Tampilkan postingan dengan label Mayjen Dr. Dokter Terawan Agus Putranto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mayjen Dr. Dokter Terawan Agus Putranto. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 April 2018

Dokter Terawan Buka Suara soal 'Cuci Otak' dan Sanksi IDI

Dias Saraswati, CNN Indonesia | Rabu, 04/04/2018 19:34 WIB
Dokter Terawan Buka Suara soal 'Cuci Otak' dan Sanksi IDI Dokter Terawan mengklaim metode pengobatan penyumbatan pembuluh darah di otak sudah melalui uji ilmiah. (CNN Indonesia/DiahSaraswati)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), Mayor Jenderal Dr. dr. Terawan Agus Putranto buka suara terkait kabar pemecatan selama 12 bulan dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Menurut dia, metode pengobatannya buat mengatasi penyumbatan pembuluh darah di otak sudah teruji dan tidak perlu diragukan.

Dokter Terawan mengklaim metode terapinya telah teruji secara ilmiah, yakni melalui disertasi yang dibuat saat meraih gelar doktor dari Universitas Hasanuddin.

"Jadi kalau itu diuji secara ilmiah sudah dilakukan melalui disertasi, dan disertasi sebuah universitas yang cukup terpandang menurut saya adalah hal yang harus dihargai," kata Terawan dalam konferensi pers di RSPAD, Rabu (4/4).
Hanya saja dr. Terawan enggan menanggapi polemik itu karena sampai saat ini belum menerima surat sanksi dari Majelis Kehormatan Etik Kedokteran IDI.

"Saya tidak menanggapi itu karena saya tidak dapat suratnya. Saya harus dapat suratnya baru bisa mengomentari," kata dr. Terawan.

Menurut Terawan, disertasi itu dilakukan bersama lima orang lainnya. Kemudian hasil riset itu pun telah dimuat di 12 jurnal internasional.

Kendati demikian, Terawan tak menampik potensi resiko kegagalan. Maka dari itu dia melakukan penelitian tersebut secara cermat dan rinci.
Di sisi lain, Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari mengatakan pengurus besar IDI hingga saat ini belum mengeluarkan keputusan apapun.

Menurutnya, yang beredar saat ini barulah keputusan dari MKEK sedangkan dari IDI belum ada putusan.

"Yang beredar adalah keputusan MKEK yang mestinya ini merupakan rekomendasi MKEK kepada PB IDI, dan mestinya ini sifatnya rahasia," kata Abdul Kharis.

Sebelumnya, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) telah menjatuhkan sanksi pemecatan sementara terhadap dr. Terawan. Dalam keputusannya MKEK menilai Terawan telah melakukan pelanggaran kode etik berat.

Sekretaris MKEK PB IDI, dr. Pukovisa Prawiroharjo menjelaskan dasar keputusan pemecatan sementara terhadap dokter yang menemukan terapi metode cuci otak untuk pengobatan stroke adalah pada pertimbangan etika perilaku profesional seorang sejawat.

"MKEK mengambil putusannya didasarkan pada murni pertimbangan etika perilaku profesional seorang sejawat," kata Pukovisa saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (3/4) lalu.

"Jadi tidak menilai sisi akademis, sisi standar prosedur operasional juga tak dinilai. Ada Majelis lain yang akan menilai itu," kata Pukovisa. (ayp)

Dirjen Kemenkumham akan Patenkan Metode Dokter Terawan


Dias Saraswati, CNN Indonesia | Rabu, 04/04/2018 17:56 WIB
Dirjen Kemenkumham akan Patenkan Metode Dokter Terawan Hal itu urung dilakukan karena dr. Terawan menolak. Padahal kabarnya metode cuci otak itu sudah dipatenkan di Jerman. Foto: CNN Indonesia/DiahSaraswati
Jakarta, CNN Indonesia -- Polemik pemecatan sementara Mayor Jenderal Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K) RI dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia selama 12 bulan terus bergulir. Namun, dukungan dari sejumlah tokoh terus berdatangan.

Salah satu yang mendukung dr. Terawan adalah Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Freddy Haris. Dia pernah merasakan resep pengobatan dari Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto itu.

