Tampilkan postingan dengan label DIMAS TAAT PRIBADI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DIMAS TAAT PRIBADI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 November 2016

Lihat Nih Penampakan 7 Mahaguru Dimas Kanjeng yang Seram Itu

Lihat Nih Penampakan 7 Mahaguru Dimas Kanjeng yang Seram Itu
JawaPos.com - Kreativitas Dimas Kanjeng Taat Pribadi untuk menipu benar-benar luar biasa. Di antara mahaguru yang diagungkan para pengikutnya, bahkan ada yang tidak bisa mengaji. Mereka direkrut sejak 2010 secara bergelombang. Sesuai dengan kebutuhan acara yang harus dihadiri mahaguru. 
Tujuh mahaguru Dimas Kanjeng resmi diperkenalkan kepada publik kemarin (7/11). Mereka mengaku tidak pernah benar-benar mengenal Dimas Kanjeng. Karena itu, polisi belum bisa menetapkan mereka sebagai tersangka.
Tujuh mahaguru tersebut dikeluarkan dari ruang penyidik Ditreskrimum Polda Jatim sekitar pukul 13.30. Polisi mendandani mereka dengan jubah dan serban serbahitam Mereka lalu diminta untuk duduk di kursi yang ditaruh di depan gedung. Jemari mereka memilin tasbih kecil berwarna hitam. Bibir mereka komat-kamit. 
Tak jelas apa yang dibaca. "Adegan ini persis seperti peran mereka di setiap acara keagamaan Dimas Kanjeng," kata Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Raden Prabowo Argo Yuwono.
Semua perlengkapan tersebut didapatkan secara cuma-cuma dari Dimas Kanjeng. Itu adalah bagian dari fasilitas mereka sebagai mahaguru. "Mereka hanya perlu datang dan duduk sembari komat-kamit," lanjut lulusan Akpol 1991 itu.
Kendati didapuk sebagai mahaguru, mereka mengaku tidak tahu apa yang dilakukan Dimas Kanjeng. Mereka hanya tahu secara fisik. Mereka juga tidak tahu tentang fungsi mahaguru yang diperankan. Nama mahaguru diberikan secara acak oleh Dimas Kanjeng. 
Ratim, salah seorang mahaguru, mengaku hanya diminta untuk menyambut tamu. "Vijay minta saya buat nyambut tamu," ujar kakek 70 tahun itu. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Vijay, yang bernama asli S.P. Maranathan, adalah event organizer (EO) acara keagamaan Dimas Kanjeng. 
Soal para mahaguru yang tidak tahu-menahu secara detail sepak terjang Dimas Kanjeng, hal itu juga masuk akal. Sebab, sebagian dari mereka tidak bersekolah, paling tinggi lulusan sekolah rakyat (sekolah dasar zaman dulu). 
Dengan latar belakang pendidikan seperti itu, mahaguru tersebut tidak mempunyai pekerjaan yang baik. Ada yang menjadi kuli bangunan, penganggur, bahkan gelandangan. Intinya, ketika mengikuti ajakan Dimas Kanjeng, mereka melakukannya untuk menyambung hidup. 
"Saya sudah lima tahun tidak bekerja. Sebelumnya jadi buruh bangunan lepas," kata Abdul Karim, mahaguru lain.
Para mahaguru itu direkrut dalam tiga gelombang. Angkatan pertama dilantik pada 2010. Saat itu Abdul Karim bersama satu orang lain yang direkrut. Orang tersebut sudah meninggal. Karena paling senior, Abdul Karim adalah orang yang diset untuk jadi yang paling sakral.
Sedangkan gelombang kedua dilantik pada 2014. Mereka diangkat setelah dua mahaguru sebelumnya mulai sakit-sakitan. Bahkan, ada yang meninggal. Gerbong angkatan kedua itu lebih banyak daripada yang pertama. Ratim, Marno, Acep, dan Sutarno masuk satu angkatan. Semakin banyak yang direkrut karena kebutuhan akan mahaguru semakin besar. 
Lalu, gelombang ketiga perekrutan mahaguru dilakukan pada awal 2016. Dua orang, yaitu Sadeli dan Murjang, diajak untuk bergabung. Apes, saat mereka akan dilantik, Dimas Kanjeng tersandung masalah. Karena itu, mereka belum sempat dapat nama paten. (aji/c11/ang)

