Tampilkan postingan dengan label TIPS Rokok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TIPS Rokok. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Oktober 2015

Inovasi Penghilang Racun Rokok

Mohammad Adam - 23 Oktober 2015 05:42 wib
Ilustrasi merokok. (foto: MI/Rommy Pujianto)
Ilustrasi merokok. (foto: MI/Rommy Pujianto)
Metrotvnews.com, Jakarta: Divine kretek, sebagai salah satu temuan, menjadi pelopor dalam menunjukkan keberadaan rokok sehat. Menurut penelitian para pakar berbagai disiplin ilmu yang tergabung dalam Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas (LPPRB) di Malang, Jawa Timur, jika selama ini rokok dipandang sebagai produk yang mematikan, sekarang tembakau yang menjadi bahan baku utama rokok itu justru mengandung sejumlah zat yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk kanker.

Benarkah?

Pendapat merokok tapi sehat kini mendapat perhatian. Berdasarkan hasil riset ilmiah, sekarang rokok kretek dapat ditransformasikan menjadi rokok sehat. Rokok kretek atau yang populer disebut kretek saja, yang selama ini -seperti rokok-rokok lain- mendapat stigma negatif sebagai penyebab penyakit dan kematian, ternyata tidak lagi berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungannya.

Divine kretek merupakan sebuah filter rokok yang memiliki sebuah teknologi untuk menghilangkan radikal bebas dari asap rokok. Selain itu, teknologi tersebut memodifikasi makro molekul yang terkandung dalam asap rokok lewat sentuhan teknologi dengan ukuran lebih kecil.

Pada dasarnya, divine kretek merupakan peluruh radikal bebas. Ilmuwan yang berjasa menemukan formula peluruh radikal bebas ini adalah Dr. Gretha Zahar, ahli kimia radiasi dari Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat. Wanita yang lahir tahun 1939 di Salatiga, Jawa Tengah, ini melakukan riset secara mandiri sejak tahun 2000 untuk mengembangkan metode terapi penyembuhan penyakit degeneratif, antara lain kanker, stroke, alzheimer, dengan teknik peluruhan radikal bebas. Terapi penyembuhan dilakukan dengan metode balur menggunakan formula berbasis asam amino untuk menangkap radikal bebas yang disebut scavenger.

Penerapan metode balur yang digunakan Gretha itu awalnya terinspirasi oleh cara pengobatan kuno, yang dahulu biasa dilakukan oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Untuk mengobati suatu penyakit, orang-orang zaman dulu biasanya meluluri tubuh dengan ramuan yang berbahan dasar rempah-rempah atau daun-daunan tanaman berkhasiat.

Metode luluran atau baluran ini kemdian disempurnakan dengan asap rokok divine kretek setelah Dr. Gretha betemu dengan Prof. Sutiman Bambang Sumitro yang merupakan ahli biologi molekuler sekaligus nanobiologi dari Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Penggunaan asap rokok divine kretek dalam terapi balur itu merupakan hasil diskusi kedua ilmuwan itu.

"Bukan saya yang menemukan divine kretek. Ini merupakan buah pemikiran dari Dr. Greta Zahar. Saya hanya melanjutkan kajian secara lebih mendalam aspek sainsnya," ujar Sutiman kepada metrotvnews.com, Kamis (22/20/2015).

Secara spesifik asap kretek (biomasa berbahan tembakau dan cengkih) dipilih karena dalam perspektif nanosains nikotin-emas tembakau bersifat pembersih (cleaner) dan komponen struktur tar (sensitizer) nikotin dan cengkih merupakan rangkaian nanostruktur yang istimewa.

Menurut Jack Hennigfield (1998), seorang ahli kimia di John Hopkins, nikotin adalah senyawa kimiawi yang luar biasa. Pendapat ini didukung oleh penelitian Wanda Hamilton (Juli 2001) yang menemukan bahwa di daun tembakau terdapat partikel emas atau aurum (Au). Partikel Au di daun tembakau itu bisa diisolasi sebagai nicotin-gold cair. Faktor inilah yang ditengarai membuat kebiasaan orang-orang pada zaman dahulu, baik orang Indian maupun kemudian orang Eropa, menggunakan tembakau sebagai obat. Meski tanpa kesadaran lmiah dan hanya karena berdasarkan pengalaman empirik saja, orang-orang Indian di Amerika percaya bahwa tembakau dan nikotinnya adalah obat istimewa anugerah dari Tuhan.

Sebagaimana diketahui, industri farmasi pun menggunakan nikotin sebagai obat. Pabrik farmasi mengisolasi nikotin cair dari daun tembakau, karena mempunyai sifat kerja sebagai acetylcholin. Penemuan partikel Au di tembakau ini menguntungkan dunia medis, karena seiring dengan pengobatan kanker secara fotodinamika dengan partikel nano yang sedang digencarkan dalam dekade ini. Dalam era nanosains dan nanoteknologi sekarang ini, konsep fotodinamika untuk terapi dengan partikel nano-aurum digunakan untuk membunuh sel-sel kanker.