Freddy menyatakan berencana memantenkan temuan dr. Terawan tentang metode 'cuci otak' untuk penyembuhan pasien stroke. Sebab menurut dia, metode pengobatan dr. Terawan sebenarnya telah dipatenkan di Jerman dengan nama 'Terawan Theory'.

"Di Jerman bisa dipatenkan, masa di kita enggak bisa. Jerman pasti lebih teliti," kata Freddy di Gedung RSPAD usai bertemu dengan dr. Terawan, Rabu (4/4).

Freddy mengatakan sudah pernah meminta dr Terawan mematenkan metodenya itu pada 2016 lalu. Namun, saat itu, dr. Terawan menolak.

"Budaya orang Indonesia, katanya enggak usah lah buat masyarakat enggak apa-apa," ujar Freddy.

Freddy merasa kalangan medis tidak perlu lagi memperdebatkan landasan ilmiah metode cuci otak itu. Sebab, menurutnya metode sudah dipaparkan dalam disertasi dr. Terawan saat meraih gelar doktor di Universitas Hasanuddin, dan juga jurnal ilmiah yang dibuat dr. Terawan.

"Unhas kan enggak sembarangan ngasih gelar doktor, by riset lagi," ucap Freddy.
Freddy juga menyebut temuan dr. Terawan telah memenuhi persyaratan mendapatkan hak paten, karena ada unsur kebaruan dan inovasi. Kendati demikian, kata Freddy jika nantinya memang ada yang tidak setuju dengan hak paten diberikan kepada dr. Terawan bisa mengajukan gugatan. Bahkan tidak menutup kemungkinan hak paten itu bisa dicabut jika memang ada pelanggaran yang ditemukan.

"Bisa dicabut kalau ada kebohongan, kalau ada misalnya plagiarisme segala macam, meniru orang lain," kata Freddy.

Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) telah menjatuhkan sanksi pemecatan sementara terhadap Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, dr Terawan Agus Putranto Sp, Rad dari anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Dalam keputusannya MKEK menilai Terawan telah melakukan pelanggaran kode etik berat.

Sekretaris MKEK PB IDI, dr Pukovisa Prawiroharjo menjelaskan dasar keputusan pemecatan sementara terhadap dokter yang menemukan terapi metode cuci otak untuk pengobatan stroke itu adalah pada pertimbangan etika perilaku profesional seorang sejawat.

"MKEK mengambil putusannya didasarkan pada murni pertimbangan etika perilaku profesional seorang sejawat," kata Pukovisa saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (3/4) kemarin.

"Jadi tidak menilai sisi akademis, sisi standar prosedur operasional juga tak dinilai. Ada Majelis lain yang akan menilai itu," tuturnya menambahkan. (ayp)

Kontroversi Metode 'Cuci Otak' Dokter Terawan

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Selasa, 03/04/2018 19:15 WIB
Kontroversi Metode 'Cuci Otak' Dokter Terawan Kepala RSPAD Gatot Subroto, Terawan Agus Putranto dipecat sementara dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Ada dugaan karena metode 'cuci otak'. (Foto: CNN Indonesia/Rahman Indra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dunia kesehatan Indonesia gempar berkat berita pemecatan terhadap Kepala RSPAD Gatot Subroto, Terawan Agus Putranto. Berdasarkan keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), dokter spesialis radiologi ini melakukan pelanggaran kode etik berat (serious ethical misconduct).

Surat yang ditandatangani Ketua MKEK, Dr Prijo Sidipratomo bertanggal 23 Maret 2018 itu merupakan tindak lanjut keputusan MKEK PB IDI terhadap putusan Sidang Kemahkamahan Etik atas nama Terawan, dan telah berkekuatan putusan tetap.

Dengan bobot pelanggaran etik serius, MKEK PB IDI menetapkan sanksi berupa pemecatan sementara sebagai anggota IDI selama 12 bulan dari 26 Februari 2018 hingga 25 Februari 2019, dan diikuti pernyataan tertulis pencabutan rekomendasi izin praktiknya.
Aburizal Bakrie lewat akun Twitternya menyebutkan, Terawan dipermasalahkan karena metode 'cuci otak'-nya. Dari informasi yang dihimpun CNNIndonesia.com, Terawan memang pernah memperkenalkan metode cuci otak untuk pengobatan stroke. Metode yang terkenal disebut brain flushing ditulis dalam disertasinya berjudul 'Efek Intra Arterial Heparin Flushing Terhadap Regional Cerebral Blood Flow, Motor Evoked Potentials, dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Kronis'.

