Tampilkan postingan dengan label PILKADA DKI JAKARTA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PILKADA DKI JAKARTA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 April 2017

Rekapitulasi Suara KPU DKI, Anies-Sandi Menangkan Pilkada 2017 Fachrur Rozie

Fachrur Rozie
Liputan6.com, Jakarta - Rapat pleno terbuka rekapitulasi hasil penghitungan suara Pilkada DKI 2017 usai dilaksanakan di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Sabtu malam. Penghitungan tersebut dipimpin langsung Ketua KPU DKI Jakarta Sumarno beserta komisioner lainnya.
Penghitungan surat suara tingkat Provinsi DKI Jakarta ini digelar secara terbuka dan menghadirkan saksi dari masing-masing pasangan calon. Calon Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno pun sempat hadir walau hanya sebentar.
Pantauan Liputan6.com, Sabtu (29/4/2017), dari penghitungan tingkat provinsi, pasangan calon nomor urut tiga Anies Baswedan dan Sandiaga Uno berhasil mengungguli pasangan calon nomor urut dua Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful Hidayat.
Di Kabupaten Kepulauan Seribu, pasangan Ahok-djarot mendapat 38,00%, atau 5.391 suara, sedangkan Anies-Sandi 62,00% atau 8.796. Di Jakarta Utara pasangan Ahok-Dajrot 47,27 % atau 418,068 suara dan pasangan Anies Sandi memperoleh 52,73% atau 466.340 suara.
Perolehan di Jakarta Pusat, pasangan Ahok-Djarot memperoleh suara 234.416 atau 42.23%, sedangkan Anies-Sandi memperoleh suara 333.033 atau 57.77%.
Sedangkan di Jakarta Barat, pasangan Ahok-Djarot mendapat suara 611.759 atau 47,18%, pasangan Anies-Sandi 684.980 suara atau sekitar 52,82%.
Di Jakarta Timur, pasangan Ahok-Djarot memeroleh 612.093 suara atau 38,13%, pasangan Anies-Sandi 993.173 suara atau 61,87%.
Di Jakarta Selatan, pasangan Ahok-Djarot mendapat suara sebanyak 459.639 atau 37.85%, sedangkan pasangan Anies-Sandi sebanyak 754.665 atau 62.15 %.
Total keseluruhan suara di Provinsi DKI Jakarta, pasangan Ahok-Djarot memperoleh suara sebanyak 2.350.366 atau sekitar 42.04%, dan pasangan Anies-Sandi sebanyak 3.240.987 atau sekitar 57.96%.

Jumat, 20 Januari 2017

Rilis Survei Pasca Debat Pilgub DKI, Anies-Sandi Kalahkan Ahok-Djarot

Rilis survei Pilgub DKI 2017. (Foto: Fadel/Okezone)
Rilis survei Pilgub DKI 2017. (Foto: Fadel/Okezone)Fadel Prayoga 
JAKARTA - Pilgub DKI 2017 sekira sebulan lagi akan memasuki tahap pencoblosan. Tiga calon pasangan Agus Yudhoyono- Sylviana Murni, Basuki Tjahaja Purnama- Djarot Saiful Hidayat, Anies Baswedan- Sandiaga Uno makin gencar menyapa warga demi meraih simpati dan terpilih jadi penguasa di ibu kota.
Jelang hari pencoblosan pada 15 Februari 2016, lembaga survei Grup Riset Potensial (GRP) melakukan prediksinya secara ilmiah. Dengan metode survei Stratified Systematic Sampling dalam menentukan prediksi dalam pilihan politik warga Jakarta.
Hasil survei mereka menunjukkan elektabilitas pasangan Anies-Sandi mengungguli pasangan petahana Ahok-Djarot. Anies-Sandi mendapat 23,5 % suara, sedangkan Ahok Djarot hanya 23,3 %.
"Sample yang diambil 2.745 tersebar di 27 kelurahan DKI Jakarta secara berimbang dengan margin of error di bawah 2 %," kata Direktur PT Grup Riset Potensial (GRP) Satrio Wiseno di Bumbu Desa, Cikini, Jakarta Pusat, pasca debat perdana Pilgub DKI, Senin (16/1/2017).
Satrio mengungkapkan, dari hasil survei yang didapat dari 27 kelurahan, pasangan AHY-Sylvi masih menempati posisi teratas dengan jumlah pemilih lebih dari 40 %.
Satrio menyebutkan, survei dimulai dari 2 Januari hingga 11 Januari 2017, sehingga ini merupakan hasil dari kampanye paslon yang telah dilakukan.
(abp)

Kamis, 19 Januari 2017

Siapa ke Putaran ke-2 Pilkada DKI? Ini Hasil Survei LSI Denny JA

Liputan6.com, Jakarta - Mendekati Pilkada DKI Jakarta 2017, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA kembali merilis survei terbaru.
Hasilnya, pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni memiliki elektabilitas yang lebih unggul dibandingkan dua pasangan calon lainnya yakni Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.
Peneliti LSI Denny JA Ardian Sopa mengatakan, pasangan Agus-Sylvi memiliki elektabilitas hingga 36,7 persen. Dengan angka ini, Agus-Sylvi berada di atas dua paslon lain.

"Ahok-Djarot 32,6 persen dan Anies-Sandi memiliki elektabilitas 21,4 persen. Sementara yang belum memutuskan pilihannya sebanyak 9,3 persen," tutur Ardian saat merilis hasil survei di Kantor LSI Denny JA, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (17/1/2017).
Berdasarkan survei tersebut, maka menurut Ardian, yang nantinya akan tersingkir pada putaran pertama kemungkinan besar adalah pasangan Anies-Sandi. Sebab, selisih elektabilitas mereka dibandingkan dua pasangan lainnya di atas 10 persen.
"Selisih Agus terhadap Anies maupun Ahok terhadap Anies sudah double digit atau di atas 10 persen. Sehingga jika memang pilkada hari ini, Anies tersingkir di putaran pertama. Even misalnya yang 9,3 persen ini semuanya ke Anies-Sandi," ujar Ardian.
Hasil lain dari survei tersebut juga menunjukkan bahwa masih belum ada pasangan cagub-cawagub yang memenuhi syarat untuk memenangkan Pilkada DKI. Pasalnya, ketiga pasangan calon tidak memperoleh suara lebih dari 50 persen.
Survei tersebut dilakukan pada 5 hingga 11 Januari 2017. LSI Denny JA menggunakan 880 responden dengan cara tatap muka dan menggunakan kuesioner.
Adapun metode penelitian yang digunakan adalah multistage random sampling dengan margin of error lebih kurang 3,4 persen. Survei tersebut dibiayai menggunakan dana internal LSI Denny JA.

Sabtu, 24 Desember 2016

Survei Charta Politika: Anies Unggul bila "Head To Head" dengan Agus atau Ahok

Selasa, 29 November 2016 | 18:56 WIB
Kahfi Dirga Cahya Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya saat rilis hasil survei cagub dan cawagub jelang Pilkada DKI Jakarta 2017 di kantor Charta Politika, Jakarta Selatan, Selasa (29/11/2016).
JAKARTA, KOMPAS.com — Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur, Anies Baswedan-Sandiaga Uno, berdasarkan hasil survei Charta Politika, akan unggul bila head to head dengan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni atau Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat.
Survei tersebut dilakukan menjelang Pilkada DKI Jakarta 2017. Dari hasil survei itu, elektabilitas Anies-Sandiaga ialah 34,2 persen bila berhadapan dengan Agus-Sylvi yang memperoleh 33,6 persen pemilih. Responden yang tak menjawab ialah 32,2 persen.
Selain itu, Anies-Sandi memperoleh 40,7 persen bila berhadapan dengan Ahok-Djarot yang memperoleh 32,6 persen responden. Sementara itu, responden tak memilih sebesar 26,7 persen.
Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya mengakui bahwa kondisi Anies cukup diuntungkan dan berpotensi lebih kuat bila masuk putaran kedua.
"Secara kualitatif, pertarungan terkait isu terakhir penistaan agama, demo besar, suka atau tidak, muncul isu yang terkait tudingan miring terhadap Ahok, terhadap SBY (mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono)," kata Yunarto di kantor Charta Politika, Jakarta Selatan, Selasa (29/11/2016).
Menurut dia, tak tertutup kemungkinan muncul pandangan seakan-akan ada konflik lebih besar antara kubu Agus-Sylvi dan Ahok-Djarot.
Sementara itu, Anies-Sandi dalam posisi politik seperti Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto. Prabowo, kata dia, dalam posisi aman dengan cenderung tak mempersalahkan dan disalahkan.
"(Karena itu) terepresentasi juga pasangan ini agak steril petarungan isu yang sifatnya hitam putih saling menuding," kata dia. (Baca: Charta Politika: Agus-Sylvi 29,5 Persen, Ahok-Djarot 28,9 Persen, Anies-Sandi 26,7 Persen)
Oleh karena itu, Anies-Sandi ketika masuk putaran kedua dianggap memiliki potensi peningkatan suara dari Ahok-Djarot atau Agus-Sylvi. Pengumpulan data dilakukan pada 17-24 November 2016.
Survei dilakukan dengan metode wawancara tatap muka dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Jumlah sampel sebanyak 733 responden dari 800 yang direncanakan. Responden tersebar di lima wilayah kota administrasi dan satu kepulauan.
Margin of error lebih kurang 3,5 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Survei dilakukan dengan pendanaan sendiri.
Penulis: Kahfi Dirga Cahya
Editor : Fidel Ali

Mengapa Agus Kerap "Merajai" Berbagai Survei?

