Saat itu Pnom Penh dan Saigon baru saja jatuh ke tangan komunis.
Maka perbincangan kami mengarah kepada strategi bersama melawan komunisme di kawasan Asean.
Hubungan kami yang sudah dekat terpaksa merenggang akibat invasi Indonesia ke Timor Timur.
Ketika kami absen dalam pemungutan suara PBB yang menghasilkan kecaman kepada Indonesia, Suharto marah.
Setahun berlalu tanpa kepastian, sampai 29 November 1976 Suharto melakukan kunjungan tak resmi ke Singapura.
Saya katakan bahwa meskipun kami menerima argumen Timtim adalah
bagian dari Indonesia, kami tak bisa mendukung secara terbuka sebuah
invasi.
Dunia akan menyimpulkan bahwa keamanan kami lemah. Rupanya, Suharto memahami posisi saya.
Suharto adalah laki-laki berkarakter kuat meski tak pandai bicara. Ia tak mengobral janji, tetapi selalu menepati janji.
Kami mengucapkan belasungkawa mendalam ketika Ny. Tien Suharto meninggal, April 1996.
Ketika saya ke Jakarta tahun berikutnya, Suharto tampak mulai bisa mengatasi kesedihan.
Tapi ada sesuatu yang menurut saya berubah; anak-anaknya menjadi lebih dekat.
Perubahan lain terlihat ketika saya bertemu putri-putrinya di pesta pernikahan pangeran di Brunei, 18 Agustus 1996.
Mereka mengenakan perhiasan gemerlap.
Istri saya menyatakan hal itu kepada istri dubes kami di Jakarta, dan dibenarkan.
Semasa hidupnya Ny. Tien melarang anak-anaknya tampil terlalu mencolok, termasuk mengenakan banyak perhiasan.
Tak seorang pun menyadari krisis keuangan Indonesia akan berlangsung begitu cepat.
Presiden Suharto melalui utusannya meminta bantuan kepada Perdana
Menteri Goh Chok Tong untuk memperkuat posisi tawar sebelum bertemu IMF,
akhir Oktober 1997.
Kami sepakat menyiapkan cadangan sampai AS$ 5 miliar, tapi baru bisa
diberikan ketika Indonesia sudah menggunakan sekitar AS$ 20 miliar
pinjaman dari IMF, Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, dan cadangan
devisanya sendiri.
Menyadari begitu cepatnya devaluasi rupiah, pada Natal 1997 saya
mengundang Tutut ke Singapura agar menyampaikan visi saya kepada
ayahnya.
Saya katakan, perekonomian Indonesia akan hancur kalau situasi tak dikendalikan.
Pertama adalah soal kesehatan ayahnya, dan kedua adalah keharusan mengimplementasikan program IMF.
Saya juga menyarankan agar Tutut dan adik-adiknya menarik diri dari pasar dan tidak lagi terlibat dalam proyek-proyek baru.
Tapi Tutut menolak, bahkan membantah bahwa keterlibatan mereka dalam dunia usaha tidak berpengaruh pada perekonomian.
Tiga hari setelah Suharto berpidato tentang APBN yang tidak sesuai
dengan kesepakatan dengan IMF, Siti Hediati Hariyadi Prabowo (Titiek)
menemui saya.
Ia diutus ayahnya untuk minta bantuan kepada kami agar bisa mendapatkan obligasi dalam dolar AS.
Saya bilang, obligasi tak akan banyak membantu jika kepercayaan merosot.
Lantas Titiek meminta bantuan kami agar mencegah spekulasi
perdagangan rupiah, dan kalau bisa mengatur agar dana orang Indonesia
yang diparkir di Singapura dibawa ke Indonesia.
Saya katakan, tak seorang pun bisa mengatur orang lain menaruh uang
di mana karena transaksi masa kini hanya dengan memencet tombol
komputer.
Suharto masih bertahan. Tapi kerusuhan belanjut. Penembakan mahasiswa, penjarahan, pembakaran, dan pemerkosaan.
Pemahaman umum menyimpulkan itu perbuatan orang-orang Letjen.
Prabowo, menantu Suharto yang menjabat Pangkostrad, untuk menunjukkan bahwa Panglima ABRI Wiranto tidak mampu mengatasi keadaan.
Harapannya, Suharto akan memberikan kedudukan Wiranto kepada Prabowo.
Tapi apa lacur, sekembali dari Kairo, 15 Mei, Suharto sendiri yang kehilangan kedudukan.
Saya bertemu Prabowo dua kali, tahun 1996 dan 1997. Ia cekatan, cerdas, namun omongannya sering keterlaluan.
Pada 7 Februari 1998 ia mengunjungi saya dan Goh secara terpisah di Singapura.
Tanpa sebab yang jelas ia bicara tentang etnis Cina di Indonesia
yang, sebagai minoritas, adalah sasaran empuk kalau ada kerusuhan.
Saya dan Goh tak paham apa maksud Prabowo berbicara tentang hal itu tanpa sebab.
Prabowo yang gegabah dan tentang 'Orang tua yang tak akan bertahan sampai sembilan bulan, mungkin meninggal'
Pada 9 Mei 1998 saya bertemu Laksamana William Owens yang baru pensiun dari kantor Kepala Staf Gabungan AS.
Ia bercerita, sehari sebelumnya bertemu Prabowo di Jakarta.
Dengan ceplas-ceplos Pangkostrad itu bicara tentang "Orang tua yang tak akan bertahan sampai sembilan bulan, mungkin meninggal."