Metode ini cukup menuai pro dan kontra di kalangan medis karena latar belakangnya sebagai seorang radiolog. Radiologi merupakan ilmu kedokteran yang menggunakan radiasi untuk diagnosis maupun pengobatan penyakit.
Dalam sebuah wawancara yang tertuang dalam situs Good To Know, Terawan disebut mengobati penyanyi veteran Benny Panjaitan, anggota grup Panbers. Benny lumpuh selama setahun akibat stroke. Keberhasilan pengobatan ala Terawan ini pun menyebar dan menuai berbagai reaksi termasuk anggapan bahwa ini hanyalah hoax.

"Bagi sebagian orang, saya adalah dukun," kata Terawan dikutip dari Good to Know.

Tindakan cuci otak atau Intra Arterial Heparin Flushing (IAHF) adalah modifikasi dari penggunaan teknik pencitraan dengan Digital Substraction Angiography (DSA). Kemudian tindakan dilanjutkan dengan flushing heparin dengan panduan kateter.

Ia menjelaskan pada otak penderita stroke terdapat bagian inti atau bagian otak yang mati dan penumbra atau bagian yang mati sebagian. Bagian yang rusak tidak bisa diperbaiki, tetapi bagian penumbra masih bisa. Menurut Terawan, intervensi radiologi dapat memperbaiki penumbra.
Pada kasus Benny, terdapat arteri yang terhambat sehingga membuatnya lumpuh. Brain flushing alias cuci otak mampu membersihkan sesuatu yang menyumbat arteri dan ia bisa berjalan lagi.

Dari sini, Terawan pun menangani pasien dari berbagai kalangan termasuk selebriti dan politikus, sebut saja di antaranya Dahlan Iskan, Yusril Ihza Mahendra, Abu Rizal Bakrie hingga Inggrid Kansil.

Temuannya yang 'tidak biasa' ini pun membuatnya diganjar berbagai penghargaan antara lain dari Hendropriyono Strategic Consulting (HSC) dan Penghargaan Achmad Bakrie XV yang diadakan oleh Yayasan Achmad Bakrie.
Namun hingga kini, PB IDI belum mengeluarkan pernyataan resmi menanggapi pemecatan Terawan. Di sisi lain, Ketua IDI Daeng Muhammad Faqih justru menyayangkan bocornya surat keputusan MKEK ke publik.

"Yang perlu digarisbawahi hal ini adalah sebenarnya masalah ini adalah masalah internal organisasi terkait aturan-aturan etika, kepantasan dan kepatutan dalam rumah tangga profesi dokter. Dan sebenarnya bukan untuk konsumsi publik," kata dia saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (3/4). (rah)

Alasan Pemecatan Sementara Dokter Terawan Kian 'Misterius'

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Rabu, 04/04/2018 15:48 WIB
Alasan Pemecatan Sementara Dokter Terawan Kian 'Misterius' Sekretaris MKEK menuturkan pertimbangan keputusan murni dari sisi etika perilaku profesi kedokteran berdasarkan Kode Etik Kedokteran Indonesia (KEKI). (Foto: CNN Indonesia/Rahman Indra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kegaduhan timbul kala putusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) bocor ke publik. Kepala RSPAD Gatot Subroto, Terawan Agus Putranto dipecat sementara akibat melakukan pelanggaran kode etik berat atau serious ethical misconduct.

Menanggapi kegaduhan ini, Pukovisa Prawiroharjo, Sekretaris MKEK menuturkan pertimbangan keputusan murni dari sisi etika perilaku profesi kedokteran berdasarkan Kode Etik Kedokteran Indonesia (KEKI). Terkait pelanggaran etik yang dilakukan Terawan, ia berkata MKEK tidak akan membuka hal ini pada publik.

"Ini masuk materi sidang. Maaf tidak bisa dibuka karena terikat rahasia jabatan," kata Pukovisa saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Rabu (4/4).

Dia menegaskan putusan MKEK memiliki basis penilaian dari KEKI. Terkait rahasia jabatan, KEKI mencantumkannya dalam Pasal 16 bahwa 'Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang dikeathuinya tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.'

Pasal ini menekankan bahwa ada sederet kewajiban dokter demi melindungi hak-hak pasien. Terdapat 8 poin cakupan pasal. Pada pasal pertama disebutkan 'Seorang dokter wajib merahasiakan apa yang ia ketahui tentang pasien yang ia peroleh dari diri pasien tersebut dari suatu hubungan dokter - pasien sesuai ketentuan perundang-undangan.'

Akan tetapi, terkait kasus Terawan, Pukovisa enggan memastikan kaitan pasal ini dengan pelanggaran etik Terawan maupun kebijakan MKEK untuk tetap 'diam.'

"Keputusan bersifat tertutup. Jadi enggak bisa dibuka ke umum. Kami berkewajiban untuk itu," ujarnya. Dalam keterangannya, Pukovisa menuliskan bahwa MKEK PB IDI siap mempertanggungjawabkan proses kasus Terawan sebaik-baiknya. Ia menambahkan hakim-hakim atau Majelis Pemeriksa yang dipilih, sengaja dipilih mereka yang tak ada persinggungan kepentingan dengan Terawan.

"Sampai-sampai tidak ada hakim yang berprofesi sebagai Radiolog, Neurolog, dan Bedah Saraf yang mungkin dapat diduga punya kepentingan terhadap kasus ini," katanya.

Sebelumnya, terdapat surat putusan MKEK yang menyebut pemecatan Terawan. Surat yang ditandatangani Ketua MKEK Dokter Prijo Sidipratomo ini bertanggal 23 maret 2018. Akibat pelanggaran etik berat, ia dijatuhi konsekuensi berupa pemecatan sementara sebagai anggota IDI selama 12 bulan mulai 26 februari 2018 hingga 25 Februari 2019.

Publik masih simpang siur soal pelanggaran yang dilakukan Terawan. Namun, opini publik tergiring pada temuan Terawan tentang metode 'cuci otak' miliknya.

Dari informasi yang dihimpun CNNIndonesia.com, Terawan memang pernah memperkenalkan metode cuci otak untuk pengobatan stroke. Metode yang terkenal disebut brain flushing ditulis dalam disertasinya berjudul 'Efek Intra Arterial Heparin Flushing Terhadap Regional Cerebral Blood Flow, Motor Evoked Potentials, dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Kronis'. (rah/asa)

Kesaksian Barisan Pasien yang 'Disembuhkan' Dokter Terawan

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Selasa, 03/04/2018 21:11 WIB
Kesaksian Barisan Pasien yang 'Disembuhkan' Dokter Terawan Sejumlah pasien memberikan kesaksian soal metode pengobatan dokter Terawan yang menyembuhkan mereka, salah satunya adalah pengusaha Jaya Suprana. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kabar pemecatan Kepala RSPAD Gatot Subroto, Dokter Terawan Agus Putranto bergulir pada Selasa (3/4).

Spekulasi soal alasan pemecatan pun masih belum jelas. Namun politikus dan pebisnis Aburizal Bakrie mencuitkan dugaan alasan pemecatan dokter Terawan, yakni berkaitan dengan metode 'cuci otak'.
Dari penelusuran CNNIndonesia.com, metode ini dituangkan dalam disertasi doktoral Terawan dengan judul 'Efek Intra Arterial Heparin Flushing Terhadap Regional Cerebral Blood Flow, Motor Evoked Potentials, dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Kronis'.

Meski menuai pro-kontra, tetap ada deretan pasien yang muncul ke permukaan dengan tagar #SaveDrTerawan di Twitter. Para pasien ini datang dari berbagai latar belakang dan mengatakan sembuh di tangan Terawan.