Ini 7 "Mahaguru" yang Diakui Dimas Kanjeng Taat Pribadi

Selasa, 08 November 2016 | 08:11
Tujuh mahaguru palsu Dimas Kanjeng Taat Pribadi saat diperkenalkan penyidik Polda Jatim
Tujuh mahaguru palsu Dimas Kanjeng Taat Pribadi saat diperkenalkan penyidik Polda Jatim (Suara Pembaruan/ Aries Sudiono)
Surabaya - Kedok ‘Dimas Kanjeng’ Taat Pribadi (46), tersangka penipuan (dan pembunuhan atas dua pengikutnya) berdalih penggandaan uang asal Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jatim benar-benar sudah lama diskenariokan dengan cukup matang.
Sesuai hasil pemeriksaan yang dilakukan kepada tujuh dari 10 orang yang selama ini diakui ‘Dimas Kanjeng’ Taat Pribadi sebagai mahaguru ternyata mereka hanya gelandangan, pengemis, tukang becak dan kuli bangunan yang ada di wilayah Tomang dan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Mereka direkrut Taat Pribadi dari hasil kerja kaki tangannya bernama SP Maranatha alias Vijay (34) dan Karmawi (42) - keduanya kini berstatus tersangka - asal Jakarta.
“Taat Pribadi menyuruh Vijay, pria keturunan India ini untuk didapuk seolah-olah sebagai Direktur Operasional PT Emas Batangan Mulia (EBM) Jakarta yang seolah-olah merupakan pabrik emas batangan milik Taat Pribadi yang menjabat selaku Presiden Komisarisnya,” ujar Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol RP Argo Yuwono, didampingi Kasubdit Jatranas Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Taufik, Selasa (8/11) pagi.
Ketujuh mahaguru awu-awu Taat Pibadi yang kini masih menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Mapolda Jatim itu masing-masing adalah Sumarno (78) memperoleh upah Rp 11 juta atas perannya sebagai Abah Cholil; Murjang (51) sebagai Abah Nagasosro diupah Rp 8,7 juta; Abdul Karim yang berperan sebagai Abah Sulaiman Agung menerima upah Rp 20 juta. Ratim (66) yang berperan sebagai Abah Abdul Rohman menerima upah Rp 20 juta; Sadeli (63) berperan seolah-olah sebagai Abah Entong menerima uipah Rp 4 juta, Biwa Sutarno (61) yang berperan sebagai Abah Sukarno mendapat upah Rp 9,5 juta, dan Atjep yang berperan sebagai Abah Kalijogo (65) mendapat upah hanya Rp 5 juta.
“Yang merekrut para orang tua berjenggot putih (tiga orang dalam pencarian) itu adalah (tersangka) Karmawi atas permintaan (tersangka) Vijay yang diperintahkan Taat Pibadi. Mereka didandani ala kiai sepuh yang memiliki ilmu kesaktian linuwih,” ujar Kombes Pol Argo. Mereka itu lalu diajak tampil dalam acara-acara terbuka untuk meyakinkan proses perekrutan para calon korban (pengikut Padepokan Dimas Kanjeng).
Sebelum menangkap ketujuh mahaguru awu-awu itu, petugas menangkap SP Maranata alias Vijay dan Kramawi yang sebenarnya karyawan perusahaan jasa kontraktor PT Emas Batangan Mulia (EBM) Jakarta. Perkenalan Taat Pribadi dengan Vijay sebenarnya berawal dari pekenalan pimpinan Padepokan Dima Kanjeng dengan ayah Viyay yang berprofesi sebagai sosok ‘ahli’ penyembuhan secara alternatif.
“Vijay mau saja ketika didapuk menjadi Direktur Operasional PT EBM yang diubah seolah-olah merupakan pabrik emas batangan milik Padepokan Dimas Kanjeng,” ujar Kombes Pol Argo sambil menambahkan, Taat Pribadi sendiri mengangkat dirinya seolah-olah sebagai Komisaris Utama PT EBM.
Perusahaan tersebut sering disampaikan Taat Pribadi ke para pengikutnya (anggota Padepokan Dimas Kanjeng di Probolinggo), bahwa ia memiliki pabrik emas batangan. Padahal, perusahaan tersebut bergerak di bidang kontraktor dan dicatut seolah-olah milik Taat Pribadi.
“Menurut tersangka Vijay, ketujuh mahaguru itu sempat mengelabuhi Prof Marwah Daud Ibrahim PhD., ketika diajak ziarah bersama Taat Pribadi dan rombongan ke makam KH Ra Cholil di Bangkalan, Madura.
AKBP Taufik menambahkan, bahwa penyidik sekarang ini sedang mencari seseorang yang disebut dengan Abah Gimbal, yang diakui Taat Pribadi kini berusia 600 tahun lebih. Ia ditugaskan sebagai penunggu sembilan gudang gaib (berisi emas dan uang gaib). Kepada penyidik Taat Pribadi berulang kali menyatakan bahwa uang hasil penipuan dari uang mahar para pengikutnya sekitar Rp 2 triliun itu kini dibawa Abah Dhofir asal Tomang. Abah Dhofir saat ini masih dalam pengusutan pihak kepolisian.
Peran SP Maranata alias Vijay yang sudah menerima uang tunai sekitar Rp 13 miliar dari Taat Pribadi yang paling menonjol adalah menyusun dan melakukan realisasi skenario pertemuan para pengikut (korban) Padepokan Dimas Kanjeng yang kelas ‘kakap’ (pemberi uang mahar puluhan hingga ratusan miliar untuk digandakan) berjumlah sekitar 155 orang di Hotel Merlynn Park, Jakarta, pada 14-19 Maret 2016 yang lalu. Ketujuh mahaguru awu-awu itu dihadirkan seolah-olah memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa.
“Pada pertemuan itu ada tujuh orang lainnya yang diseting seolah-olah sebagai karyawan bank tertentu yang menyatakan sebagai penjamin PT EBM,” tambah AKPB Taufik. Dalam pertemuan yang sebenarnya hanya singkat itu para korban diberi kesempatan untuk tinggal di hotel beserta fasilitasnya secara gratis. Dengan alasan semua biaya sudah ditanggung manajemen PT EBM.