Kamis, 22 Desember 2016 | 07:50 WIB
Kompas.com/Kurnia Sari Aziza Calon gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono, saat berkampanye di kawasan Cengkareng Timur, Jakarta Barat, Senin (5/12/2016).
JAKARTA, KOMPAS.com - Sejauh ini, sudah ada 6 lembaga yang telah mengeluarkan hasil survei terhadap elektabilitas para pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta yang bersaing dalam Pilkada DKI 2017. Keenam lembaga itu adalah Lingkaran Survei Indonesia (LSI Denny JA), Lembaga Survei Indonesia, Charta Politika, Poltracking, Indikator, dan Litbang Kompas.
Hampir semua survei menempatkan pasangan Agus Yudhoyono dan Sylviana Murni di urutan pertama. Elektabilitas mereka disebut lebih tinggi daripada pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.
Mengapa Agus?
Pengamat politik Yunarto Widjaja mengatakan, memang ada tren kenaikan elektabilitas yang dialami pasangan Agus dan Sylviana.
"Kalau Agus trennya naik itu iya, ada tren penurunan Ahok itu juga iya. Anies cenderung stagnan. Kenapa itu terjadi?" kata Yunarto kepada Kompas.com, Rabu (21/12/2016).
Yunarto mengatakan alasan pertama adalah Agus memiliki kesempatan lebih besar untuk menaikan elektabilitas dengan cara pengenalan. Dibandingkan dengan Ahok dan Anies, Agus merupakan calon yang sebelumnya paling tidak dikenal sebelum pendaftaran Pilkada.
Hal itu justru bagus bagi Agus karena memiliki kesempatan lebih besar untuk dikenal oleh warga.
"Ini tidak dimiliki Ahok dan Anies karena tingkat pengenalan mereka sudah mentok. Sementara Agus masih memiliki peluang. Logikanya ketika peluang pengenalan naik, maka elektabilitas juga naik," kata Yunarto.
Isu penodaan agama
Suka atau tidak, kata Yunarto, kasus dugaan penodaan agama yang menimpa salah satu cagub, yaitu Ahok, berdampak terhadap elektabilitas pasangan lain. Dalam hal ini, Yunarto berpendapat, pasangan Agus-Sylviana yang lebih mendapatkan keuntungan.
Yunarto mengatakan, tanpa bermaksud menuduh, nama Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang merupakan ayah Agus, kerap dikaitkan dengan aksi unjuk rasa bertema isu penodaan agama itu. SBY juga sempat mengeluarkan pernyataan yang arahnya mendukung aksi tersebut.
Menurut Yunarto, dugaan-dugaan tersebut menimbulkan persepsi bahwa SBY berada di posisi yang bersebrangan dengan Ahok.
"Persepsi ini suka atau tidak menguntungkan Agus untuk mendapatkan limpahan suara dari basis pemilih yang dalam tanda kutip, asal bukan Ahok," kata Yunarto.
Pasangan Anies dan Sandiaga kurang "kecipratan" keuntungan dari isu itu. Sebab, pasangan itu cenderung memilih netral terkait kasus penodaan agama.
"Prabowo bahkan seakan-akan satu kubu dengan Jokowi dalam isu ini," kata Yunarto.
Pemilih primordial
Alasan lainnya, pasangan Agus dan Sylvi dinilai memilili pasar pendukung yang kuat secara primordial. Contohnya misalnya, Sylviana sangat mungkin menggaet suara warga Betawi karena dia adalah warga Betawi. Kemudian, latar belakang militer yang dimiliki Agus juga memberi keuntungan untuk mendulang suara.
"Kemudian bukan tidak mungkin basis masa Foke (Fauzi Bowo) di tahun 2012 cenderung merapatkan diri ke Agus dan Sylvi karena Foke dulu di Partai Demokrat," kata Yunarto.
"Itu yang menurut saya menyebabkan Agus berhasil mengambil momentum," tambah dia.
Meski berada di urutan pertama, Yunarto mengatakan Agus belum bisa disebut unggul. Sebab tingkat elektabilitasnya masih beririsan dengan Ahok. Selisih margin of error tiap lembaga survei juga perlu diperhatikan.
"Jadi belum bisa disimpulkan secara statistik apakah Agus sudah unggul," kata Yunarto.
Hasil survei
LSI Denny JA mengeluarkan survei terbaru Desember 2016 ini. Hasilnya, sebanyak 33,6 persen responden survei LSI Denny JA memilih pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni (Agus-Sylvi) jika Pilkada DKI Jakarat dilakukan saat ini.
Berada di urutan kedua, pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dengan dukungan 27,1 persen, dan ketiga pasangan Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Salahudin Uno (Anies-Sandi) memperoleh dukungan 23,6 persen. Pemilih yang belum memutuskan (undecided voters) sebesar 15,70 persen.
Lembaga Survei Indonesia (LSI) juga melakukan survei Pilkada DKI 2017 pada Desember 2016. Hasilnya, sebanyak 31,8 responden LSI memilih Ahok-Djarot jika Pilkada DKI Jakarta dilakukan saat ini.
Agus-Sylviana didukung oleh 26,5 persen responden, sementara Anies-Sandiaga berada di urutan ketiga dengan dukungan 23,9 persen. Adapun responden yang belum memutuskan sebesar 17,8 persen.
Kemudian, pada November 2016, ada survei Indikator yang menyebut elektabilitas Agus-Sylvi sudah berada di angka 30,4 persen saat ini. Pasangan Ahok-Djarot berada di urutan kedua dengan eletabilitas 26,2 persen. Pasangan nomor tiga, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, disebut berada pada urutan ketiga dengan elektabilitas 24,5 persen.
Masih pada bulan November 2016, lembaga survei Poltracking Indonesia merilis elektabilitas Agus-Sylvi sebesar 27,29 persen, elektabilitas pasangan Ahok-Djarot sebesar 22 persen. Adapun pasangan Anies-Sandi memiliki elektabilitas mencapai 20,42 persen. Sebanyak 29.66 persen pemilih masih belum memilih.
Lalu, ada survei Charta Politika di bulan November yang menyebut Agus-Sylvi memperoleh 29,5 persen jika Pilkada digelar hari ini. Disusul Ahok-Djarot yang memperoleh 28,9 persen dan Anies-Sandiaga yanh memperoleh 26,7 persen. Sementara yang belum menentukan pilihan atau swing voters sebanyak 14,9 persen.
Paling akhir ada survei Litbang Kompas yang hasilnya menunjukkan elektabilitas Agus-Sylvi paling tinggi, yakni 37,1 persen. Posisi itu dibayangi ketat oleh pasangan Ahok-Djarot yang mendapat 33 persen responden.
Di posisi ketiga pasangan Anies-Sandiaga dengan potensi keterpilihan 19,5 persen. Responden yang belum menentukan pilihan tercatat sebesar 10,4 persen.

 
KOMPAS.com Hasil survei Litbang Kompas

Kompas TV AHY Janji Akan Berdayakan RT dan RW
Penulis: Jessi Carina
Editor : Egidius Patnistik

Kamis, 22 Desember 2016

Ini Hasil Survei Terakhir 5 Lembaga Riset di Pilkada DKI

Selasa, 20 Desember 2016, 17:48 WIB,Rep: Ahmad Islamy Jamil/ Red: Ilham
Republika/Mardiah
Tiga pasangan cagub dan cawagub di Pilgub DKI Jakarta 2017
Tiga pasangan cagub dan cawagub di Pilgub DKI Jakarta 2017
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hasil survei sejumlah lembaga riset opini publik dalam beberapa waktu terakhir mengisyaratkan satu kesimpulan yang sama, yaitu Pilkada DKI 2017 diprediksi bakal berlangsung dalam dua putaran. Berdasarkan jajak pendapat yang mereka lakukan sampai Desember ini, tidak ada satu pun kandidat yang mampu memperoleh 50 persen plus satu suara atau menang satu putaran.

Baik pasangan Agus Yudhoyono dan Sylviana Murni (Agus-Sylvi), Anies Baswedan dan Sandiaga Uno (Anies-Sandi), maupun Basuki T Purnama dan Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot), sama-sama punya peluang untuk lolos ke putaran kedua. Hasil survei lembaga riset Poltracking pimpinan Hanta Yuda pada 7-17 November lalu menunjukkan, elektabilitas Agus-Sylvi berhasil mengungguli para pesaingnya dengan perolehan suara 27,92 persen.
Ahok-Djarot hanya memperoleh 22 persen dan Anies-Sandi 20,42 persen. Sementara, responden yang tidak menjawab atau merahasiakan pilihannya sebanyak 29,66 persen.