Dengan kata lain, para ilmuwan di atas telah meyakini bahwa rokok beracun bukan karena tar dan nikotinnya. Akan tetapi logam Hg (merkuri atau air raksa) yang tersembunyi dalam rokok itu yang membuatnya menjadi racun. Dalam salah satu teori, unsur Hg di udara menjadi berbahaya dan bersifat merusak ketika terpapar dan menyerap sinar ultra violet tipe UVC. Partikel-partikel merkuri yang terpapar UVC itu menjadi radikal bebas yang melayang-layang di udara dan mudah bereaksi dengan molekul-molekul unsur lain yang ada di dekatnya.

Itulah yang mendorong dan menjadi dasar inovasi rokok sehat, divine kretek. Prinsip divine kretek adalah menangkap logam merkuri di tembakau (rokok) dengan formula gabungan senyawa yang menghilangkan radikal bebas.

"Radikal bebas itu adalah senyawa dengan atom yang memiliki elektron tidak berpasangan. Untuk itu, dengan mengambil senyawa-senyawa yang ada di asap itu, kita kembangkan suatu konsep bagaimana meluruhkan radikal bebasnya. Sehingga radikal bebas ini level energinya jadi tidak seganas rokok yang ada di pasaran," kata Sutiman.

Ketertarikan Sutiman untuk meneliti rokok dimulai pada 2007. Secara garis besar, prinsip yang dia lakukan kala itu adalah menghilangkan radikal bebas dari asap rokok. Selain itu, memodifikasi makro molekul yang terkandung dalam asap rokok lewat sentuhan teknologi nano.

Divine kretek hasil ciptaan Sutiman telah diujicobakan ke dua ekor tikus. Dua ekor tikus tersebut sama-sama disuntik kanker kelenjar getah bening.

Menurut Sutiman, para perokok bisa menderita kelenjar getah bening akibat pengaruh nikotin. Satu tikus setiap hari diterapi dengan metode pengasapan menggunakan divine kretek, sedangkan satu tikus dibiarkan hidup tanpa proses pengobatan. Jarak dua pekan tikus tanpa pengobatan mati, sementara satu tikus dengan terapi divine kretek bertahan hidup hingga selama enam bulan.

Apakah terapi tersebut berhasil menyembuhkan penyakit kanker?

Sutiman sekali lagi menegaskan bahwa penggunaan divine kretek tersebut hanya membantu meningkatkan kualitas hidup penderita kanker.

"Sebetulnya itu bukan menyembuhkan dalam konteks menghilangkan sel kankernya. Tapi itu mengontrol radikal bebas yang ada di dalam tubuh, yang biasanya banyak pada orang sakit," kata Sutiman.

Ia menuturkan, inovasi divine kretek dilatarbelakangi oleh keinginan meringankan penderitaan istrinya yang terkena kanker payudara. Lalu sang istri pun menjalani pengobatan dengan metode terapi balur. Namun, terapi itu dikeluhkan karena dirasa tidak nyaman.

"Kemudian Dr. Greta Zahar berpikir untuk kemungkinan memakai asap rokok yang sudah tidak ada radikal bebasnya ini," kata Sutiman.

Ternyata, ia melanjutkan, penggunaan asap rokok sehat alias divine kretek itu efektif. Terapi balur sekarang jadi lebih nyaman bagi pasien.

"Istri saya sampai sekarang kualitas hidupnya bagus. saya tidak berpikir sembuh dalam arti kankernya hilang semua. Tapi semua data menunjukkan bahwa level indikasi kankernya itu menjadi rendah. Kalau dilakukan CT-Scan itu kankernya bisa tidak terdeteksi lagi," kata Sutiman.

Kini, Sutiman ingin mengembangkan temuannya bersama Gretha itu. Menurut dia, hasil penelitian dalam bentuk divine kretek tersebut masih merupakan tahapan awal. Karena itu, ia merencanakan penelitian lanjutan. "Saya akan melakukan eksperimen-eksperimen lainnya untuk memberikan pemahaman secara lebih detail," kata Sutiman.

Sutiman pun menegaskan bahwa penelitiannya ini tidak bertujuan menguntungkan kepentingan industri rokok. Ia membantah anggapan tentang ada dukungan industri rokok dibalik temuannya terkait divine kretek.

Ia tertarik melakukan penelitian, karena terdorong menemukan solusi atas permasalahan bangsa yang berkaitan dengan kearifan lokal. Tidak hanya rokok yang disorotinya, jamu pun salah satu kearifan lokal lain yang mendapat perhatiannya.

