarkan ancaman sanksi terhadap Titiek.Lihat juga:
Agung menyatakan kader yang secara sadar melanggar aturan kepartaian yang diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), wajib dikenakan sanksi. Menurutnya, pemberian sanksi merupakan bagian dari pembelajaran politik di internal partai.

“Kalau ada kekeliruan yang jelas-jelas disadari, apalagi tergolong kepada tindakan indisipliner wajib dikenakan sanksi. Besarnya sanksi tergantung,” ujar Agung, kemarin (28/2).

Reaksi Golkar itu terbilang wajar mengingat Titiek bukan orang sembarangan di tubuh partai. Dalam struktur, Titiek menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Golkar.
Titiek juga masih punya pengaruh mengingat dia sebagai anak keempat Presiden ke-2 RI, Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun. Nama mendiang ayahnya sampai saat ini masih melekat di belakang nama Titiek.

Sebagai bagian dari Keluarga Cendana, Titiek Soeharto pernah menjadi sosok yang berpengaruh. Tetapi itu terjadi belasan tahun lalu, tepatnya ketika Soeharto masih berkuasa. Kini, pengaruh Titiek patut dipertanyakan lagi.
Dalam konteks Pilkada DKI, pengamat politik dari Universitas Padjajaran Idil Akbar menilai dukungan Titiek tak akan berpengaruh besar terhadap kans Anies-Sandi meraih kemenangan.

Zaman telah berubah, kata Idil. Orde Baru telah lama runtuh. Soeharto juga telah tiada. Kini sosok Titiek, berikut anggapan mengenai pengaruh politiknya, hanya besar di media tapi tidak di tengah-tengah masyarakat.

"Kalaupun ada, pengaruhnya sangat kecil. Mungkin hanya akan berpengaruh di kalangan yang masih mendambakan suasana seperti era Orde Baru. Tapi jumlah mereka saya percaya sedikit sekali di Jakarta," kata Idil kepada CNNIndonesia.com.

Hal yang paling bisa dimanfaatkan kubu Anies-Sandi dari Titiek, menurut Idil, adalah hubungan emosional yang dijalin Titiek dengan sejumlah elite Partai Golkar yang pernah dekat dengan Keluarga Cendana.
Golkar memang sulit dipisahkan dengan Keluarga Cendana. Idil menyebut masih ada sejumlah elite Golkar yang memiliki kedekatan emosional dengan Keluarga Cendana, seperti Akbar Tanjung dan Setya Novanto, misallnya.

Dengan memanfaatkan kedekatan emosional itu, kata Idil, Titiek bisa membuat Golkar tidak terlalu agresif menyerang Anies-Sandi. Itu pun dengan catatan Titiek tidak mendapat sanksi dari partai terkait dukungannya kepada Anies-Sandi.

Idil menilai sederet keuntungan yang didapat Anies-Sandi tersebut tidak akan berpengaruh banyak dalam upaya meraih kemenangan Pilkada DKI. Sebab, menurutnya, preferensi politik warga Jakarta di Pilkada DKI tidak terlalu dipengaruhi oleh manuver elite partai.

Idil mengatakan, persoalan Jakarta yang sangat kompleks membuat warga cenderung lebih bersifat pragmatis dalam menentukan calon pemimpin ibu kota. Kompleksitas persoalan Jakarta itulah yang akan menjadi pertimbangan utama warga untuk menentukan siapa yang akan mereka pilih di bilik suara.
"Karena persoalan yang kompleks ini, warga cenderung memilih figur yang dianggap bisa menyelesaikannya. Jadi lebih ke figur calon, bukan pada manuver elite partai," tutur Idil.

Dengan demikian, Idil melanjutkan, keberadaan Titiek alih-alih memperbesar kans kemenangan justru bisa merugikan Anies-Sandi. Alasannya adalah citra negatif rezim Soeharto yang diyakini Idil masih melekat di sebagian warga Jakarta.

"Jadi warga bisa saja mengasosiasikan Anies-Sandi dengan Keluarga Cendana. Padahal, sebagian warga Jakarta masih ada yang meyakini bahwa Soeharto merupakan penyebab kejatuhan negara pada era 90-an," kata Idil.

Atas pertimbangan itu, Idil menyarankan agar tim pemenangan Anies-Sandi mampu mengelola dengan baik dukungan yang diberikan Titiek. Sebab, jika gagal mengelola dengan baik, Idil meyakini keberadaan Titiek bisa menjadi bumerang politik bagi Anies-Sandi.
(gil)