Indikator Politik Indonesia juga mengungkap temuan yang hampir serupa. Menurut hasil survei lembaga riset pimpinan Burhanuddin Muhtadi itu pada 15-22 November lalu, elektabilitas Agus-Sylvi menempati posisi tertinggi dengan perolehan suara 30,4 persen, disusul Ahok-Djarot 26,2 persen, lalu Anies-Sandi 24,5 persen. Sementara, responden yang tidak menjawab sebanyak 18,9 persen.

Dalam survei yang dilakukan Charta Politika pada 17-24 November lalu pun, Agus-Sylvi juga memimpin dengan perolehan suara sebesar 29,5 persen, disusul Ahok-Djarot 28,9 persen, dan Anies-Sandi 26,7 persen. Sementara, responden yang merahasiakan pilihannya sebanyak 14,9 persen.

Selanjutnya, jajak pendapat yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA pada 3-8 Desember lalu mengungkap, elektabilitas pasangan Agus-Sylvi berada di urutan teratas dengan perolehan suara responden 33,6 persen, disusul pasangan Ahok-Djarot 27,1 persen, dan Anies-Sandi 23,6 persen. Sementara, responden yang belum menjawab sebanyak 15,7 persen.

Beberapa waktu lalu, Lembaga Survei Indonesia (LSI) pimpinan Dodi Ambardi juga merilis temuan mereka tentang Pilkada DKI. Menurut survei yang dilakukan lembaga itu pada 3-11 Desember lalu, elektabilitas Ahok-Djarot berada di urutan teratas dengan perolehan suara 31,8 persen. Berikutnya, disusul oleh Agus-Sylvi 26,5 persen dan Anies-Sandi 23,9 persen. Sementara, responden yang merahasiakan pilihannya sebanyak 17,8 persen.

Dari kelima lembaga survei di atas, hanya LSI Dodi yang memenangkan Ahok-Djarot. Sementara, empat lainnya memenangkan Agus-Sylvi. Namun, jika hasil survei kelima lembaga ini dikumpulkan dan dibuat angka rata-ratanya, maka akan diperoleh elektabilitas Agus-Sylvi sebesar 29,58 persen, Ahok-Djarot 27,2 persen, dan Anies-Sandi 23,82 persen. Sementara, undecided voters atau pemilih yang tidak menjawab sebanyak 19,39 persen.

"Hasil rata-rata lima lembaga survei tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pasangan Agus-Sylvi setidaknya sudah mengantongi tiket untuk melaju ke putaran kedua Pilkada DKI 2017,"kata peneliti dari LSI Denny JA, Adrian Sopa, kepada wartawan di Jakarta, Selasa (20/12).

Dia mengatakan, waktu yang tersisa menjelang pemungutan suara Pilkada DKI 2017 kurang dari dua bulan lagi. Menurut Adrian, begitu banyak kendala di lapangan yang membuat Ahok sulit untuk meraih dukungan mayoritas pemilih Jakarta.

"Jika tidak tumbang di putaran pertama, Ahok bakal kalah telak di putaran kedua Pilkada DKI, baik oleh Agus maupun Anies," kata Adrian.

Senin, 28 November 2016

Tak Hanya Kalah di Elektabilitas, Ahok Juga Keok di Nilai Kesukaan Publik

Sunday, 27 November 2016, 21:12 WIB,Red: Teguh Firmansyah,Republika/Tahta Aidilla
Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda.
Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga riset Poltracking telah menyelesaikan survei terbarunya dalam Pilkada DKI. Hasilnya, elektabilitas Gubenur DKI Jakarta pejawat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) kembali disalip oleh Agus Harimurti Yudhoyono.

Tak hanya itu kesukaan responden terhadap Ahok juga kalah bisa dibandingkan dengan Agus, Anies dan Sandiaga Uno.  Berdasarkan survei itu, kesukaan responden terhadap Agus mencapai 73,8 persen. Disusul Anies 71,67 persen, Sandiaga Uno (62,42 persen), Ahok (60 persen), Sylviana Murni (58,83 pesen) dan Djarot (55,5 persen).

Kendati begitu, secara popularitas Ahok masih unggul yakni mencapai 94,8 persen. Adapun Agus (87,5 persen) serta Anies (85,9 persen).

Rabu, 23 November 2016

Diposisikan Paling Buncit, Ahok Sebut Hasil Survei LSI Bagus

Minggu, 20 November 2016 | 18:15 WIB
Kompas.com/Kurnia Sari Aziza Calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok bersama Sekretaris DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi, seusai mengikuti rapat konsolidasi, di Kantor DPD PDI-P DKI Jakarta, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (20/11/2016).
JAKARTA, KOMPAS.com — Calon gubernur petahana DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, mengapresiasi hasil survei terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA.
Dalam hasil survei tersebut, Ahok dengan Djarot Saiful Hidayat menempati posisi terbuncit dibanding Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.
"Saya kira bagus," kata Ahok, di Kantor DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) DKI Jakarta, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (20/11/2016).
Saat menjawab pertanyaan wartawan ini, Ahok didampingi oleh anggota DPD PDI-P DKI Jakarta. Sontak, anggota PDI-P menyerukan, "Menang satu putaran". Mendengar itu, Ahok tersenyum.
Dia mengatakan, hasil survei ini membuat anggota PDI-P semakin semangat memenangkan Ahok-Djarot.
"Kalau hasilnya semakin menurun berarti teman-teman tambah semangat bekerja. Katanya mereka (LSI), saya bakal tersingkir di putaran pertama. Tentunya teman-teman PDI-P akan berjuang supaya kami menang satu putaran," kata Ahok tertawa.
Berdasarkan survei LSI Denny JA terbaru, elektabilitas Ahok-Djarot turun dari 24,6 persen menjadi 10,6 persen untuk pertanyaan terbuka, dan 11,50 persen untuk pertanyaan tertutup. Penurunan disebabkan penetapan Ahok sebagai tersangka oleh Bareskrim Polri.
Elektabilitas Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, sebelum Ahok menjadi tersangka, berada di angka 20,90 persen. Namun, setelah Ahok menjadi tersangka, dukungan untuk Agus-Sylvi mengalami peningkatan 30,90 persen (pertanyaan terbuka) dan 32,30 persen (pertanyaan tertutup).
Sementara itu, Anies Baswedan-Sandiaga Uno, dari 20,00 persen saat Ahok belum menjadi tersangka, kini menjadi 31,90 persen (pertanyaan terbuka) dan 31,10 persen (pertanyaan tertutup). (Baca: Survei LSI Denny JA: Pendukung Ahok-Djarot Berkurang)
Adapun jumlah swing voters atau pemilih yang belum memutuskan mengalami penurunan. Sebelum Ahok tersangka mencapai 34,50 persen, setelah Ahok tersangka menjadi 26,60 persen (pertanyaan terbuka) dan 25,10 persen (pertanyaan tertutup).
Hasil survei tersebut dilakukan pada 31 Oktober-5 November 2016 dengan melibatkan 440 responden, melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner. Margin of error-nya lebih kurang 4,8 persen. Survei diklaim didanai oleh LSI Denny JA sendiri.

Sabtu, 12 November 2016

Bawaslu: Agus-Sylvi Paling Banyak Melanggar

Nuriman Jayabuana    •    Jumat, 11 Nov 2016 07:08 WIBBawaslu: Agus-Sylvi Paling Banyak Melanggar

Cagub DKI Jakarta nomor urut satu, Agus Harimurti Yudhoyono menyam;aikan sambutan dalam Tausiyah di Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta, Rabu (9/11/2016). Foto: MI/Arya Manggala
Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DKI Jakarta tengah menyelidiki sejumlah dugaan pelanggaran yang terjadi selama dua pekan masa kampanye. Seluruh pasangan calon gubernur dan wakil gubernur diduga melakukan pelanggaran dalam berbagai bentuk.

"Dugaan pelanggaran itu kami peroleh berdasarkan hasil temuan pengawas," ungkap Ketua Bawaslu DKI Mimah Susanti di Jakarta, Kamis 10 November 2016.Menurutnya, dugaan pelanggaran kampanye terbanyak dilakukan pasangan nomor urut 1 Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni. Tim kampanye Agus-Sylvi diduga melakukan 15 pelanggaran.

Pelanggaran paling banyak yang dilakukan tim Agus-Sylvi berkenaan dengan tidak adanya izin kampanye. Hingga kemarin, pihak Bawaslu mengaku baru menerima satu permohonan izin kampanye yang diajukan pasangan itu.

"Kampanye dihadiri banyak orang, ada spanduk, ada penyampaian hal-hal yang berisi visi dan misi, tapi tidak dilaporkan," ujar Mimah.

Tim kampanye Agus-Sylvi tercatat tidak melaporkan kegiatan kampanye di 10 lokasi berbeda. Mereka diduga melanggar ketentuan kampanye yang melibatkan relawan tidak terdaftar, memanfaatan fasilitas negara, melibatkan anak-anak, dan memasang peraga kampanye yang tidak sesuai dengan ketentuan.