Sandiwara Maha Guru Dimas Kanjeng: Kuli, Komat-kamit dan Imbalan Rp 20 Juta

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Sandiwara Maha Guru Dimas Kanjeng: Kuli, Komat-kamit dan Imbalan Rp 20 Juta Foto: Maha guru padepokan Dimas Kanjeng/ Jajeli Rois detikcom
Jakarta - Tujuh pria sepuh dan berjenggot ini mengenakan jubah dan sorban. Tangan mereka memegang tasbih dengan mulut terus komat-kamit. Mereka memainkan peran pesanan 'sutradara' Dimas Kanjeng Taat Abadi.

Ketujuh orang yang disebut sebagai Abah-abah atau guru besar itu yakni Ratim alias Abah Abdul Rohman, Abdul Karim alias Abah Sulaiman Agung, Murjang alias Abah Nogosoro, Marno Sumarno alias Abah Holil, Atjep alias Abah Kalijogo, Sadeli alias Entong, Biwa Sutarno alias Abah Sukarno.

Mereka sebenarnya bukan orang yang 'ahli' dalam ilmu agama. Mereka hanya 'boneka' rekayasa dari tersangka kasus penipuan Dimas Kanjeng, Vijay dan Karnawi. Rata-rata mereka pengangguran, kuli bangunan, tukang bangunan, mekanik mobil sampai penjual warung kopi di Jakarta.

Guru besar inilah yang mendampingi setiap kegiatan yang diselenggarakan Dimas Kanjeng. Setiap kali tampil, selalu duduk di panggung dan dilarang berbicara dengan orang lain. Mereka juga mengenakan jubah sambil membawa tasbih dan mulutnya komat-kamit seperti orang yang sedang berdoa.

Atas sandiwara yang disuguhkan itu, mereka mengantongi imbalan bervariasi mulai dari Rp 2,5 juta sekali tampil hingga totalnya mencapai Rp 20 juta.
 Halaman 2 dari 6
Sandiwara Maha Guru Dimas Kanjeng: Kuli, Komat-kamit dan Imbalan Rp 20 Juta Foto: Maha guru padepokan Dimas Kanjeng/ Jajeli Rois detikcom
Ada 10 orang yang direkrut dan dijadikan sebagai guru besar alias Abah. Mereka bukan orang yang 'ahli' dalam ilmu agama. Rata-rata orang yang direkayasa menjadi Abah adalah pengangguran, kuli bangunan, tukang bangunan, mekanik mobil sampai penjual warung kopi di Jakarta.

"Hampir semuanya warga Jakarta. Yang dicari dan dijadikan Abah yang sudah sepuh (tua) dan memiliki jenggot," kata Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Raden prabowo Argo Yuwono di gedung Ditreskrimum Polda Jatim, Jalan A Yani, Surabaya, Senin (7/11/2016).

"Dari 10 abah, yang kita periksa ke Polda Jatim sebagai saksi ada 7 orang. 2 orang sakit parah dan 1 abah sudah meninggal dunia," terangnya.

10 orang yang dijadikan sebagai Abah yakni, Ratim alias Abah Abdul Rohman. Abdul Karim alias Sulaiman Agung. Murjang alias Abah Nogosoro. Marno Sumarno alias Abah Holil. Atjep alias Abah Kalijogo. Sadeli alias Entong (belum diberi gelar Abah, karena masih baru direkrut). Biwa Sutarno alias Abah Sukarno. Sedangkan dua abah ini mengalami sakit keras yakni Matsani alias Abah Abdul Rohim dan Suganda alias Abah Balkan. Marno, salah satu Guru Besar Dimas Kanjeng menceritakan yang sehari-hari bekerja sebagai mekanik mobil ini mengatakan, setiap ada kegiatan mereka diminta mengenakan jubah dan sorban sudah disiapkan oleh Vijay di hotel.

"Bajunya diberi koordinator (Karnawi)," terangnya.

Abah-abah yang sudah terpilih ini, setiap kali ada kegiatan, selalu duduk di panggung dan disebutkan oleh MC tentang panggilan Abah-nya.