"Menurut saya, semua hal yang berhubungan dengan hasil karya nenek moyang kita itu adalah patut diapresiasi. Apakah itu kretek, jamu, dan lain-lain. Semuanya harus diapresiasi, jangan sampai malah kita melakukan depresiasi tehadap itu semua," kata Sutiman.

Sutiman sendiri mengaku bukan perokok. Ini sekaligus menegaskan bahwa peneliti harus mengabaikan unsur subyektivitas dan mengedepankan obyektivitas.

Itu pula sebabnya Sutiman tidak menawarkan temuannya ini kepada produsen rokok. Penjualan filter divine kretek yang berlabel Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas, Malang, Jawa Timur, semata untuk membantu pendanaan penelitian lanjutan.

"Orientasi riset ini memang bukan ke arah bisnis," kata Sutiman.

Namun, Sutiman tak menutup kemungkinan untuk membuat paten atas temuannya. "Bisa dipatenkan hanya supaya tidak menjadi monopoli dari suatu perusahaan saja," kata Sutiman.

Selasa, 04 November 2014

AWAS, Rokok Elektrik ternyata Lebih Berbahaya dibanding Rokok Biasa

PENDAHULUAN





Rokok Elektrik adalah Rokok "Modern" yang "KATANYA" sih "AMAN". Rokok jenis ini menggunakan baterai, sehingga dapat diisi ulang. Bahkan "Cairan" bahan bakarnya pun dapat diisi ulang. Akibatnya, Rokok ini sangat populer dikalangan masyarakat. Banyak yang mengatakan bahwa Rokok ini aman, padahal TIDAK! Meskipun Rokok ini tidak membakar tembakau sebagaimana rokok pada umumnya, namun tetap saja ada cairan membahayakan "NIKOTIN".

Yang namanya "ROKOK", mau modern, tradisional, dengan atau tanpa Tembakau, dari kertas, besi, dll. Kalau ada campur tangannya zat berikut ini tetap saja berbahaya! kata "AMAN" itu tidak benar. Segera buang jauh-jauh rokok elektrik Anda, lebih baik ngemut permen ketimbang ngerokok.


Quote:KERACUNAN AKIBAT NIKOTIN CAIR




]SUDAH bukan hal yang mencengangkan jika asap rokok membahayakan kesehatan seseorang, termasuk rokok elektronik.

Menariknya, menurut sebuah laporan resmi, jumlah orang yang terkena racun dari asap rokok elektronik meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Sebanyak 215 per bulan dari tahun 2010 hingga februari 2014. Peningkatan jumlah tersebut diumumkan oleh poison center di Amerika Serikat yang menemukan adanya cairan dalam rokok elektronik dengan kapasitas tinggi.

Angka tersebut muncul dari Centres for Disease Control and Prevention, bahwasanya menganggap jumlah konsumen rokok elektronik tidak memiliki peningkatan yang signifikan namun bahayanya jauh lebih besar.

Data statistik menunjukkan bahwa lebih dari setengah yang menderita keracunan akibat rokok elektronik adalah anak-anak di bawah usia lima tahun. Selain itu 42 persen dari usia dewasa di atas 20 tahun mengidap racun dari rokok elektronik.

Racun yang ada di dalam rokok elektronik adalah zat nikotin cair, yang dapat menempel di tubuh manusia melalui tiga cara yaitu proses inhalasi, penyerapan pada pori-pori kulit atau mata dan juga pada makanan. Para ahli memperingatkan agar cairan yang terdapat pada rokok elektronik dicampur dengan bahan-bahan alami dalam rasa buah dan permen. Tanda-tanda seseorang keracunan dari rokok elektronik yaitu muntah, mual dan iritasi pada mata.

“Laporan ini memberi peringatan untuk semua orang yang menggunakan rokok elektronik dengan kandungan nikotin cair. Bahwasannya rokok tersebut sangat berbahaya,” kata Direktut CDC Tom Frieden. Demikian yang dilansir Dailymail.


Quote:Setelah agan baca tulisan diatas, gimana pendapat agan? Ane rasa sebaiknya agan segera berhenti. Karena menurut ane pribadi (Ane bukan PEROKOK) ngerokok dengan rokok elektrik gak ada bedanya, malah bisa lebih berbahaya. Kalo agan mau berhenti ngerokok, sebaiknya jangan coba-coba rokok satu ini, karena tetap ada bahan "NIKOTIN" yang berbahaya. Dan dipercaya lebih berbahaya dari tembakau. from OKEZONE PENUTUPAN
Ane sangat minta maaf kalau ada kata-kata yang salah, atau tidak sesuai fakta. Karena pada dasarnya ane ambil ini konten dari dunia kedua kita, dunia Maya. Sekali lagi ane minta maaf sebesar-besarnya Bahaya Rokok Elektrik bagi Kesehatan