Selanjutnya, pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno diduga melakukan lima panggaran, yakni politik uang, perizinan kampanye, melibatkan anak-anak, melibatkan relawan tidak terdaftar, dan menggunakan tempat ibadah.

Sementara itu, pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hadayat diduga lakukan tiga palanggaran, yakni menggunakan fasilitas negara, tidak mengantongi izin kampanye, dan melibatkan relawan tidak terdaftar.

Bawaslu DKI akan menyelidiki lebih lanjut untuk membuktikan kebenaran dugaan pelanggaran itu. Mimah mengingatkan seluruh tim kampanye agar mematuhi ketentuan kampanye. "Relawan yang ingin berkampanye harus mendaftar ke KPU DKI dan melakukan kampanye sesuai dengan batasan," ujarnya.

Bahan evaluasi

Di sisi lain, berkenaan dengan penolakan terhadap pasangan calon tertentu saat hendak berkampanye, hal itu mendapat perhatian serius pihak kepolisian. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono menegaskan aksi itu telah menjadi perhatian kepolisian dan Bawaslu.

"Kita selalu adakan evaluasi terkait dengan pengamanan. Hari ini (kemarin) kita mau evaluasi masalah itu dengan Bawaslu," kata Awi.

Menurut dia, penolakan terhadap pasangan calon yang hendak berkampanye menjadi ironi bagi kontestasi dalam pilkada. Kejadian penolakan itu akan menjadi masukan bagi pihak kepolisian.

"Pada intinya kejadian semacam itu jadi keprihatinan kita bersama. Menyikapi itu, tentunya polisi menjadikannya bahan masukan untuk perencanaan pengamanan terkait dengan paslon yang ada penolakan, termasuk juga info intelijen sangat berguna," kata Awi.(MBM)

NasDem Akan Evaluasi Dukungan Jika Ahok Berstatus Tersangka

Jum'at, 11 November 2016 | 23:02 WIB
NasDem Akan Evaluasi Dukungan Jika Ahok Berstatus Tersangka  
Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh (kanan) berjabat tangan dengan Gubernur Jakarta Basuki Basuki Tjahaja Purnama, saat menghadiri acara pelantikan pengurus DPW, DPD, DPC, dan DPRD Partai NasDem DKI Jakarta di Istora Senayan, Jakarta, 20 Maret 2016. Partai Nasdem, menyatakan mendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai bakal calon gubernur DKI Jakarta pada Pilkada 2017. TEMPO/Eko Siswono Toyudho
TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh mengatakan partainya bakal mengevaluasi dukungan kepada Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Evaluasi terjadi bila status Ahok ditingkatkan sebagai tersangka. Ahok tengah diperiksa Bareskrim atas dugaan kasus penistaan agama.

NasDem, kata dia, akan mengutamakan kesatuan bangsa. "Kalau Ahok tersangka kita evaluasi dia (Ahok) dalam hal aspek yuridis hukum dan moralitas. Moralitas kita sebagai partai pendukung," kata Paloh setelah mengikuti perayaan ulang tahun ke lima partainya di kantor DPP Partai NasDem, Jakarta, Jumat 11 November 2016.

Baca: Surya Paloh Sebut Langlah Ahok Semakin Berat

Saat menggelar konferensi pers di rumahnya kemarin, Ahok mengatakan ada pihak yang memintanya mundur dari pencalonan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2017. Namun Ahok tidak menyebutkan siapa pihak yang dimaksud.

Permintaan agar ia mundur datang setelah banyak orang mulai membicarakan dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok. Ahok pernah menyinggung Surat Al-Maidah ayat 51 dalam pidatonya saat berkunjung ke Kepulauan Seribu pada 27 September 2016.

Menurut dia, kepentingan nasional harus diutamakan. Pilkada DKI Jakarta, kata dia, bukanlah segala-galanya untuk partainya. "Kalau saya ini, apa.yang terbaik untuk bangsa ini saja. Ya kalau memang benar tidak baik untuk bangsa, ya saya bilang jangan," ujar dia.

Meski begitu, Paloh meminta berbagai pihak menghormati hukum yang berlaku. Sebab, secara konstitusi, calon dan partai pendukung tak diperbolehkan untuk menarik dukungan dan mundur dari pencalonan. "Saya ingin mengajak bangsa menempatkan masalah ini secara proporsional mementingkan persatuan bangsa di atas kepentingan partai, kelompok, dan golongan," kata dia.

ARKHELAUS W.

Kenapa Djarot Mudik ke Blitar di Tengah Masa Kampanye?

Jum'at, 11 November 2016 | 04:10 WIB
Kenapa Djarot Mudik ke Blitar di Tengah Masa Kampanye?
Wakil Gubernur DKI Jakarta nonaktif Djarot Saiful Hidayat membeli 12 jajanan di Pasar Gaplok RW 03, Kelurahan Kramat, Jakarta, 8 November 2016. Jajanan itu ia bagikan kepada warga setempat. TEMPO/Lani Diana
TEMPO.CO, Blitar - Wakil Gubernur DKI nonaktif Djarot Saiful Hidayat mengadakan selamatan bersama tetangga di kampung halamannya di Blitar, Kamis malam, 10 November 2016.

Bersama para tetangga di Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kota Blitar, calon wakil gubernur yang berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok ini menggelar selamatan sederhana memperingati Hari Pahlawan yang jatuh setiap 10 November. Ia mudik ditemani istrinya, Happy Farida.

Acara selamatan itu, ucap bekas Wali Kota Blitar tersebut, bertujuan menyerap semangat perjuangan para pahlawan, termasuk mantan Presiden RI. “Saya membuat selamatan peringatan Hari Pahlawan di rumah Ngadirejo,” kata Djarot di Blitar, Kamis, 10 November 2016.

Djarot mengungkapkan niatnya memperingati Hari Pahlawan dengan berziarah ke sejumlah makam pahlawan, seperti makam Presiden RI pertama Soekarno di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Kamis sore, 10 November 2016. Rencananya, Djarot juga akan berziarah ke makam Presiden RI keempat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, KH Wahid Hasyim, dan KH Hasyim Asyari serta bersilaturahmi ke kalangan Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jumat pagi, 11 November 2016.

Kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini mengaku optimistis memenangi pemilihan kepala daerah di Ibu Kota. Demonstrasi pada 4 November lalu oleh ribuan muslim terhadap pasangannya, Ahok, menurut dia, tak akan mempengaruhi sikap politik masyarakat DKI. “Mereka sudah cerdas, kok,” ujar Djarot.

Untuk menghadapi survei yang menyebut elektabilitas Ahok-Djarot menurun, Djarot akan tetap berkampanye mensosialisasi visi-misinya. Dia yakin mayoritas warga Ibu Kota puas dengan kepemimpinannya selama ini. Penolakan yang terjadi di beberapa tempat, tutur dia, dilakukan sekelompok orang yang tak mewakili warga setempat.

Djarot juga menyayangkan masih rendahnya pemahaman masyarakat dalam berdemokrasi hingga muncul penolakan terhadap Ahok saat blusukan. Padahal banyak kandidat yang diterima dengan baik saat berkampanye di kantong PDIP.

Pasangan Ahok-Djarot mengalami penolakan saat berkampanye di Rawa Belong, Jakarta Barat, dan Cilincing, Jakarta Utara. Atas tindakan sekelompok orang tersebut, tim kampanye PDIP telah melapor ke Badan Pengawas Pemilu. HARI TRI WASONO

Kisah Lenji Akui Program Ahok Bagus, tapi Pilih Sandiaga Uno

Jum'at, 11 November 2016 | 14:49 WIB
Kisah Lenji Akui Program Ahok Bagus, tapi Pilih Sandiaga Uno
Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno, berdialog dengan warga Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat, 11 November 2016. TEMPO/Chitra
TEMPO.CO, Jakarta - Lenji, warga Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat, mengatakan akan mendukung calon Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno, dalam pemilihan kepala daerah nanti. "Asal bukan Ahok (calon Gubernur DKI inkumben, Basuki Tjahaja Purnama), kami dukung," ucapnya saat berdialog dengan Sandiaga, Jumat, 11 November 2016.

Lenji mempertanyakan nasib wilayah kampungnya yang masuk salah satu jalur hijau. "Program Pak Ahok memang bagus, kelanjutannya bagaimana? Kalau dilihat, wilayah kita masuk jalur hijau, apa yang akan Bapak lakukan?" ujar Lenji kepada Sandiaga.

Baca Pula
Survei LSI: Elektabiltas Ahok Kempis, Pemilih ‘Wait and See’
Kenapa Djarot Mudik ke Blitar di Tengah Masa Kampanye


Mendengar pertanyaan warga tersebut, Sandiaga berjanji tidak akan semena-mena melakukan penggusuran. "Saya pengusaha, kalau sudah janji, pasti ditagih terus. Janji itu utang, bukan kutang," ucap Sandiaga yang disambut gelak tawa warga.