"Abah-abah ini tidak boleh bicara dengan orang lain. Namanya disebutkan MC ketika ada acara bersama Dimas Kanjeng," kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono.Abah-abah ini setiap kali tampil tidak diperkenankan berbicara di depan umum. Mereka hanya menuruti permintaan dari 'sutradara' untuk mengenakan jubah sambil membawa tasbih dan mulutnya komat-kamit seperti orang yang sedang berdoa.

"Abah ini manut semua. Di suruh ini, mau, dijadikan ini mau. Macam-macam perannya. Jadi tergantung permintaan dari tersangka Taat Pribadi untuk dijadikan perannya sebagai apa," kata Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono kepada wartawan di area gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum), Jalan A Yani, Surabaya, Senin (7/11/2016).

Dimas Kanjeng Taat Pribadi meminta tersangka Vijay untuk mencari orang-orang yang sudah tua dan memiliki jenggot dan dijadikan Abah, untuk 'mendampingi' setiap kegiatan yang diselenggarakan Dimas Kanjeng.

Vijay menyuruh koordintaor Karnawi untuk mencari orang-orang yang dijadikan sebagai Abah. Setelah mendapatkan 'Abah', Vijay dan Karnawi menyortir siapa saja yang 'layak' dijadikan Abah. "Ada sistem seleksi. Nanti yang terlama menjadi yang tertua," tuturnya.Halaman 5 dari 6
Sandiwara Maha Guru Dimas Kanjeng: Kuli, Komat-kamit dan Imbalan Rp 20 Juta Foto: Istimewa
10 orang yang direkayasa menjadi Abah atau maha guru mendapatkan imbalan antara Rp 1,5 - 2,5 juta sekali tampil dihadapan pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Mereka berpura-pura seolah menjadi orang 'sakti' dalam padepokan.

"Abah-abah ini mendapatkan imbalan bervariasi. Kalau sudah lama menjadi Abah, nilai imbalannya lebih besar dari yang baru menjadi abah," kata Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono kepada wartawan di area gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum), Jalan A Yani, Surabaya, Senin (7/11/2016).

Argo mengatakan Dimas Kanjeng memberikan uang ke tersangka Vijay, kadang Rp 100 juta, kadang Rp 75 juta untuk Abah. Oleh Vijay, sebagian uang tersebut dibagikan ke Abah. Setiap Abah ada yang mendapatkan Rp 1,5-2,5 juta per kegiatan. "Kalau sudah lama ikut, nilainya lebih besar daripada yang baru menjadi Abah," jelasnya.

Bahkan, ada seorang Abah yang sudah mendapatkan total sekitar antara 4 juta sampai Rp 20 juta. Berikut ini nama-nama Abah (hampir semuanya warga Jakarta) yang dibentuk karena rekayasa bersama tersangka Vijay dan tersangka Karnawi:

-Ratim alias Abah Abdul Rohman. Dia pernah diajak ke Sunan Ampel, Bangkalan, Demak, Sunan Kalijaga, Padepokan dan Makassar. Total uang yang sudah diterima sekitar Rp 20 juta. Dia juga pernah diberangkatkan umroh oleh Dimas Kanjeng.

-Abdul Karim alias Abah Sulaiman Agung, pernah mengikuti kegiatan Makassar, Probolinggo, Jakarta. Total uang sudah diterima karena menjadi Abah sebesar Rp 20 juta.

-Murjang alias Abah Nogosoro, pernah mengikuti kegiatan di Padepokan Dimas Kanjeng di Probolinggo, di Tuban, Jakarta. Total menerima uang sekitar Rp 8,7 juta.

-Marno Sumarno alias Abah Holil, pernah diajak ke Bangkalan, Tuban, Sunan Kalijogo, Jakarta dan Probolinggo. Uang yang sudah diterimanya mencapai Rp 11 juta.

-Atjep alias Abah Kalijogo, pernah mengikuti kegiatan di Demak Jawa Tengah dan Probolinggo. Uang yang diterima karena disuruh menyaru sebagai Abah sebesar Rp 5 juta.

-Sadeli alias Entong, pernah diajak ke Probolinggo dan menerima total Rp 4 juta. Sadeli ini belum mendapatkan julukan Abah, karena masih baru.

-Biwa Sutarno alias Abah Sukarno. Pernah ke Probolinggo, Jakarta, Makassar, Bangkalan, serta diberangkatkan umroh. Uang yang diterimanya total sebanyak Rp 9,5 juta.

Matsani alias Abah Abdul Rohim. Suganda alias Abah Balkan. Keduanya mengalami sakit keras dan belum bisa dimintai keterangan.

Senin, 07 November 2016

Abah Gimbal, Guru Dimas Kanjeng Yang Misterius, 'Maha Guru' Rekaan Dimas Kanjeng

Para 'maha guru' itu digunakan untuk menambah kuat keyakinan korban.
'Maha Guru' Rekaan Dimas Kanjeng
Dua maha guru palsu DImas Kanjeng yang ditangkap polisi. (Nur Faishal (Surabaya))VIVA.co.id – Salah seorang tersangka dugaan penipuan bermodus penggandaan uang di Padepokan Dimas Kanjeng, SP Maranata alias Vijay, ditugaskan Taat Pribadi alias Dimas Kanjeng untuk menyeting acara bersama para pengikut padepokan di Jakarta. Vijay pula yang disuruh merekrut sejumlah orang untuk diperankan sebagai 'maha guru' untuk meyakinkan korbannya. Para 'maha guru' itu kini diamankan polisi berdasarkan keterangan Vijay.
"Tersangka V (Vijay) dibawa penyidik ke Jakarta untuk menunjukkan alamat rumah mereka yang berperan 'maha guru' tersebut," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jatim, Komisaris Besar Polisi RP Argo Yuwono, dihubungi wartawan pada Minggu, 6 November 2016.
Profil kedelapan orang yang ditangkap itu berbeda jauh dari kesan 'maha guru'. Profesi mereka bermacam-macam. Dari karyawan swasta, buruh lepas, pengangguran, bahkan ada yang berprofesi pengemis dan gelandangan. "Tersangka V yang merekrut mereka atas perintah tersangka TP (Taat Pribadi)," kata Argo.
Agar meyakinkan para pengikut Padepokan Dimas Kanjeng, Vijay mencari pria berusia renta dan berjanggut putih. Mereka kemudian diarahkan memakai busana layaknya guru spiritual dan dihadirkan di pertemuan antara pengikut padepokan dengan Dimas Kanjeng.
Saat pertemuan berlangsung, para 'maha guru' itu diarahkan duduk di kursi besar di atas panggung bersama Dimas Kanjeng. Mereka mengikuti beberapa kali pertemuan di Jakarta yang dikemas, di antaranya, dengan kegiatan istighasah bersama. "Kepada para korban, mereka mengaku sebagai maha gurunya tersangka TP," ujarnya menambahkan.
Terakhir kali pertemuan dilakukan pada 14-19 Maret 2016 lalu. Waktu itu, Dimas Kanjeng menyuruh Vijay agar memesan 155 kamar di Hotel Merlynn Park Jakarta. Ratusan kamar itu dipakai menginap para pengikut Dimas Kanjeng yang akan mengikuti kegiatan bersama. Kala itu, 'maha guru' Dimas Kanjeng turut dihadirkan."Tersangka V ini berperan seperti EO (event organizer) untuk pertemuan para pengikut Padepokan Dimas Kanjeng di Jakarta. V mendapat bayaran dari TP yang ditransfer oleh sultan agung inisial S kurang lebih Rp 2 miliar. V juga yang membayar para 'maha guru' antara dua juta sampai lima belas juta."
Diberitakan sebelumnya, petugas Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim mengamankan delapan orang yang diduga terlibat penipuan bermodus penggandaan uang di Padepokan Dimas Kanjeng. Mereka ditangkap di Jakarta pada Sabtu, 5 November 2016 dan langsung dibawa ke Markas Polda Jatim di Surabaya.
Tujuh orang berperan sebagai 'maha guru', seorang lainnya masih didalami peranannya dalam kasus ini. Mereka yang ditangkap ialah Ratim alias Abah Abdurohman, Abdul Karim alias abah Sulaiman Agung, Murjang alias Abah Nogososro, Marno alias Abah Kholil, Atjep alias Abah Kalijogo, Sadeli alias Etong, Sutarno alias Abah Sukarno, Atjep alias Abah, dan Karmawi.(mus)

Polisi Periksa 7 Mahaguru Dimas Kanjeng

KOMPAS.com/Achmad Faizal Dimas Kanjeng Taat Pribadi, tersangka kasus penipuan.
SURABAYA, KOMPAS.com - Penyelidikan kasus penipuan Dimas Kanjeng Taat Pribadi terus dikembangkan. Saat ini, pemeriksaan dilakukan terhadap tujuh orang mahaguru Dimas Kanjeng.
Tujuh orang yang disebut mahaguru itu dijemput tim Ditreskrimum Polda Jatim dari Jakarta, Minggu (6/11/2016).
"Mereka sampai saat ini masih diperiksa sebagai saksi," kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono, Senin (7/11/2016).
Identitas tujuh mahaguru itu diperoleh dari hasil pemeriksaan seorang pengusaha emas batangan bernama Vijay yang ditangkap di Jakarta, pekan lalu.
"Harusnya ada sembilan mahaguru, tapi satu di antaranya sudah meninggal dan satu lagi kabur," tambahnya.
Para mahaguru itu bertugas mewakili Dimas Kanjeng untuk mengisi acara keagamaan di berbagai daerah.
Setiap kali acara, peserta mengumpulkan uang mahar dan uang tersebut diserahkan ke Padepokan Dimas Kanjeng melalui Vijay. Vijay sendiri ditangkap pada 2 Oktober lalu di Jakarta.
Pengusaha berkebangsaan India itu disebut orang dekat Dimas Kanjeng yang namanya tidak masuk di struktur padepokan.
Diduga, Vijay adalah pengusaha yang menyediakan batangan emas palsu yang diberikan Dimas Kanjeng kepada pengikutnya.
Penulis: Kontributor Surabaya, Achmad Faizal
Editor : Caroline Damanik

Senin, 29 Februari 2016

MISTERI DIMAS KANJENG TAAT PRIBADI

 


KINI SUDAH ADA THE KING OF THE KINGS VERSI INDONESIA



3 Votes
IMG_101589392371671
ADVERTISEMENT
JIKA BENAR PENOBATAN DIMAS KANJENG TAAT PRIBADI SEBAGAI THE KING OF KINGS VERSI INDONESIA DALAM KONTEKS HARTA AMANAH SOEKARNO (HAS) DAN HARTA AMANAH DINASTI (HAD) MAKA BAGAIMANA NASIB HM ANTONIO SANTIAGO MARTHIN (KING ASM CODE) DALAM VERSI THE COMMITTEE 300 YANG MENDAPAT SUPPORT DARI IMF DAN BANK DUNIA? AKANKAH TERJADI PERUBAHAN TOTAL DALAM TATANAN KEUANGAN GLOBAL? NAMPAKNYA MASIH PERLU KEJIAN LEBIH LANJUT.****
Dikabarkan pada tanggal 11 Januari 2016 lalu sejumlah raja Nusantara berkumpul di padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Probolinggo. Pria muda yang dibesarkan dalam lingkungan budaya Madura itu dinobatkan menjadi Raja Nusantara bergelar Sri Raja Prabu Nagara. Ketua panitianya pun tak tanggung-tanggung, Prof. Dr. Marwah Daud Ibrahim sang tokoh ICMI (Ikatan Cendekiawn Muslim Indonesia).
Menurut media lokal setempat para raja dan sultan yang hadir dalam jumenengan ini antara lain  Ketua Asosiasi Kerajaan dan Kraton Indonesia (AKKI) Sri Lalu Gede Pharmanegara Parman, Raja Ben Rafizon dari Skalabrak Puspanegara Lampung, Raja Langgoi Irwan Estikaka, Kesultanan Aceh Darussalam Sultan Tengku Suriansyah, Sultan Bulungan Dato Habib, Raja Kulisusu Sulawesi Tengah, Raja Andi Firdaus Sindreng Sulawesi Selatan, Raja Maros Andi Bato Anwar Sulawesi Selatan, Raja Gafar Ismail Kartanegara dari Slaparan Lombok, Raja Keagungan Segayu di Puncak Nur Lampung, Raja Batudengdeng Jalaluddin Arzaki, dan Resi Agung Nusantara Koni Herbayo, serta dari Kesultanan Demak Bintoro Sultan Surya Alam.
IMG-20151219-WA0006
Komunitas Harta Amanah Soekaeno (HAS) dan Harta Amanah Dinasti (HAD) beraliran ketauhidan yang populer dengan zikir nariyah ini, berkeinginan mensejajarkan peran Kerajaan Nusantara sejajar dengan Kerajaan Inggris ( The Kingdom) yang dulu dalam kesejarahannya memang begitu (lihat foto di atas yang penulis dapatkan dari Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi).
Hanya saja siapakah sebenarnya Dimas Kanjeng Taat Pribadi? Belum banyak yang terungkap selain dari keberhasilannya membangun padepokannya di Probolinggo dengan kemampuannya menarik uang tunai dari berbagai mata uang dunia melalui kedua tangannya saat santrinya berzikir. Sebab jika melihat lingkungan di Probolinggo, Dimas Kanjeng dipastikan keturunan atau berdarah Madura, sebab di daerah itu mayoritas penduduknya berasal dari daerah Madura, bahkan pelajaran bahasa daerah di Sekolah Dasar wilayah itu adalah bahasa Madura.
Tetapi bisa jadi benar bahwa Madura memang tempat mendaratnya pertama kali kelompok pencari (Knight Templar) harta Nabi Sulaiman As (King Solomon) juga di Madura. Bahkan analisa Prof. Arysio Santos (ahli nuklir) dari Brazil yang mengatakan bahwa kota Atlantis yang hilang itu diduganya berada di perairan Madura. Semoga saja.
Versi itu memposisikan peta kolateral dunia menjadikan posisi Kerajaan Nusantara sederajat dengan posisi Kerajaan Inggris The Kingdom. Perkiraan penulis akan terjadi benturan pertaruhan kepentingan dalam perebutan skenario mana yang benar dan mana yang salah dalam menata dan mengelola aset HAS dan HAD yang selama ini menjadi misteri terbesar dalam peradaban kemanusiaan.
Dulu, M1 (Monetary One) memang dilahirkan dari apa yang disebut “The Illuminated Breeding Program” sebagai upaya para raja dunia untuk melahirkan bibit unggul yang mana semua darah keturunan masing-masing raja kerajaan besar dunia ketika itu berada dalam tubuh dan merasakan kehadiran “the one”sehingga seluruh aset mereka berhasil ditata melalui tangan the one yang kemudian disebut M1. Tetapi setelah beliau wafat, the one kemudian hanyalah menjadi sebuah rekayasa.
Amerika Serikat dengan The Committee 300 pun melakuan beberapa versi sekedar untuk mensahkan sistem keuangan global dari dulu hingga kini. Tetapi upaya demi upaya, skenario demi skenario hingga kini tak jua menjadi solusi yang tepat. Ekonomi dunia tetap saja rentan. Padahal, menurut penulis, mestinya diskusi imjaniner tahun 2005 antara Soekarno dan Schroder di Belanda menjadi titik temu pemecahan. Sayang saat itu Soekarno marah besar, karena menganggap Schroder ingkar janji.
Keberhasilan kawin silang antar raja ini telah melahirkan Plan of The Expert pada tahun 1928 saat Paku Buwono X (PB X) mengundang 128 raja di Solo setelah ia berhasil melakukan recall asset tahun 1920. Paket tugas ini diserahkan kepada Soekarno yang saat itu berusia 27 tahun. Soekarno dianggap M1 saat itu, karena beliau adalah puncak hasil kawin silang para raja Nusantara dan Dunia. Literatur Yahudi pun mencatatkan Proklamator Republik Indonesia ini adalah anak biologis PB X. Wallahuallam.