Jaya Suprana dan sang istri, Aylawati Sarwono pernah menjadi pasien Terawan. Melalui akun Twitter pribadinya, Aylawati mengungkapkan dirinya dan suami merasakan manfaat dari metode pengobatan Terawan.

"Saya dan Jaya Suprana adalah pasien dari Terawan atas kesadaran dan pilihan sendiri untuk menjadi sehat, kami merasakan manfaatnya. Adalah hak konsumen untuk memilih alternatif pengobatan termasuk dengan metode temuan dari Terawan maupun pengobatan tradisional dengan Jamu. #SaveDrTerawan," tulisnya.

Putra mantan ketua DPR RI Agung Laksono, Dave Laksono pun turut membela sang dokter. Menurutnya, Terawan telah menyelamatkan banyak nyawa.

"Dr. Terawan telah berhasil menyelamatkan ribuan nyawa manusia, termasuk sejumlah keluarga saya. Kenapa IDI hanya memberi sanksi tanpa solusi! #savedrterawan," tulisnya.

Kesehatan Pulih

Melalui akun Instagramnya, Brigjen Polisi Krishna Murti menuliskan dirinya pernah menjalani perawatan dengan Digital Substraction Angiography (DSA). Krishna mengaku kesehatannya pulih meski ia tak tahu sisi medis dari efek metode pengobatan.

"Hari ini saya mendengar IDI mencabut izin praktik beliau karena tidak memenuhi syarat tertentu. Saya bukan ahlinya untuk berkomentar apapun. Saya hanya berharap Semoga semua masalah dapat diselesaikan dengan baik," tulisnya.


Tindakan cuci otak atau Intra Arterial Heparin Flushing (IAHF) adalah modifikasi dari penggunaan teknik pencitraan dengan Digital Substraction Angiography (DSA). Kemudian tindakan dilanjutkan dengan flushing heparin dengan panduan kateter.

Terawan sebelumnya menjelaskan terdapat bagian inti pada otak penderita stroke yang mati serta penumbra atau bagian yang mati sebagian. Dia menuturkan bagian yang rusak tidak bisa diperbaiki, tetapi bagian penumbra masih bisa. (asa)

Kolega Pejabat Siap Jadi 'Kelinci Percobaan' Dokter Terawan

Dias Saraswati, CNN Indonesia | Rabu, 04/04/2018 19:48 WIB
Kolega Pejabat Siap Jadi 'Kelinci Percobaan' Dokter Terawan Dirjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham Freddy Harris mengaku sempat menawarkan diri kepada dokter Terawan untuk menjadi pembuktian metode kepada publik. (CNN Indonesia/Rahman Indra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual (KI) Kementerian Hukum dan HAM Freddy Harris mengungkapkan dirinya pernah dua kali menjalani terapi cuci otak dengan dr Terawan Agus Putranto pada tahun 2016 dan Desember 2017 lalu.

Atas dasar itu, Freddy menilai terapi cuci otak yang ditemukan Kepala RSPAD Gatot Subroto itu terbukti secara medis.Freddy bahkan pernah mengajukan diri kepada dokter berpangkat Mayjen TNI itu agar dijadikan sebagai kelinci percobaan. Tujuannya, agar semua pihak tidak lagi memperdebatkan metode tersebut.


"Saya tanya ke dokter Terawan, 'dok sudah saya jadi kelinci percobaan enggak apa-apa deh biar orang lihat semua'," ujar Freddy usai bertemu Terawan di RSPAD, Rabu (4/4).

Freddy menceritakan pertama kali melakukan terapi cuci otak karena dirinya mengalami sumbatan di bagian otaknya. Ketika itu keseimbangan tubuhnya terganggu sehingga tidak bisa bertumpu pada satu kaki saja.

"Kaki saya dulu enggak bisa main whiller, sekarang bisa main whiller artinya secara fakta aja sudah kelihatan," ucap Freddy.

Kemudian yang kedua, Freddy menuturkan dirinya mengalami sumbatan juga yang berpengaruh pada indera penglihatannya.

Freddy pun mengaku tak ada efek samping yang ia alami setelah menjalani terapi cuci otak dengan dr Terawan.

"Tidak ada nih, sehat, lebih muda lagi," ujarnya.
Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) menjatuhkan sanksi pemecatan sementara dokter Terawan dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Dalam keputusannya, MKEK menilai Terawan telah melakukan pelanggaran kode etik berat.

"MKEK mengambil putusannya didasarkan pada murni pertimbangan etika perilaku profesional seorang sejawat," kata Sekretaris MKEK PB IDI, dr Pukovisa Prawiroharjo saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (3/4).

"Jadi tidak menilai sisi akademis, sisi standar prosedur operasional juga tak dinilai. Ada Majelis lain yang akan menilai itu," tuturnya menambahkan. (kid)

Dokter Terawan: Prajurit TNI Tak Mengiklankan Diri

Dias Saraswati, CNN Indonesia | Rabu, 04/04/2018 20:05 WIB
Dokter Terawan: Prajurit TNI Tak Mengiklankan Diri Kepala RSPAD Gatot Subroto, Mayjen TNI dr Terawan Agus Putranto, dirinya tidak pernah mengiklankan diri terkait dengan temuan terapi cuci otak. (CNN Indonesia/DiahSaraswati)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Mayjen TNI dr Terawan Agus Putranto mengatakan dirinya tidak pernah mengiklankan diri terkait dengan temuan terapi cuci otak. Dia pun menyinggung statusnya sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI).

"Saya sebagai seorang TNI tidak pernah mengiklankan diri," kata dokter Terawan dalam konferensi pers di RSPAD, Jakarta, Rabu (4/4).

Terawan diketahui berpangkat Mayjen TNI Angkatan Darat. Terawan sendiri dikenal sebagai penemu terapi cuci otak guna penyembuhan stroke pada pasien.

Temu wartawan yang digelar petang tadi adalah untuk kali pertama Terawan buka suara soal kabar pemecatan sementara dirinya dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Keputusan itu diambil Majelis Kehormatan Etik Kedokteran karena Terawan dinilai telah melakukan pelanggaran etik berat.

Dokter Terawan pun mengaku tak tahu dengan iklan yang dimaksud hingga dirinya dijatuhi sanksi pemberhentian sementara selama 12 bulan tersebut.

"Saya malah tidak tahu iklan yang mana," ujarnya.

Dokter Terawan pun meminta kepada pihak-pihak yang menyebutnya memasang iklan untuk menunjukkan bukti tersebut. Sebab, ia menilai akan membahayakan jika tuduhan tersebut tidak disertai dengan bukti.

"Kalau katanya saya repot, maka mohon izin untuk ditunjukkan kayak apa," ucap pria yang menjadi kepala RSPAD sejak 2015 silam.

Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari mengatakan seluruh biaya di RSPAD sebenarnya diatur Kementerian Keuangan.

Atas dasar itu, Abdul menilai sulit bagi Terawan sebagai kepala RSPAD membuat iklan dan memasang tarif sendiri terkait dengan terapi cuci otak tersebut.

"Saya kira terlalu jauh kalau sampai mengatakan diiklankan, sangat mahal dan sebagainya, apalagi dikembangkan lebih jauh lagi " ujar Abdul.

Kemarin, saat dikonfirmasi, Sekretaris MKEK PB IDI, dr Pukovisa Prawiroharjo menjelaskan dasar keputusan pemecatan sementara terhadap dokter yang menemukan terapi metode cuci otak untuk pengobatan stroke itu adalah pada pertimbangan etika perilaku profesional seorang sejawat.

"MKEK mengambil putusannya didasarkan pada murni pertimbangan etika perilaku profesional seorang sejawat," kata Pukovisa saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (3/4).

Pukovisa menolak menjelaskan lebih lanjut tentang pelanggaran profesi apa yang telah dilakukan Terawan sehingga diberikan sanki pemecatan sementara. Menurut dia, hal tersebut merupakan materi persidangan yang dilakukan MKEK.

"Pertanyaan masuk dalam materi persidangan. Jadi mohon maaf tidak bisa dijawab karena saya terikat etika menjaga kerahasiaan jabatan di MKEK," kata dia.

Pukovisa belum mengetahui kapan sanksi itu mulai berlaku. Dia menyerahkan tindak lanjut keputusan itu kepada kepengurusan PB IDI, kepengurusan IDI wilayah, kepengurusan IDI cabang, dan Perhimpunan Dokter Spesialis terkait, yakni Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Indonesia (PDSRI).

"MKEK domainnya membuat keputusan saja sama kaya peradilan kita. Untuk eksekusi ada lembaga-lembaga eksekutif yang diberi tanggung jawab untuk itu," kata dia. (kid)

Mengetahui terapi cuci otak yang dilakukan Dokter Terawan untuk sembuhkan stroke

Rabu, 4 April 2018 11:37 Reporter : Febrianti Diah Kusumaningrum
Ilustrasi cerebral angiography. iStockphoto
Merdeka.com - Nama Dokter Terawan Agus Putranto menjadi viral berkaitan dengan kasus pemecatan dirinya dari Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (MKEK PB IDI). MKEK PB IDI menilai bahwa Dokter Terawan telah melanggar kode etik berkaitan dengan terapi cuci otak (brain washing) yang ia lakukan untuk mengobati stroke.

Lalu, apa yang dimaksud dengan terapi cuci otak (Brain Washing) yang diterapkan oleh Dokter Terawan?
Terapi cuci otak ini pada dasarnya adalah metode diagnostik Digital Substraction Angiography (DSA), yang dalam bidang neurologi (ilmu saraf) dikenal dengan istilah cerebral angiography (CA).
Mengutip Healthline, cerebral angiography adalah tes diagnosis yang dilakukan menggunakan X-ray. Metode ini akan memproduksi gambar (cerebral angiogram) yang akan membantu dokter menemukan penyumbatan atau ketidaknormalan lain pada pembuluh darah di kepala dan leher.
Penyumbatan dan ketidaknormalan di kepala dan leher bisa berujung jadi stroke atau pendarahan di otak.
Penggunaannya untuk apa?
Perlu diingat, tidak semua orang yang memiliki penyumbatan arteri membutuhkan cerebral angiography (CA). Prosedur ini biasanya dilakukan jika dokter membutuhkan infomasi tambahan untuk menentukan pengobatan. Ini karena, prosedur CA bersifat invasif dan memiliki beberapa risiko.
Namun, CA juga bisa digunakan untuk membantu mengobati beberapa kondisi yang melibatkan pembuluh darah di kepala dan leher. CA biasanya digunakan untuk membantu mendiagnosis:
1. aneurisme
2. arterioclerosis (penyempitan arteri)
3. arteriovenous malformation (hubungan yang abnormal antara pembuluh darah dan arteri)
4. vasculitis, atau inflamasi pada pembuluh darah
5. tumor otak
6. penggumpalan darah
7. robekan pada dinding arteri
CA juga membantu dokter mengetahui penyebab dari beberapa simtom, seperti:
1. stroke
2. sakit kepala parah
3. hilang ingatan
4. bicara belepotan
5. pusing
6. pandangan kabur
7. otot melemah atau mati rasa
8. hilangnya keseimbangan atau koordinasi
Dan penting untuk diingat, prosedur ini bukannya tanpa risiko. Walaupun jarang, CA dapat menimbulkan:
1. stroke (jika kateter melonggarkan plak di dalam pembuluh darah)
2. kerusakan pembuluh darah, termasuk melubangi arteri
3. penyumbatan darah, yang bisa terbentuk di sekitar ujung kateter.
Muncul gerakan #SaveDokterTerawan

Dokter Terawan 2018 Liputan6.com
Sehubungan dengan keberhasilannya dalam menyembuhkan penyakit stroke dari puluhan ribu pasien yang pernah ia tangani, muncullah tagar #SaveDokterTerawan yang diinisiasi oleh Aburizal Bakrie di akun sosial medianya.
Ical, sapaan dari Aburizal menilai bahwa metode cuci otak yang dilakukan oleh Dokter Terawan telah menolong banyak orang. Ical juga menyebutkan bahwa metode Dokter Terawan ini telah mengobati banyak pejabat negara seperti mantan menteri BUMN Dahlan Iskan, mantan wapres Try Sutrisno, hingga mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Sumber: Liputan6.com [feb]