Sandiaga mengaku akan melakukan pendekatan seperti mendiang mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin jika melakukan penggusuran. "Kita mendukung apa yang sudah dilakukan Ali Sadikin. Putra sulungnya, Boy Sadikin, ada sama kita," tuturnya.

Sandiaga juga berkomitmen memberantas korupsi. Jika nanti dalam birokrasinya ada yang korupsi, dia mengaku tidak segan-segan mengeliminasi. "Kami akan apresiasi. Kami juga akan memberikan pesan singkat untuk yang kurang. Dan kita akan amputasi buat yang nyolong," kata Sandiaga. CHITRA PARAMAESTI | KS

Ahok Kampanye Ditolak, Ini Kata Ketua Bawaslu

Jum'at, 11 November 2016 | 17:25 WIB
Ahok Kampanye Ditolak, Ini Kata Ketua Bawaslu  
Puluhan orang yang mengaku warga Kedoya, Jakarta Barat, menolak kedatangan Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok untuk blusukan ke wilayahalnya, Kamis, 10 November 2016. TEMPO/Larissa
TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Badan Pengawas Pemilu Muhammad mengatakan lembaganya tengah mengkaji kasus penolakan warga terhadap kampanye yang dilakukan calon inkumben Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ia mengaku, tak mau buru-buru menyimpulkan insiden tersebut.

"Kami tidak boleh terburu-buru menyimpulkan ada pihak yang menggiring, sekarang lagi dikaji," kata Muhammad di Hotel Ibis, Hayam Wuruk, Jakarta, Jumat, 11 November 2016.

Muhammad mengatakan telah memiliki beberapa bukti berupa video penolakan kampanye Ahok yang dimiliki Panitia Pengawas Pemilu. "Kalau ada yang terang-terangan melakukan penghalangan terhadap kampanye paslon, ya kami proses pidana," ujarnya.

Baca: Tak Blusukan ke Basis FPI, Ahok: Saling Serang Hanya di Film

Isu penolakan terhadap Ahok mengemuka setelah beberapa kali ditolak warga ketika hendak berkampanye. Terakhir, pada 10 November 2016, Ahok yang dijadwalkan blusukan di Kedoya, Jakarta Barat, batal. Puluhan orang yang mengatasnamakan warga Kedoya Utara menolak kedatangan Ahok.

Kejadian tersebut bukan yang pertama. Ahok juga pernah ditolak segelintir warga di Lenteng Agung dan Rawa Belong, Jakarta Barat. "Sebenarnya kami tidak menduga juga ada praktik seperti ini, ini baru terjadi," ujar Muhammad.

Baca: Kampanyenya Dihadang, Ahok: 'Saya Kasihan Sama Anak-anak'

Muhammad mengimbau warga DKI Jakarta untuk tidak menghalangi kampanye-kampanye pasangan calon gubernur. "Kalau ada akan kita tindak tegas," ujarnya.

Ketua Komisi Pemilihan Umum Juri Ardiantoro menegaskan, tak satu pun boleh menghalangi hak calon berkampanye. Ia meminta Panitia Pengawas Pemilu dan aparat keamanan memproses pihak yang menghalangi kampanye calon. "Siapa pun yang menghalangi kampanye bisa dipidana," katanya.

Jumat, 11 November 2016

Ahok: Saya Sudah Diminta Mundur dari Pilgub DKI 2017

Danu Damarjati - detikNews
Ahok: Saya Sudah Diminta Mundur dari Pilgub DKI 2017 Foto: Hasan Alhabshy
FOKUS BERITA:Jakarta - Calon gubernur petahana Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), mengaku ada pihak yang meminta dirinya mundur dari pencalonan di Pilgub DKI 2017. Kenapa?
"Saya sudah diminta untuk mundur karena sudah dilaporkan akan terjadi ketidakpastian dan kekacauan," kata Ahok dalam perbincangan di kantor detikcom, Jl Warung Jati Barat, Jakarta Selatan, Kamis (9/11/2016).

Namun Ahok menegaskan dirinya akan jalan terus. Dia menjelaskan bahwa keberadaan dirinya di Pilgub DKI 2017 ini sekalian untuk mengedukasi masyarakat. Lewat kampanye yang dijalankannya maka visi, misi, dan program yang disodorkan bisa dipertimbangkan orang banyak. Di sinilah pertimbangan dengan akal sehat terjadi."Saya kira ini bagian dari edukasi rakyat," kata Ahok.

Namun bila dirinya mundur, tugas mengedukasi rakyat itu bakal terbengkalai. Tak masalah bagi Ahok bila nantinya dia kalah di Pilgub DKI, asalkan dia sudah berusaha menjelaskan soal visi, misi, dan program ke masyarakat.Saya lebih ikhlas kalah, tapi semua ide saya tentang visi, misi, dan program orang bisa dengar," ujar Ahok.

Sebelumnya, dua calon gubernur DKI Jakarta yaitu Agus Yudhoyono dan Anies Baswedan telah mengunjungi kantor redaksi detikcom. Agus berkunjung pada 6 Oktober 2016 sementara Anies dan Sandiaga Uno datang pada 13 Oktober 2016.
(dnu/van)

Sabtu, 05 November 2016

Bamus: 100 Persen Warga Betawi Tolak Ahok Jadi Gubernur


Jakarta, HanTer - Penolakan warga terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok untuk menjadi Gubernur DKI pada periode 2017-2022, terus disampaikan. Badan Musyawarah (Bamus) Betawi menegaskan, 100 persen warga asli Jakarta tidak memilih akan memilih Ahok pada Pilkada DKI 2017.

Penolakan terhadap mantan Bupati Belitung Timur itu juga disampaikan sejumlah tokoh dan ulama Jakarta baru-baru ini.

Penolakan terhadap Ahok itu disampaikan saat Badan Musyawarah (Bamus) Betawi bertemu dengan petinggi partai koalisi kekeluargaan kecuali PDI Perjuangan.

Ketua Penasehat Bamus Betawi, Nachrawi Ramli mengatakan, setelah melakukan konsolidasi dikalangan sesepuh dan keluarga besar Betawi, pihaknya mendapatkan laporan bila seluruh warga betawi menginginkan pemimpin yang berasal dari daerahnya sendiri. Bukan pemimpin dari luar Betawi termasuk petahana.

Untuk itu, kata dia, dalam pertemuan dengan para petinggi partai koalisi kekeluargaan Kamis (25/8) malam, dirinya meminta agar ada putra-putri asli daerah yang dimajukan dalam Pilkada DKI 2017 mendatang.

"Masyarakat inti Ibu Kota Jakarta itu 100 persen kompak akan mendukung putra daerahnya sendiri. Betawi rindu menjadi tuan rumah di kotanya sendiri, dan itu berarti menolak cagub lain termasuk petahana," kata Nachrawi usai menggelar pertemuan di salah satu rumah makan yang terletak di Jalan Pramuka, Jakarta Pusat.

Ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta itu menuturkan, Pilkada 2017 berbeda dengan Pilkada 2012 dimana saat ini warga Ibu Kota memiliki kesadaran yang tinggi untuk adanya perubahan di Jakarta. Diapun berharap Partai Demokrat mengambil keputusan yang sama dengan partai yang tergabung dalam koalisi kekeluargaan.

"Mudah-mudahan pekan depan sudah ada keputusan. Ingat, lawan kita kali ini beda dengan kemaren (Pilgub DKI 2012). 100 persen kita kompak," ujar Nara yang enggan merinci apa perbedaan yang dimaksud.

Tokoh dan Ulama

Sebelumnya, sejumlah tokoh dan ulama Jakarta dengan tegas menolak Ahok untuk menjadi Gubernur DKI pada periode masa jabatan 2017-2022. Penolakan itu disepakati tokoh dan ulama Jakarta dalam diskusi yang digelar di Masjid Al Azhar, Jakarta Selatan, Kamis 11 Agustus 2016.

Ketua Dewan Pemilih, KH Mahfudz Asirun, mengatakan umat Muslim Jakarta hanya ingin Ibu Kota dipimpin Gubernur yang berasal dari kalangan Muslim saja. Alasannya, hanya pemimpin Muslim yang dapat mempersatukan umat Islam di Jakarta.

Disisi lain, Ketua Umum Bamus Betawi, Zainuddin (Oding) yang ikut hadir dalam pertemuan Bamus dengan koalisi kekeluargaan, menyebut ada dua tokoh kharismatik asli Betawi yang pantas memimpin Ibu Kota, pertama Sekretaris Daerah DKI, Saefullah dan kedua, Deputi Gubernur Bidang Pariwisata dan Kebudayaan DKI, Sylviana Murni.

Menurutnya, kedua tokoh yang kenyang pengalaman di birokrasi Pemprov DKI itu layak disandingkan dengan Cagub asal Gerindra yang disepakati oleh koalisi kekeluargaan, yakni Sandiaga Salahuddin Uno.

"Penduduk asli Betawi harus dihormati. Betawi juga banyak stok orang pinter, saatnya tokoh Betawi memimpin Ibu Kota," ujarnya.

Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD DKI Jakarta itu menilai wajar bila tokoh Betawi meminta diperhatikan. Sebab, selain merupakan penduduk asli Jakarta, populasi suku Betawi saat ini mencapai 27,6 persen, atau sekitar 3 juta jiwa.
"Dengan 27,6 persen suara yang dimiliki, saya atas nama warga Betawi berharap kepemimpinan Ibu Kota kedepan adalah tuan rumah Jakarta, ini aspirasi datang dari akar rumput. Bukan keinginan saya pribadi lho," tegasnya.

Tampung Aspirasi

Sementara itu, Ketua DPD Partai Gerindra DKI Jakarta, M Taufik, siap menampung aspirasi Bamus untuk mendampingkan Sandiaga dengan sosok betawi seperti Saefullah dan Sylviana Murni. Menurutnya, kedua sosok betawi yang disampaikan Bamus merupakan sosok yang masuk dalam penjaringan Partai Gerindra.

"Ya ini kan sudah kami sepakati bila dua nama ini yang akan kami jadikan wagub. Kami akan laporkan ke DPP bila hasil musyawarah koalisi kekeluargaan menginginkan ini," ungkapnya.

Ketua DPW PKB DKI Jakarta, Hasbiallah Ilyaz yang turut hadir dalam pertemuan tersebut pun sangat mendukung aspirasi Bamus. Terlebih, sosok Saefullah merupakan sosok yang mewakili visi misi PKB lantaran dirinya merupakan ketua PWNU DKI Jakarta.

"Dari awal PKB melihat Saefullah. Tapi karena harus koalisi ya kami tidak bis putuskan sendiri. Kami harap partai kekeluargaan semakin solid," ujarnya.‎
(Sammy)

Rabu, 23 Maret 2016

RIVALITAS TEMAN AHOK, SAHABAT jAROT DAN rELAWAN LULUNG

Ahok Santai Tanggapi Sahabat Djarot dan Relawan Haji Lulung

Ahok Santai Tanggapi Sahabat Djarot dan Relawan Haji Lulung Gubernur DKI Ahok santai menanggapi sejumlah gerakan masyarakat yang mendukung pencalonan rivalnya di gelaran Pilgub 2017 seperti Sahabat Djarot dan Relawan Haji Lulung. (CNN Indonesia/Resty Armenia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok santai menanggapi sejumlah gerakan masyarakat yang mendukung pencalonan rivalnya di gelaran Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 mendatang seperti Sahabat Djarot dan Relawan Haji Lulung. Ahok beranggapan pencalonan dirinya di pemilihan mendatang tak akan terancam dengan keberadaan mereka.

"Saya kira bagus. Tugas partai politik dalam undang-undang itu adalah pendidikan politik. Saya kira adalah proses yang penting, proses politik penting bagi negara ini," kata Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (21/3). Gerakan masyarakat tersebut muncul menyusul gerakan untuk mendukung eks politikus Gerindra ini, Teman Ahok.

Sahabat Djarot mendukung pencalonan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat sementara Relawan Haji Lulung mengumpulkan massa untuk mendukung Wakil Ketua DPRD Abraham Lunggana alias Lulung.

Ahok justru merasa pertarungan Pilgub DKI Jakarta harus dilakukan dengan terbuka. "Nanti ketahuan siapa yang keliatan jutek nanti ketahuan siapa yang rasis, dan ketahuan siapa yang ngomongnya tidak berpancasila ketahuan nanti," katanya.

Menurut Ahok, masyarakat sudah tak apatis dengan kegiatan politik. Masyarakat juga mendapat informasi dari sejumlah media. Alhasil, mereka sendiri lah yang akan menentukan sikap dukungannya pada calon gubernur tertentu.

Ahok juga mengaku tak akan ambil pusing lantaran dirinya juga mendapat dukungan dari partai meski maju melalui jalur independen. Partai NasDem telah mendeklarasikan dukungan pada dirinya, Minggu (20/3).

"Ya saya sampaikan ide ini ke Nasdem dan Pak Surya Paloh (Ketua Umum Partai NasDem). Saya sampaikan kami butuh membangkitkan kepercayaan masyarakat pada politisi," katanya.

Ahok menambahkan, banyak partai politik yang tidak meminta mahar dan mencari keuntungan untuk mendukungnya. "Bangak parpol yang cari terbaik dan tidak terima suap, mau kerja, tidak berpihak dan mau jadi pemimpin. Di samping NasDem, ia juga mengklaim akan mendapat dukungan dari Hanura, PAN, dan PKB.

"Hanura katanya mau deklarasi dan minta saya hadir. PAN dan PKB sebetulnya lagi menunggu survei," katanya. (bag)

Sahabat Djarot Bisa Tandingi Teman Ahok, tapi Djarot Tak Mau Ambil Pusing

Kamis, 17 Maret 2016 21:03Sahabat Djarot Bisa Tandingi Teman Ahok, tapi Djarot Tak Mau Ambil Pusing


Warta Kota/Junianto Hamonangan
Salah satu kegiatan Wagub DKI Jakarta Djarot Saeful Hidayat meresmikan Taman Manyang di RW 011 Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur. Djarot diprediksi bisa melejit jika dicalonkan sebagai salah satu kepala daerah di DKI Jakarta melalui PDIP.
WARTA KOTA, PALMERAH -- Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengaku sudah mengetahui munculnya "Sahabat Djarot" dalam tagar #SahabatDjarot di media sosial.
Relawan ini diprediksi bisa menandingi Teman Ahok dan relawan-relawan lain yang menjamur jelang pelaksanaan Pemilukada DKI Jakarta.

Menurut dia, tagar yang dimunculkan bersamaan dengan foto karikatur wajah ciri khas Djarot itu dibuat Komunitas Banteng Muda (KBM) yang masih berafiliasi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). "Ah biar sajalah. Aku baru tahu dari media. Setelah kami cek, ternyata yang bikin itu anak-anak dari Komunitas Banteng Muda," kata Djarot di Balai Kota, Kamis (17/3/2016).

Djarot mengaku tidak ada komunikasi antara dirinya dan KBM terkait gambar dirinya di media sosial tersebut.Adapun salah satu anggota KBM adalah Banyu Biru Djarot, yang juga mengunggah gambar itu di akun media sosialnya."KBM itu isinya Banyu Biru sama anak-anak muda lainnya," ujar Djarot. Meskipun demikian, Djarot menegaskan bahwa dukungan dari KBM terhadapnya itu bukan sikap resmi PDI-P. Menurut Djarot, PDI-P hanya mengeluarkan instruksi agar dia fokus bekerja dengan baik hingga tahun 2017 mendatang. Selain itu, para kader juga diinstruksikan mengawal pemerintahan Basuki-Djarot. "Kami enggak terpengaruh manuver. Mekanisme (pengusungan calon gubernur oleh PDI-P) sedang berjalan. Aku juga enggak mau mikirin yang lain, biarin saja," ucap Djarot.

Sahabat Djarot dimunculkan oleh Banyu Biru lewat akun Twitter-nya, @banyubiru, dalam tagar #SahabatDjarot pada Selasa (15/3/2016).Tagar #SahabatDjarot itu dimunculkan bersamaan dengan foto karikatur wajah ciri khas mantan Wali Kota Blitar itu. Di samping gambar itu, ada tulisan, "Djarot For Djakarta".Foto Sahabat Djarot kembali diunggah Banyu. Selain ada foto Djarot, di sampingnya bertuliskan sebuah kata-kata."Dari Blitar ke Djakarta. Harus pintar-pintar biar gak gelap mata. Djarot ke Djakarta, udah pasti kerja nyata. #SAHABATDJAROT." (Kurnia Sari Aziza)

30 Maret 2016, Lulung Akan Resmikan Relawan Suka Haji Lulung

Kamis, 17 Maret 2016 | 08:16 WIB
Ambaranie Nadia K.M Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham Lunggana alias Lulung.
JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua DPRD DKI Abraham "Lulung" Lunggana sedang mempersiapkan basis relawan yang dia beri nama "Suka Haji Lulung". Kelompok relawannya itu akan diresmikan akhir bulan ini.
"Basis di Suka Haji Lulung nanti akan kita umumkan tanggal 30 Maret. Kita akan deklarasikan," ujar Lulung di Gedung Joang 45, Jalan Menteng Raya, Rabu (16/3/2016).
Lulung membandingkan kelompok relawannya dengan kelompok relawan Teman Ahok. Jika dibandingkan dengan relawannya, Lulung mengatakan umur Teman Ahok baru seumur jagung.
Sebab relawan Suka Haji Lulung merupakan perkembangan dari kelompok Halus (Haji Lulung Untuk Semua) yang sudah dia gunakan sejak lama. Salah satu pendiri Suka Haji Lulung, Deny Kusuma mengatakan bahwa kelompok relawan Suka Haji Lulung akan bertugas menggalang dukungan hingga tingkat RT. Nantinya, mereka akan membuka posko-posko di tiap wilayah.
"Jadi ini lebih kepada penggalangan kekuatan lah ya," ujar Denny. (Baca: Gerilya Lulung di Pusaran Pilkada DKI )
Sebelum diluncurkan, akun Path Suka Haji Lukung juga sudah lebih dulu launching. Akun tersebut memuat kegiatan-kegiatan yang dilakukan Lulung seharian, termasuk aktivitas politik yang dilakukan Lulung menjelang Pilkada DKI Jakarta 2017.

Setelah Teman Ahok dan Relawan Haji Lulung, Kini Muncul Sahabat Djarot

KOMPAS.com/KAHFI DIRGA CAHYA Foto Sahabat Djarot yang diunggah Banyu Biru di akun twitternya @banyubiru_
JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah Teman Ahok, relawan Suka Haji Lulung, kini muncul Sahabat Djarot. Sahabat Djarot dimunculkan oleh Banyu Biru lewat akun Twitter-nya, @banyubiru, dalam tagar #SahabatDjarot pada Selasa (15/3/2016).
Banyu Biru merupakan Ketua Umum Komunitas Banteng Muda. Tagar #SahabatDjarot itu dimunculkan bersamaan dengan foto karikatur wajah ciri khas Wakil Gubernur DKI Jakarta itu.
Berlatar belakang merah, wajah Djarot tampak lengkap dengan kumis miring dan kacamatanya. Rambut Djarot dalam karikatur wajahnya juga tampak mirip dengan aslinya.
Di samping gambar itu, ada tulisan, "Djarot For Djakarta". "Nama sama, kumis sama. Tapi yg ini bukan bokap gue. Hehe. a very humble guy. We likey," tulis Banyu dalam akunnya, Selasa.
Tak berhenti di situ, Banyu kembali mengunggah foto yang bertuliskan #SahabatDjarot. Dalam foto yang diunggah pada Rabu (16/3/2016) kemarin, terlihat Djarot dengan senyum khasnya.
Di sampingnya kemudian bertuliskan sebuah kata-kata. "Dari Blitar ke Djakarta. Harus pintar-pintar biar gak gelap mata. Djarot ke Djakarta, udah pasti kerja nyata. #SAHABATDJAROT."
KOMPAS.com/KAHFI DIRGA CAHYA Foto Sahabat Djarot yang diunggah Banyu Biru di akun twitternya @banyubiru_
Menanggapi tagar #SahabatDjarot, Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDI-P DKI Gembong Warsono menyebut belum mengetahui hal tersebut. Namun, ia menanggapi positif jika ada yang berinisiatif.
Menurut Gembong, hingga kini, partainya belum menentukan siapa calon gubernur dan wakil gubernur untuk Pilkada DKI Jakarta.
"Kita positif saja. Nambah suntikan darah segar, enggak ada masalah," kata Gembong saat dikonfirmasi Kompas.com, Jakarta, Rabu (16/3/2016). (Baca: Djarot: Di DPRD Enggak Ada Fraksi Relawan!)

Senin, 14 Maret 2016

PILKADA CAGUB/CAWAGUB DKI JAKARTA edisi GERINDRA

Gerindra Klaim Tak Terapkan Sistem Mahar di Pilkada

Gerindra Klaim Tak Terapkan Sistem Mahar di Pilkada Wakil Ketua Partai Gerindra menyatakan pihaknya tidak menerapkan mahar dalan kontestasi pilkada kepada para calon daerah yang akan diusung. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menuturkan, partainya tidak menerapkan sistem mahar dalam pencalonan di pemilihan kepala daerah (Pilkada). Dia mengatakan pihaknya malah membantu bakal calon kepala daerah mengumpulkan dana.

Dia pun mengingatkan pencalonan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di pemilihan gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2012 lalu. Saat itu, Partai Gerindra mendukung pencalonan sebab Ahok tercatat sebagai kader partai Prabowo Subianto tersebut.

"Di Gerindra tak ada mahar politik. Saat itu Jokowi Ahok tidak ada mahar politik kami yang membantu menarik dana-dana," ujar Fadli Zon di Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (11/3).


Hal itu disampaikannya menyikapi pernyataan Ahok kemarin. Mantan Bupati Belitung Timur ini mengaku tak punya cukup dana untuk berkampanye. Karenanya, dia memilih jalur independen untuk bersaing di Pilgub DKI Jakarta 2017.

Menurutnya, bakal calon kepala daerah bisa menghabiskan Rp100-200 miliar saat memberikan mahar ke partai. Fadli menilai angka untuk mahar tersebut luar biasa.

Karenanya, dia meminta Ahok membuktikan benar atau tidaknya ada mahar politik dalam Pilkada terutama Pilgub DKI Jakarta. Dia menekankan Partai Gerindra akan membantu bakal calon kepala daerah mencari sumber dana yang tidak mengikat. "Itu angka yang fantastis menurut saya. Kalau Ahok bilang ada, ya sebutkan saja. Buktikan," katanya. (pit)

Minggu, 13 Maret 2016

"deparpolisasi" - "Teman Ahok"..Era Baru Pilkada ...Sinyal bahwa Parpol Tak Menarik.......jangan panik!

Deparpolisasi Jadi Sinyal bahwa Parpol Tak Menarik

Senin, 14 Maret 2016 | 18:09 WIB
Fabian Januarius Kuwado Ketua Umum Partai Nasional Demokrat Surya Paloh.
SAMARINDA, KOMPAS.com - Belakangan, istilah deparpolisasi menjadi buah bibir setelah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok memilih maju lewat jalur independen daripada lewat jalur partai politik.
Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh menilai hal tersebut seharusnya menjadi bahan introspeksi partai-partai politik.
Parpol, menurut Surya, harus mencari jawaban, mengapa sampai ada calon kepala daerah yang lebih memilih jalur independen ketimbang lewat jalur partai politik.
"Sebagai pimpinan partai politik, saya kasihan kalau ada elite partai politik yang pikir deparpolisasi karena ada orang yang tidak ikut pakai jalur parpol kemudian kami lemparkan tuduhan deparpolisasi," kata Surya saat menghadiri konsolidasi Kader Partai Nasdem Kalimantan Timur di Samarinda, Senin (14/3/2016).
Surya menambahkan, setiap partai politik harus melihat kekurangan masing-masing.
Ini disebabkan partai politik merupakan pilar utama demokrasi. Sehingga jika banyak pihak-pihak yang memilih maju secara independen berarti ada yang salah dari institusi partai politik itu sendiri.
"Kenapa dia mau di luar institusi parpol? Itu yang jadi pertanyaan utama, kembali pada parpolnya. Dasar partai politiknya enggak menarik. Pikiran-pikirannya barangkali enggak dekat dengan masyarakat," tutur Surya.
Ia pun menyinggung soal persepsi masyarakat yang masih buruk dan negatif saat memandang partai politik.
Diperlukan upaya untuk memperkuat institusi partai politik sehingga pandangan publik yang kerap memandangnya rusak, salah dan penuh kecurigaan dapat ditepis.
Menurut Surya, pandangan masyarakat tersebut tak tepat dan perlu diperbaiki.
"Nah, ini tantangan bagi partai politik untuk memperbaikinya dan Nasdem ada dalam bagian untuk berupaya memperbaiki persepsi yang salah," ujarnya.
Istilah deparpolisasi pertama kali dimunculkan Sekretaris DPD PDI-P DKI Jakarta, Prasetio Edi Marsudi yang juga Ketua DPRD DKI.
Prasetio menilai adanya upaya deparpolisasi yang sedang berkembang di Indonesia.  Indikatornya, kata dia, adalah adanya upaya untuk meniadakan peran partai politik dalam pemilihan kepala daerah.
Hal itu disampaikan Prasetio dalam menanggapi langkah relawan pendukung Ahok. Kelompok relawan itu mengupayakan agar Basuki atau Ahok bisa ikut Pilkada DKI Jakarta 2017 melalui jalur independen atau tanpa partai.

Apa Itu Deparpolisasi? Ini Penjelasannya

Sabtu, 12 Maret 2016 | 15:01 WIBApa Itu Deparpolisasi? Ini Penjelasannya
Warga memadati salah satu posko Teman Ahok di Kuningan City, Jakarta, 11 Maret 2016. Teman Ahok berharap Ahok dapat maju sebagai calon Gubernur Independen dalam mewujudkan Jakarta baru yang lebih bersih, maju dan manusiawi. TEMPO/Dhemas Reviyanto
TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat dari Lembaga Opini Masyarakat Populi Center, Tommi Legowo, menjelaskan istilah deparpolisiasi yang mencuat sejak Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok memutuskan maju ke pemilihan kepala daerah DKI Jakarta 2017 lewat jalur independen.

"Deparpolisasi adalah upaya disengaja atau tidak disengaja mengurangi, atau bahkan menihilkan peran partai politik dalam demokrasi," ujar Tommi dalam diskusi publik bertajuk "Deparpolisasi; Koreksi atau Sanksi Politik?" di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 12 Maret 2016.

Tommi menuturkan bahwa partai politik adalah pilar utama demokrasi. Sehingga dalam konteks demokrasi, menihilkan peran parpol berarti melemahkan demokrasi. "Di era Orde Baru, deparpolisasi dilakukan berbeda, yaitu lewat penyederhanaan parpol. Saat itu jumlah parpol dibatas menjadi tiga saja," ujar Tommi.