IMG-20160112-WA0006
Bagaimana dengan Dimas Kanjeng Taat Pribadi? Masih menurut versi Padepokan Dimas Kangjeng Taat Pribadi, pengukuhkan penarik uang terhebat di dunia melalui kedua tangannya itu akan menjadi The King of The Kings. Alasan yang paling utama adalah, Taat Pribadi menguasai dunia nyata dan dunia gaib.
Sekitar Desember lalu, menurut informasi dari mereka, di Padepokan ini telah diadakan pemilihan secara demokratis siapa yang layak jadi The King of The Kings itu. Dari 500 peserta yang hadir menunjuk empat kandidat, salah satunya Syekh Habib Yusuf dari Yaman. Ada 128 orang apa yang mereka sebut “wali” memilih Dimas Kanjeng Taat Pribadi sebagai Presiden Mercusuar Dunia. Dan 122 peserta menolak, lainnya abstain.
Dimas Kanjeng Taat Pribadi memang sudah sempat diundang ke Istana Negara oleh Presiden Jokowi perihal kepandaiannya menarik uang melalui kedua tangannya apabila ditarik ke belakang saat dia duduk di kursi mahkotanya.
Triliunan rupiah sudah ditarik melalui ilmunya itu. Bahkan para santrinya ada yang sudah menabungkan uangnya di bank hingga Rp 7 triliun. “Kakak kandung saya sudah mendepositokan uangnya sekitar Rp 1 triliun”, jelas seorang santri kepada penulis belum lama ini.
Semula banyak pihak beranggapan bahwa uang yang berhasil ditarik  Dimas Kanjeng Taat Pribadi itu berasal dari uang milik orang lain. Tetapi komunitas HAS dan HAD ini menjawab, bahwa uang yang ditarik itu berasal dari gudang nenek moyang bangsa Indonesia, bukan dari milik siapapun.
Berdasarkan kajian dan penelitian tim gabungan Bank Indonesia, PPATK, OJK, Mabes Polri, dan Kejaksaan Agung selama dua bulan, menyatakan bahwa uang hasil tarikan Dimas Kanjeng tidak memiliki unsur pidana. Pernyataan itu konon kabarnya sudah dimuat dalam Keppres yang ditandatangani Jokowi tanggal 05 Oktober 2015 lalu.
Uang yang berhasil ditarik Pedepokan ini tidak hanya rupiah, tetapi banyak juga mata uang dunia lainnya seperti USD, Euro, Ringgit, dan sebagainya sesuai dengan sebutan atau ucapkan yang dilontarkan sebelum kedua tangannya kebelakang.
video cara kerja Kanjeng Dimas menarik uang
Kecanggihan Dimas Kanjeng ini didukung banyak pihak baik secara lahir maupum bathin. Katanya sebanyak 117 pemilik dan penjaga gudang HAS dan HAD yang pernah mengadakan pertemuan di padepokan jauh hari sebelumnya. Bahkan diberitakan, hadir secara gaib di depan para santrinya seperti Sultan Banten, Nyimas Ratu Nilam Sari, Syekh Abu Yasid, dan sebagainya.
Apapun lah fenomena alam ini,  bagi penulis hanya melihat tujuannya. Mereka sebagai komunitas HAS dan HAD berbasis ketauhidan, berkeinginan untuk memakmurkan dan mensejahterakan umat manusia dan bangsa Indonesia khususnya.
Semoga…*****
Pria kelahiran desa wangkal pada tanggal 28 April 1970 dari seorang ayah bapak musta’in mantan kapolsek gading. Sejak kecil taat pribadi selalu menjadi perhatian teman-temannya selain wajahnya yang ganteng dia selalu membuat heboh tetangganya,teman-temmanya mulai dari pengumpulan KTP untuk bantuan KUT yang bermasalah, menjadi kordinator Amalillah yang juga banyak memakan korban dan buka jaringan sendiri dengan UANG AMANAH DARI BELIAU (Beliau adalah sebuatan untuk abah ilyas guru taat pribadi) 
mulai dari tahun 2000 berguru dan menjadi mantra abah ilyas untuk mencari nasabah dengan janji melipat gandakan dana yang disetor, 5 juta akan kembali 50 juta. Taat pribadi tidak sendirian berguru kepada abah ilyas, tapi teman-teman yang lain keluar dari abah ilyas kanena abah ilyas sudah berbohong dengan janji-janjinya. Dengan kesetiaanya taat pribadi dengan abah ilyas di beri gelar Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Karna teman-temannya taat pribadi yang berontak kepada abah ilyas sampai mengancam nyawa abah ilyas, ahirnya abah ilyas bersumpah akan menurunkan ilmunya kepada taat pribadi dan taat pribadi akan mewarisi semua ilmunya yang abah ilyas miliki. Abah ilyas meramalkan taat pribadi akan jadi orang yang terkenal. Dengan wajah yang menyakinkan bicaranya yang enak taat pribadi bisa mengajak teman-temannya dengan dibentuk TIM 9. Dari TIM 9 ini terus berkembang. Pertemuan dan pragaan proses mengambilan uang dari alam ghaib dan sumpah kesetiaan oleh abah ilyas di hotel sri kandi kraksaan membuat anak buahnya taat pribadi tambah mantap. Untuk menyakinkan public dan media taat pribadi membuat acara santunan di lapangan wangkal pada tanggal 28 mei 2008. Dalam pengakuan taan pribadi ketika ditanya usahanya, Taat Pribadi mengaku hanya bertani biasa. "Uang itu bukan milik saya. Uang itu amanah dari guru saya," kata lelaki bertubuh tambun itu.

Namun, Taat Pribadi tak bersedia menyebutkan siapa gurunya itu. Ia hanya menceritakan sudah belajar ke gurunya itu sejak tahun 2000. Dengan bimbingan gurunya itu, ia mengaku telah melakukan ritual puasa kurang lebih 41 hari dan melakukan puasa putih. Terakhir, ia puasa tidak berbicara secara bertahap. Tahap pertama yakni 7 hari, meningkat 21 hari dan terakhir selama 41 hari.. "Guru saya bilang kalau saya sudah pantas memakai nama Dimas Kanjeng,"
Pengakuan taat pribadi kepada media.

Setelah pengakuan pertama sampai dengan pengakuan dalam acara-acara selalu berubah-rubah, karna menjadi sorotan masyarakat taat pribadi mengaku dapat uang dari bisnis mobil mewah, batu bara, dan berian. Padahal profesi ini baru tidak jelas dimata masyarakat dan anak buahnya, tersering di gembar-gemborkan taat pribadi bisa mendatangkan uang dari alam ghaib dan benda-benda yang lain, seperti berlian, emas, jam rolex dll. Banyak yang mengetes berlian dan emas yang diberikan kepada anggotanya, ternyata setelah di TEST semua palsu, setelah anggotanya Tanya ke taat pribadi hanya bilang bukan waktunya dijual karna prosesnya belum selesai. Sudah bertahun-tahun, janji demi janji yang di sampaikan ternyata sampai detik ini belum terbukti keberadaan UANG AMANAH itu. Anehnya sampai saat ini korban belum ada yang berani melapor, inilah sulitnya mengunggkap penipuan yang dijalankan taat pribadi sampai sekarang anggotanya sudah sampai 25 ribu anggota dengan setoran di atas seratus juta dan ada yang setor 1Milyar lebih. Setiap ada santuna untuk anak yatim dan fakir miskin taat pribadi selalu minta iuran dari anggota dari yang paling kecil 300ribu sampai tidak terbatas, dengan janji semakin banyak setoran semakin banyak uang yang akan di dapat. Untuk menunjukan agar anggotanya yakin taat pribadi sering berpragaan mengambil uang dari belakang badannya dengan ghaib. Pengakuannya sampai saat ini uang yang diangkat sudah mencapai 2 bilyun atau melebihi hutang Negara kita. Yang menjadi pertanyaan kenapa Aparat, BPK dan dll diam saja? Padahal korban sudah banyak