Dalam suasana riang menyambut kenaikan pangkatnya, secara berkelakar Prabowo bilang, bisa saja dia melakukan percobaan kudeta.
Owens heran, meski keduanya telah dua tahun berteman, ia tetap orang asing.
Komentar saya, Prabowo tak cuma ceplas-ceplos, tetapi juga gegabah.
Saya sedih menyaksikan di televisi akhir tragedi pada pukul 09.00
tanggal 21 Mei 1998, saat Suharto menyatakan pengunduran diri dan
menyerahkan kepemimpinan kepada B.J. Habibie.
Ia kehilangan segala pembelaan.
Setidaknya sampai 48 jam sebelum mundur ia masih yakin, karena dunia
tak menghendaki Habibie jadi presiden, maka tak ada satu pun kekuatan
yang menginginkan ia berhenti di tengah jalan.
Sungguh sebuah kenyataan pahit.
Tokoh yang mengangkat Indonesia menjadi macan ekonomi yang baru
bangun, yang mendidik bangsa dan membangun prasarana bagi masa depan,
terjungkal oleh ketidakmampuannya mengendalikan diri.
Ia membiarkan ketidakadilan berkembang, dan pada saat kritis salah memilih orang dalam posisi penting.
Padahal selama 30 tahun ia menunjukkan kualitas tinggi dalam menilai situasi dan memilih orang-orangnya.
Habibie yang jadi presiden karena faktor kebetulan
Sekarang tentang Habibie. Meski jadi presiden karena faktor
kebetulan, Habibie merasa takdir dirinyalah ia harus memimpin Indonesia.
Kami cukup lama mengenal dia, bekerja sama ketika ia mengelola Batam.
Dia tak menyukai etnis Cina di Indonesia, dan pada skala besar juga
tak menyukai Singapura karena mayoritas warganya keturunan Cina.
Berbeda dengan Suharto yang menganggap kami sama tinggi, Habibie menganggap Indonesia adalah saudara besar Singapura.
"Dalam peta, satu titik kecil berwarna merah tak sebanding dengan
bentangan warna hijau yang sangat luas," katanya dalam wawancara
dengan Asian Wall Street Journal 4 Agustus 1998.
Keputusannya menawarkan opsi otonomi atau kemerdekaan kepada Timtim
saya dengar karena dipicu oleh surat P.M. Australia John Howard mengenai
perlunya referendum bagi masa depan rakyat Timtim.
Melihat begitu gegabahnya langkah itu diambil, saya meminta pendapat
Stanley Roth, asisten Menlu AS urusan Asia Timur dan Pasifik.
Dengan ekspresi datar Roth bilang, "Seorang perdana menteri mestinya
tidak begitu saja mengirimkan surat, terutama kepada presiden seperti
Habibie."
Para penasihat Habibie yakin, kebijakan itu akan mendatangkan dukungan keuangan dari IMF dan Bank Dunia.
Di Eropa dan Amerika Habibie akan dicitrakan sebagai seorang demokrat
sekaligus reformis. Dengan demikian ia punya peluang untuk dipilih
lagi.
Saat pertemuan APEC di Auckland Agustus 1999, Ginandjar bercerita
kepada P.M. Goh tentang kesalahan pemerintahnya mempersenjatai milisia
di Timtim.
Maksudnya semula untuk mengintimidasi agar rakyat Timtim tak memilih kemerdekaan.
Tapi kenyataannya, prokemerdekaan meraih kemenangan telak, 80%. Timtim pun porak poranda.
Yang didapat Habibie bukannya nama baik, melainkan citra rusak
sebagai seorang nasionalis. Citra pemerintah dan militer Indonesia pun
tercoreng.
Ketika Pemilu Juni 1999 partai yang menjagokannya, Golkar, kalah, ia perlu uang untuk menjamin kelangsungan jabatannya.
Beberapa orang yang tahu banyak soal permainan politik Indonesia
bercerita kepada saya, di masa-masa sebelumnya belum pernah terjadi
begitu banyak uang dibagikan kepada begitu banyak anggota MPR dalam
waktu begitu singkat.
Apa mau dikata, pada 20 Oktober 1999 pertanggungjawaban Habibie ditolak. Ia pun menyerah.
Gus Dur pernah meminta saya menjadi penasihat Indonesia
Saya bertemu
Gus Dur di Jakarta pada 1997 dalam sebuah pertemuan pribadi.
Dia seorang pembicara yang bagus, lancar berbahasa Inggris, fasih
dalam bahasa dan tulisan Arab, juga punya kecerdasan sangat tinggi.
Ketika
Gus Dur ke Singapura saya menemuinya, dan ia meminta saya duduk dalam lembaga penasihat untuk pemulihan ekonomi Indonesia.
Sebuah kehormatan yang tak bisa saya tolak.
Gus Dur berbicara tentang standar moral dan pemerintahan yang bersih.
Saya jelaskan, jika ia menghendaki menterinya jujur, mereka harus
digaji tinggi supaya bisa hidup sesuai kedudukan tanpa harus korupsi.
Gus Dur meminta P.M. Goh dan saya untuk menerima Wapres Megawati, dan membantunya menggali pengalaman sebanyak-banyaknya.
Gus Dur yakin bisa membawa Indonesia menuju keadaan yang lebih baik, dalam suasana perubahan dan keterbukaan.
Agus Surono
Berita ini sudah terbit di intisasi.grid.id berjudul: Lee Kuan Yew:
Prabowo Pernah Berkelakar bahwa Dirinya Bisa Saja Melakukan Kudeta