Selasa, 20 Desember 2016

PSSI Harus Perbaiki Kompetisi, Ini Hal-hal yang Perlu Diubah

Selasa, 20 Desember 2016 | 13:07 WIB
Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Edy Rahmayadi yang juga Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) dalam sesi foto bersama TEMPO di kantornya Jl. Merdeka Timur, Jakarta Pusat, 22 November 2016. TEMPO/Dhemas Reviyanto
TEMPO.CO, Jakarta - Kompetisi sepak bola Indonesia Soccer Championship 2016 sudah selesai bergulir Ahad lalu. Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) diminta segera membuat kompetisi liga reguler untuk musim 2017/2018. Kepengurusan baru PSSI, di bawah ketua umum Edy Rahmayadi, dituntut mampu membentuk liga yang lebih berprestasi dan jauh dari kecurangan.

Koordinator Save Our Soccer, Akmal Marhali, meminta PSSI menerapkan aturan dari Asosiasi Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dalam membuat format liga baru tahun depan. “Lima aspek, yakni kepastian hukum, keuangan, infrastruktur, dukungan, dan sumber daya manusia, harus dijalankan secara benar,” kata Akmal, ketika dihubungi Tempo, kemarin.

Akmal juga meminta PSSI membuat liga sepak bola yang sehat dari sejumlah potensi kecurangan, seperti pengaturan juara, pengaturan skor, dan pencocokan pertandingan. Edy Rahmayadi cs harus memutar otak untuk menutup setiap celah kecurangan yang saling berkaitan dan mengakar hingga manajemen klub, pemain, serta wasit.

Selain itu, PSSI diminta menuntaskan kasus dualisme klub yang belum terselesaikan sampai sekarang. Sebut saja dualisme keabsahan klub Arema Cronus dan Arema Indonesia serta Bhayangkara United dan Persebaya 1928. Selain itu, PSSI mempertegas pembelian saham klub, seperti Persiram Raja Ampat oleh PS TNI dan Persipasi Bandung Raya oleh Madura United.



“PSSI harus selesaikan ini berdasarkan aspek legal formal,” tutur Akmal. “Klub juga wajib berbentuk perseroan terbatas (PT), tak boleh lagi badan hukum bodong.”

Selanjutnya, PSSI harus mewajibkan setiap klub melakukan pembinaan pemain usia dini. Walhasil, klub bukan sekadar berfokus pada pertandingan liga atau turnamen.

Kewajiban dan hak pemain juga harus menjadi perhatian PSSI dalam membentuk liga pada 2017. Untuk pemain asing, PSSI wajib memverifikasi kelayakan setiap pemain asing berlaga di Indonesia, termasuk kewajiban syarat izin tinggal dan bekerja di Indonesia.

“PSSI harus sadar bahwa kehadiran pemain asing di Indonesia untuk transfer ilmu kepada pemain lokal,” kata Akmal.

Untuk melindungi setiap pemain, Akmal menambahkan, PSSI harus menerapkan jaminan keuangan bagi setiap klub. Tujuannya, agar pemain memperoleh kepastian pembayaran gaji.

Bambang Nurdiansyah, mantan penyerang tim nasional yang kini melatih Persita Tangerang, juga mengingatkan soal pentingnya pembatasan jumlah pemain asing dalam setiap pertandingan liga mendatang. “Agar para pemain kita berkembang. Sekarang, misalnya, jika Boaz Solossa pensiun dari tim nasional, kita belum punya penyerang tengah yang mumpuni lagi,” kata Bambang.

Adapun Akmal mengingatkan PSSI agar tidak lupa membuat aturan untuk suporter sebelum liga 2017 bergulir. Aturan tersebut akan melarang suporter melakukan tindak kekerasan dan perusakan. “Terakhir, PSSI harus bisa bikin liga yang sesuai dengan agenda tim nasional.”

Mantan pemain tim nasional lainnya, Ilham Jaya Kusuma, menyarankan agar PSSI membentuk liga yang menguntungkan dan ramah bagi kompetisi kasta tengah dan bawah. Sebab, di situlah bibit-bibit pemain Indonesia memulai karier sepak bola mereka. “Jadi PSSI dan operator liga tak hanya berfokus pada kompetisi kasta tertinggi saja,” kata Ilham, kemarin.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum PSSI Joko Driyono menyatakan pihaknya sedang meramu kompetisi terbaik untuk tahun depan. Sesuai dengan rencana, kompetisi akan berlangsung selama delapan bulan. “Kemungkinan besar dimulai Maret hingga Oktober,” kata Joko, 4 Desember lalu.

PSSI berencana membuat tiga lapis kompetisi, yakni Indonesia Super League, Divisi Utama, dan Liga Nusantara. PSSI sedang memikirkan cara terbaik  untuk mempermudah klub-klub di kasta kedua dan ketiga menekan biaya transportasi yang mahal pada setiap pertandingan.

“Yang jelas, klub dan pemain harus bertanding 20-25 kali setiap tahun agar memenuhi aturan profesional,” ucap Joko.

INDRA WIJAYA

Tidak ada komentar: