Jokowi Tambah Wewenang Rizal, Rini dan Jusuf Kalla Semakin Terusik
22 Agustus 2015 13:26:44
Dibaca :
Akhirnya terbukti sudah. Jokowi sengaja
menarik Rizal Ramli ke dalam kabinet kerjanya untuk menghadapi
‘lawan-lawannya’ dan mendobrak ketidakberesan dalam kabinetnya. Untuk
tugas itu Jokowi mendukung penuh langkah Rizal. Tak heran jika Rizal
berani menyempret Menteri BUMN Rini Soemarno dan juga Wapres Jusuf
Kalla.
Kontroversi Rizal yang mengintervensi tugas menteri lain
memang telah mendapat teguran langsung Presiden Jokowi. Namun itu hanya
seremonial belaka dan hanya bumbu pemanis politik. Alasannya jelas. Apa
yang dikritik Rizal itu adalah fakta kebenaran dan bukan hanya sensasi.
Buktinya, setelah heboh berkonfrontasi dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla
dan Menteri BUMN Rini Soemarno, tugas dan wewenang Menko Kemaritiman
dan Sumber daya ini bukannya dibatasi atau dipreteli, tetapi malah
ditambah oleh Presiden Jokowi.
Awalnya Kementerian Koodinator
Bidang Kemaritiman yang dipimpin Rizal mengkoordinir kerja Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Perhubungan,
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dan Kementerian Pariwisata.
Tapi kini, juga menangani Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat (Kempupera) serta Kementerian Pertanian (Kemtan), yang sebelumnya
di bawah koordinasi Kementerian Koordinasi Bidang Perekonomian.
Penambahan
tugas Rizal Ramli ini berarti mengindikasikan kepercayaan Jokowi pada
Rizal Ramli semakin tinggi. Sebelumnya, Jokowi juga meminta Rizal Ramli
untuk membenahi waktu tunggu atau dwelling time di pelabuhan,
dari target sebelumnya 4,7 hari menjadi 3 hari. Perintah ini pun
memperlihatkan kepercayaan Jokowi yang begitu tinggi pada Rizal Ramli
“Ya,
presiden menugasi saya untuk menangani juga dua kementerian itu,” kata
Rizal Ramli kepada Beritasatu.com, Jumat (21/8). Rizal bilang, tugas
tambahan ini dimaksudkan untuk lebih mempercepat pembangunan
infrastruktur dan meningkatkan pasokan bahan pangan.
Dulu, saat
berada di lingkaran pemerintahan, Rizal boleh dibilang cukup sukses
menjalankan tugasnya. Ketika menjadi Sekretaris Komite Kebijakan Sektor
Keuangan (KKSK), Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog), dan Menko
Perekonomian, ia melakukan sejumlah dobrakan kebijakan yang terbukti
mampu menjadi solusi yang cepat dan tepat.
Di Bulog, misalnya,
Rizal melakukan restrukturisasi besar-besaran. Terjadi pergantian dan
mutasi lima jabatan eselon satu dan dua. Semua itu dilakukan agar Bulog
menjadi organisasi yang transparan, akuntabel, dan lebih profesional.
Keberpihakan
kepada para petani, diwujudkan dalam bentuk peningkatan pembelian
gabah, bukan beras dari petani. Bukan rahasia lagi, pembelian beras oleh
Bulog kerap menimbulkan kecurangan yang dilakukan oleh para tengkulak.
Mereka membeli beras petani, kemudian dioplos dengan beras impor, lalu
dijual ke Bulog.
Cara seperti itu, tentu saja merugikan para
petani karena beras yang dihasilkan di sawahnya hanya sebagian kecil
yang dibeli oleh Bulog. Itulah sebabnya sebagai Kepala Bulog, Rizal
kerap turun ke lapangan, ke desa-desa untuk bertemu dengan para petani.
Rizal
juga melakukan sejumlah perubahan radikal. Antara lain, merapikan
rekening-rekening ‘liar’ yang jumlahnya mencapai 119 rekening menjadi
hanya 19 rekening saja. Rizal pun memerintahkan sistem akuntansi Bulog
diubah supaya lebih transparan dan accountable. Dana off budget harus
menjadi on budget. Dia mewariskan Rp 1,5 Trilliun dari Bulog hasil
penghematan dan effisiensi.
Selain itu, Rizal juga pernah
merestrukturisasi seluruh kredit properti, UKM, dan petani tahun 2000.
Rizal berhasil menggaet dana hingga Rp 4,2 triliun tanpa menjual
selembar pun saham BUMN. Caranya, dia menghapus cross ownership alias
kepemilikan silang dan manajemen silang (cross management) antara PT Telkom dan PT Indosat di puluhan anak perusahaannya.
Lewat
kebijakan ini, negara memperoleh pendapatan berupa penjualan silang
saham dan pajak revaluasi aset kedua perusahaan senilai Rp 4,2 triliun.
Dan yang tidak kalah pentingnya, kedua perusahaan tersebut jadi bisa
bersaing secara sehat. Ujung-ujungnya, konsumen juga diuntungkan.
Tentu
masih ada beberapa kisah sukses Rizal lainnya. Misalnya, dia melakukan
operasi penyelamatan PLN dari bayang-bayang kebangkrutan karena mark up
puluhan proyek pembangkit listri swasta. Dia mengambil inisiatif untuk
melakukan revaluasi aset BUMN. Hasilnya, aset sebelumnya hanya Rp 52
triliun melambung menjadi Rp 202 triliun. Sedangkan modal dari minus Rp 9
triliun menjadi Rp 119,4 trilliun. Dia juga mengarahkan negosiasi utang
listrik swasta PLN dari US$ 85 miliar turun menjadi US$ 35 miliar. Ini
menjadi sukses negosiasi utang terbesar dalam sejarah Indonesia.
Deretan
kesuksesan inilah yang kemudian membuat Presiden Jokowi kepincut dan
kasmaran kepada Rizal sehingga memperluas tugas dan wewenangnya sebagai
Menko Kemaritiman.
Namun di tengah perseteruannya dengan Jusuf
Kalla dan Rini Soemarno yang baru adem tiga hari, penambahan tugas yang
diberikan Jokowi kepada Rizal tentu saja akan membuat Rini dan Jusuf
Kalla semakin terusik. Ke depan, bukan tidak mungkin Rizal akan terus
mengkritik dan bahkan mengevaluasi tugas Rini. Sedangkan Jusuf Kalla
akan terus diusik oleh Rizal terkait proyek listrik 35 ribu MW itu.
Keberanian
Rizal menantang Jusuf Kalla untuk berdebat di depan umum tentang proyek
pembangkit listrik 35.000 megawatt, penyebabnya juga semakin
terang-benderang. Jokowi telah mencium ada ketidakberesan dalam proyek
listrik 35 ribu MW itu. Karena itu Jokowi mendorong Rizal mengevaluasi
proyek itu. Namun ketika Rizal mengevaluasi proyek listrik itu,
kepentingan bisnis Jusuf Kalla juga langsung terusik. Kalla pun
megap-megap dan balik menyerang Rizal. Publik pun sebenarnya sudah paham
bahwa Kalla Group (Grup bisnis milik keluarga Jusuf Kalla) sangat
berkepentingan dengan proyek-proyek listrik, baik PLTA, PLTU dan PLTG.
Maka
ke depan peta pertarungan kepentingan di dalam kabinet Jokowi semakin
menarik. Sikut-menyikut antara menteri semakin heboh sementara rupiah
terus anjilok. Dan tentu saja para menteri akan semakin sibuk mencari
kambing hitam pelemahan ekonomi.
Akan tetapi di balik pelemahan
rupiah dan melemahnya ekonomi, Jokowi masih mempunyai optimisme untuk
segera bangkit kembali. Optimisme itu ditaruh di pundak Rizal Ramli
untuk segera membenahi ekonomi yang semakin linglung. Mampukah Rizal?
Waktu yang akan menjawabnya.
Asaaro Lahagu
15 Agustus 2015 12:49:56
Dibaca :
8,961
Masuknya Rizal Ramli dalam Kabinet Jokowi
membuat publik terkejut. Alasannya jelas. Rizal Ramli selama ini,
sangat garang terhadap Bank Dunia, IMF, dan ADB. Tiga lembaga keuangan
internasional itu dicapnya sebagai agen neo-liberalisme yang telah
mencelakakan Indonesia.
Begitu Rizal masuk kabinet, sontak
Rupiah dan IHSG merosot. Sosok Ramli yang sangat anti utang, membuat
berbagai lembaga keuangan internasional sangat khawatir. Jelas itu
indikasi bahwa dukungan dari lembaga-lembaga keuangan internasional
kepada Presiden Jokowi makin hilang. Selain itu, ada kekhawatiran pasar
bahwa Jokowi akan kesulitan mengendalikan Rizal yang sosoknya
kontroversial.
Lihat saja sepak-terjang Rizal. Baru sehari
dilantik menjadi menteri, dia sudah memancing kontroversi dan langsung
membuka front perseteruan dengan Menteri BUMN Rini Soemarno. Tanpa
basa-basi, Rizal langsung menyemprot Menteri Rini agar Garuda Indonesia
membatalkan pembelian sejumlah pesawat untuk penerbangan jarak jauh.
Proyek ini tidak layak. Menurut Rizal penerbangan jarak jauh Garuda,
Jakarta-Amerika dan Jakarta-Eropa tidak laku dan telah menjadi sumber
kerugian banyak perusahaan penerbangan termasuk Singapura. Rini diam,
tak bisa membalas argument Rizal. Rini hanya membungkam mulut Rizal
dengan berkata bahwa proyek Garuda bukan urusan Ramli.
Kontroversi
Rizal Ramli juga terus berlanjut. Program Listrik 35 Ribu Mega Watt
yang digagas Jokowi dan Jusuf Kalla dan kini menjadi Proyek Menteri
Sudirman Said tak ketinggalan disemprot Ramli. Ramli mengatakan bahwa
target pengembangan listrik 35 ribu MW itu harus direvisi. Alasannya
menurut Ramli adalah target itu tidak realistis karena terjadi
perlambatan pertumbuhan ekonomi. Sebelumnya target itu dipatok dengan
asumsi pertumbuhan ekonomi 5,6 persen per tahun. Semprotan Rizal itu
ditentang ole Menteri ESDM Sudirman Said. Sudirman kukuh tidak akan
merevisi target tersebut dan berkelit bahwa target tersebut adalah
proyeksi kebutuhan listrik nasional hingga 2019.
Selain Garuda
dan Listrik 35 Ribu MW, proyek Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung juga tak
ketinggalan disemprot Rizal. Rizal yang menjabat sebagai penasehat
ekonomi PBB itu menduga ada kepentingan bisnis pribadi pejabat dalam
“perang” proposal pengadaan kereta api cepat yang sedang diperebutkan
Jepang dan Cina. Informasi adanya backing dan pejabat yang bermain dalam
proyek kereta api cepat itu diperoleh Rizal dari Jokowi.
Akan
tetapi meski adanya permainan di balik proyek tersebut, ujar Rizal,
pemerintah tidak akan terpengaruh dan tetap akan memilih yang terbaik.
Namun, menurut Mantan Menko Perekonomian Sofyan Djalil yang kini
menjabat Kepala Bappenas, lamaran Jepang dan Cina sedang dinilai
konsultan independen. Ditargetkan nama pemenang sudah keluar akhir
Agustus mendatang.
Garangnya Rizal Ramli juga bisa dilihat
perseteruannya dengan Direktur Pelaksana Bank Dunia Sri Mulyani yang
masih penuh kebencian. Rizal pernah menuduh Sri Murlyani sebagai orang
yang tidak memiliki nasionalisme sama sekali. Sri Mulyani, katanya di
berbagai kesempatan, adalah kaki tangan kapitalis global. Rizal juga
giat membangun opini publik bahwa doktor ekonomi lulusan University of
Illinois itu sesungguhnya kriminal yang bertanggungjawab dalam ‘skandal’
Bank Century.
Tak hanya Sri mulyani, Partai Demokrat dan bahkan
mantan presiden SBY serta keluarganya juga menjadi sasaran tembak Rizal
dan kawan-kawan. Mereka seolah menerima aliran dana haram dari Bank
Century. Ketika itu mereka tampak sangat kompak dengan Golkar dan PKS,
yang juga sangat rajin menggempur pemerintah meski keduanya bagian dari
koalisi.