|Erika Kurnia - Okezone
Rokok elektrik berbahaya (Foto: Huffingtonpost)
Bahaya Rokok Elektrik bagi Kesehatan
ROKOK elektrik merupakan salah satu terapi pengganti nikotin yang menggunakan listrik dari tenaga baterai menguapkan nikotin cair. Alat ini juga disebut dengan Electronic Nicotine Delivery System (ENDS).
Rokok jenis modern ini dirancang untuk memberikan nikotin dan tetap memberikan sensasi merokok pada penggunanya, walau tanpa pembakaran tembakau.
"Sampai saat ini keamanan e-cig belum terbukti secara ilmiah. Walaupun begitu, rokok elektronik ini tentu memiliki bahaya bagi kesehatan," ujar Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan.
Adanya laporan kasus pribadi dari konsumen dari berbagai tempat yang pernah dirawat karena mengalami insiden atau gangguan kesehatan bisa menjadi bukti bagi berbahaya perangkat ini. Kasus tersebut di antaranya: pneumonia, gagal jantung, disorientasi, kejang, hypotensi, luka bakar akibat meledaknya rokok elektrik dalam mulut, dan lain-lain.
Menurut keterangan tertulis yang disampaikan oleh Prof. Tjandra kepada Okezone, ada juga akibat negatif yang dapat secara umum terjadi pada pengguna rokok elektrik.
Adiksi
Alat ini merupakan cara baru memasukkan nikotin ke dalam tubuh, yang mengakibatkan efek buruk terhadap tubuh. Efek dari nikotin seperti meningkatkan adrenalin, tekanan darah, dan juga mengakibatkan ketagihan.
Keracunan
Adanya peringatan dari pabrik rokok elektrik yang menyatakan konsumen yang memiliki penyakit pernapasan (asma, PPOK, bronchitis, pneumonia), uap yang dihasilkan rokok elektrik dapat menimbulkan serangan asma, sesak napas, dan batuk.
Lebih lanjut lagi, pernyataan tersebut menegaskan agar produk tidak lagi digunakan jika efek seperti yang disebutkan terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa produk ini benar-benar berbahaya, terutama untuk sistem pernapasan.

Persepsi aman
Yang lebih menghawatirkan adalah rokok elektrik dipersepsikan lebih aman, karena ini menawarkan 'rasa aman palsu' atau illusive safety.

Kamis, 05 September 2013

Kenapa perokok pasif lebih berbahaya?

Merokok (REU)"Menghirup asap rokok orang lain tiga kali lipat lebih berbahaya dibanding merokok," ujar dokter. 

Kenapa Jadi Perokok Pasif Lebih Berbahaya Dibandingkan Perokok Aktif

Tanya:
Dok, kenapa jadi perokok pasif efeknya bisa lebih berbahaya daripada perokok aktif? Saya sering dengar tentang hal ini tapi saya bingung penjelasannya bagaimana.
Mario, 19 tahun

Jawab:
Hai Mario,

Perokok aktif adalah orang yang mengisap rokok secara langsung, sedangkan perokok pasif adalah orang yang tidak merokok tetapi mengirup asap rokok yang diembus perokok aktif. Perokok aktif memang sanget berisiko terjangkit penyakit jantung sampai kanker paru-paru. Namun ternyata, menjadi perokok pasif juga menimbulkan bahaya bagi kesehatan.

Kita tahu bahwa asap rokok mengandung sekitar 4.000 jenis zat kimia beracun. Ketika seseorang mengisap sebatang rokok, asap rokok yang diembuskannya serta asap yang keluar dari ujung rokok yang terbakar akan menyebar ke sekelilingnya.

Menghirup asap rokok orang lain (alias menjadi perokok pasif) lebih berbahaya tiga kali lipat dibandingkan mengisap rokok sendiri (perokok aktif). Mengapa? Karena racun rokok terbesar dihasilkan oleh asap yang mengepul dari ujung rokok yang sedang tak dihisap. Asap tersebut merupakan hasil dari pembakaran tembakau yang tidak sempurna.

Konsentrasi zat berbahaya di dalam tubuh perokok pasif lebih besar, karena racun yang ia isap lewat hidungnya tidak terfilter, sedangkan racun rokok dalam tubuh perokok aktif terfilter melalui ujung rokok yang diisap.

dr. Jesslyn Valentina Jonathan Tentu saja yang paling baik adalah tidak merokok sama sekali, serta selalu menjauhi area yang dipenuhi asap rokok.

Semoga membantu.

dr.  Jesslyn Valentina Jonathan
www.MeetDoctor.com


***
Punya pertanyaan seputar masalah kesehatan? Kirim ke www.MeetDoctor.com