Sulit Dipercaya, Parpol Kalah oleh Relawan pada Pilkada DKI Jakarta

Jumat, 11 Maret 2016 | 17:56 WIB
TRIBUNNEWS / DANY PERMANA Massa dari Teman Ahok mengumpulkan dukungan melalui petisi di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (1/3/2015). Kegiatan yang mengusung tema #GueAhok tersebut menggalang dukungan terhadap Gubernur DKI Jakarta yang sedang menghadapi pertentangan dengan DPRD Jakarta terkait dana APBD.
KOMPAS.com — Ada dua topik menarik yang menjadi perbincangan publik dan layak disebut trending topic, yakni "deparpolisasi" dan "Teman Ahok".
Istilah deparpolisasi menggema lagi setelah terpicu aksi mengejutkan Teman Ahok yang berhasil “memaksa” Ahok, panggilan akrab Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, untuk maju ke Pilkada 2017 melalui jalur perseorangan.
Adalah Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah PDP DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi yang menggemakan kembali deparpolisasi. Setelah relawan yang menamakan diri Teman Ahok berhasil membuka jalan, Prasetio angkat bicara atas nama partainya, PDI-P.
Ia melihat sinyal adanya upaya deparpolisasi dengan indikasi jelas, yakni meniadakan peran partai politik dalam pemilihan kepala daerah, khususnya Pilkada DKI. PDI-P menyatakan akan melawan deparpolisasi karena dianggap membahayakan eksistensi partai politik.
Prasetio juga mengungkapkan, persoalan deparpolisasi telah dibahas dalam pertemuan yang berlangsung di kediaman Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri beberapa saat setelah Ahok menyatakan akan mengikuti desakan Teman Ahok.

Masyarakat tidak bisa menafikan peran partai politik, katanya, sebab bangsa ini dibangun oleh partai politik, bukan semata-mata relawan.
Mengapa hanya PDI-P yang bersuara lantang dan keras atas manuver Ahok dengan Teman Ahok-nya itu? Bukankah ada banyak parpol di negeri ini? Mengapa partai politik yang lainnya hanya berdiam diri tanpa reaksi? Benarkah apa yang dilakukan Teman Ahok itu suatu yang berbahaya bagi partai politik?
Tak ada asap kalau tak ada api. Bila melihat hubungan kausalitas, tentu ada preseden dan tidak serta-merta terjadi begitu saja. Ada peristiwa yang mendahuluinya.

Peristiwa apa lagi kalau bukan penjajakan partai juara ini dalam menyediakan kendaraan bagi Ahok untuk maju pada Pilkada 2017, tetapi tidak gratis.
Sebenarnya istilah deparpolisasi telah muncul saat Megawati selaku ketua umum partai berpidato pada pembukaan Kongres IV PDIP di Bali, April 2015 lalu. Pada kesempatan itu, Megawati menyinyalir adanya gerakan deparpolisasi yang ia sebut makin lantang diteriakkan.
Gerakan deparpolisasi ini disebutkan tidak berdiri sendiri, melainkan ada simbiosis kekuatan antarpartai dan kekuatan modal. Ia menyebut, kelompok yang menyuarakan deparpolisasi itu adalah kaum oportunis.
Ciri kaum oportunis ini, menurut Megawati, tidak mau bekerja keras membangun partai, tidak mau mengorganisasi rakyat, kecuali menunggu dan menunggu untuk selanjutnya menyalip di tikungan.

Dalam pidato pembukaan itu juga muncul istilah "penumpang gelap" dengan merujuk pada relawan nonparpol pada Pilpres 2014 yang mendapat tempat atau jabatan di pemerintahan.
Jika kemudian Prasetio menggaungkan kembali istilah deparpolisasi karena dipicu gerakan Teman Ahok yang memaksa Ahok terpisah dari PDI-P, maksud dan makna deparpolisasi menjadi lain.

Kali ini, pengertiannya bergeser menjadi semacam pemberontakan nonparpol (baca: relawan) yang dianggap menihilkan peran dan partai politik itu sendiri.
Boleh jadi, beberapa relawan yang tergabung dalam Teman Ahok kelak bakal menjadi "penumpang gelap" juga sebagaimana yang sudah terjadi pada pemerintahan Jokowi yang kemudian dikritik pedas oleh Megawati itu.
Namun, bukankah urusan Ahok tidak terkait langsung dengan PDI-P kecuali wakil gubernur Ahok saat ini memang orang PDI-P? Benar bahwa pada Pilkada 2012, Joko Widodo diusung PDI-P sebagai calon gubernur. Akan tetapi, bukankah Ahok diusung partai lain, dalam hal ini Gerindra?
Kemudian, bukankah belum ada "deal" apa-apa antara Ahok dan PDI-P kecuali kesediaan PDI-P menyediakan kendaraan politik bagi Ahok untuk maju ke Pilkada DKI Jakarta sebelum dihentikan Teman Ahok? Lalu, kenapa istilah deparpolisasi dimunculkan kembali?
Konteks Megawati saat menangkap sinyal adanya gerakan deparpolisasi itu jelas, yakni adanya "penyusup" atau "penumpang gelap" dalam wujud relawan yang menduduki tempat strategis di pemerintahan yang seharusnya diduduki orang-orang partai. PDI-P tidak mau hal itu terulang kembali dalam Pilkada DKI jika pertarungan itu dimenangkannya.
Namun, ketika Teman Ahok memaksa Ahok maju dari jalur independen dan bukan jalur partai politik yang kebetulan diincar PDI-P, hal ini sama sekali belum ada kaitannya dengan PDI-P.

Ibarat orang pacaran, hubungannya masih sebatas PDKT (pendekatan) dan belum menyatakan apa-apa, belum berikrar apa pun, apalagi sampai pada ijab kabul membentuk ikatan. Lantas, mengapa dikatakan deparpolisasi?
Menjadi terjawab mengapa partai-partai politik lainnya tidak menanggapi deparpolisasi yang digaungkan PDI-P ini. Sebab, parpol-parpol lain belum "ngebet" menyatakan dukungan kepada Ahok.

Ibarat pacaran, PDI-P mungkin terlalu GR "tembakan"-nya bakal mudah diterima. Namun, tatkala ditampik gara-gara manuver Teman Ahok, patah hatilah dia. Itu sekadar perumpamaan, jangan sensi!
Meski sulit, mengelola kegeraman atau "kemarahan" akibat patah hati ini bisa positif juga bagi PDI-P. Setidak-tidaknya, PDI-P harus segera menyiapkan bakal calon gubernur dan pasangannya dari sekarang yang secara elektabilitas mampu mengalahkan Ahok-Heru.
Modal sebagai partai juara tentu tak dapat dianggap enteng. Dengan massa partai yang fanatik dan dengan 28 kursi DPRD dari 106 kursi, PDI-P bisa langsung mengusung kandidat tanpa harus berkoalisi. Sebab, ambang batas minimal untuk bisa mengusung calon hanya 21 kursi. Partai lain terpaksa harus saling berkoalisi.
Pekerjaan rumah terbesar PDI-P adalah memilih kandidat itu. Boleh jadi, wakil Ahok sekarang yang dari PDI-P, Djarot Saiful Hidayat, digadang-gadang bakal menjadi calon selain memaksa Wali Kota Tri Rismaharini angkat koper dari Surabaya untuk bertarung di Jakarta.

Bisa juga, sekalian "mengawinkan" Tri-Djarot. Selain mereka, agak sulit mencari figur lain untuk sekadar mengimbangi popularitas Ahok-Heru.
Sikap terlalu reaktif atas keputusan Ahok dan menistakan relawan juga tidak terlalu baik buat PDI-P karena kelak bakal ada pertaruhan partai politik di dalamnya; massa parpol versus relawan.

Apa jadinya kalau partai juara dengan segala kekuatan kalah oleh manuver relawan yang dianggap "penyusup" atau "penumpang gelap" yang tidak berkontribusi terhadap negara ini?
Waktu yang tersisa masih cukup lama. Konstelasi politik jelang pilkada bisa berubah pada saat-saat menentukan. Bisa jadi, PDI-P tetap mengusung Ahok meski kemudian dukungan dilakukan tanpa syarat, sebagaimana yang dilakukan Nasdem dan, belakangan, Hanura.
Membiarkan dan melepas Ahok-Heru maju ke arena tanpa saingan kuat, apalagi sampai memenangi pertarungan, akan menjadi pukulan telak bagi partai politik, khususnya bagi PDI-P.

Hal itu jauh lebih menyakitkan dari sekadar fenomena "penumpang gelap" yang tidak ikut bertarung pada pilpres dan tidak harus head to head dengan massa partai politik.
Persoalannya, pada Pilkada DKI Jakarta ini, "clash" bakal tak terhindarkan antara massa partai politik dan para relawan Teman Ahok, relawan Jaringan Suka Haji Lulung, atau relawan pendukung calon independen lain dalam memperebutkan kursi gubernur dan wakilnya.
Penulis: Pepih Nugraha
Editor : Wisnubrata