Rizal Ramli juga gencar menyerang neo liberalisme, dan
menawarkan ‘ekonomi kerakyatan’ sebagai konsep terbaik bagi pembangunan
Indonesia. Sayang sampai sekarang tak jelas, apakah konsep tersebut
sesungguhnya nama baru dari sosialisme atau bukan. Atau proteksionisme
ala Soeharto, yang membatasi jumlah pemain dalam perekonomian nasional
dengan alasan untuk menumbuhkan industri dalam negeri.
Terlepas
dari hal tersebut, yang pasti pemerintah sekarang sedang butuh banyak
uang untuk merealisasikan program-program pembangunannya. Sebuah
kenyataan yang memaksa pemerintah berulang kali menerbitkan surat utang
meski baru 8 bulan berkuasa. Demikian besarnya nafsu berutang tersebut,
bila digabung dengan swasta, kini sekitar 56,8% dari nilai total ekspor
Indonesia per tahun dipakai untuk mencicil utang!
Sebelum
menjadi menteri, Rizal berulang kali menyatakan, menutup kekurangan dana
APBN dengan berutang adalah perbuatan bodoh. “Semua orang bisa,”
katanya. Berutang kepada lembaga keuangan dunia seperti Bank Dunia dan
IMF, menurutnya, juga konyol. Lembaga-lembaga tersebut, katanya, selalu
mengajukan berbagai persyaratan yang akhirnya hanya menguntungkan
mereka sendiri.
Ditilik dari belakang sebetulnya sepak terjang
Rizal Ramli bersifat ambigu. Publik masih ingat bagaimana Rizal ikut
dalam pendatanganan surat takluk pada kehendak IMF alias Letter of
Intent dilakukan pada 2001. Ketika itu Rizal Ramli adalah Menko
Perekonomian di bawah Presiden Abdurrahman Wahid. Adalah Rizal juga yang
memimpin pertemuan-pertemuan untuk mengemis utang kepada IMF dan
lembaga-lembaga keuangan internasional lainnya.
Selain itu
Rizal juga yang menemui Consultative Group on Indonesia, forum
negara-negara dan lembaga kreditor Indonesia untuk melaporkan sejauh
mana pemerintah Indonesia telah melaksanakan titah IMF. Berdasarkan
kepuasan CGI pada laporan tersebut, nilai pencairan utang kepada
Indonesia diputuskan.
Maka, meski suarannya sangat tajam dan
menggelegar, kehadiran Rizal Ramli di kabinet mungkin tidak akan
mengubah haluan kebijakan ekonomi pemerintah. Jokowi akan tetap berburu
utang, apalagi bila aliran dana dari Cina benar-benar anjlok; dan
menjadikan “ekonomi kerakyatan” sekadar pemanis bibir karena tak bisa
diandalkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Jokowi sendiri tampaknya
juga tak ingin Rizal Ramli menjadi dominan di kabinet. Inilah mengapa ia
menempatkan mantan Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution, sebagai
Menko Perekonomian. Sejauh ini Darmin tak pernah berbicara soal pro atau
kontra neo liberalisme.
Darmin tampaknya seia-sekata dengan
Index of Economic Freedom 2015, yang dirilis oleh The Wall Street
Journal dan The Heritage Foundation. Dalam index ini perekonomian
Indonesia berada dalam peringkat 105 dari 165 negara yang disurvei. Ini
berarti Indonesia masuk dalam jajaran negara yang perekonomiannya
“mostly unfree (hampir sepenuhnya tidak bebas)” atau sangat jauh dari
liberal. Peringkat Indonesia jauh berada di bawah para tetangga. Lihat
saja, Filipina di peringkat 76, Thailand 75, Malaysia 31, dan Singapura
di peringkat 2. Peringkat teratas diduduki oleh Hongkong.
Akankah
keberadaan Rizal memperkuat kabinet Jokowi? Ataukah sebaliknya sosok
keberadaannya justru kontra-produktif dalam kabinet Jokowi? Mari kita
lihat adegan sikut-menyikut dalam kabinet Jokowi dan bagaimana Jokowi
mengatasinya.
Salam Kompasiana!
Asaaro Lahagu